Fokus Pelakita | Mengapa Bupati Wajo Tampak Emosional di As’adiyah Bersalawat?

  • Whatsapp
Festival Danau Tempe, branding wisata di Kabupaten Wajo (dok: Pemkab Wajo)

Makna Mendalam di Balik Air Mata Seorang Pemimpin

PELAKITA.ID – Dalam rangkaian Musabaqah Qiraatil Kutub Internasional (MQKI) 2025, kegiatan “As’adiyah Bersalawat” yang digelar di Lapangan Merdeka Sengkang meninggalkan kesan mendalam bagi ribuan jamaah. Namun di antara lautan manusia yang larut dalam lantunan salawat, perhatian publik tertuju pada satu sosok: Bupati Wajo, Andi Rosman.

Dalam suasana yang syahdu itu, sang Bupati tampak menahan haru, meneteskan air mata, terutama ketika menyebut nama Nabi Muhammad SAW.

Momen ini mengundang banyak pertanyaan. Mengapa seorang kepala daerah, yang biasanya tampil tegar dan penuh kontrol, tampak begitu emosional? Apa makna yang ia rasakan? Dan apa pesan yang sebenarnya ingin ia sampaikan kepada masyarakat Wajo melalui tangis yang jujur itu?

Air Mata yang Mengandung Makna Spiritual

Bagi Andi Rosman, As’adiyah Bersalawat bukan sekadar agenda seremonial dalam rangkaian MQKI. Kegiatan ini baginya adalah ruang spiritual yang sangat personal, yang menyentuh akar kehidupannya sebagai seorang muslim sekaligus seorang pemimpin. Ketika ribuan suara bersatu melantunkan puji-pujian kepada Rasulullah, suasana berubah menjadi lautan energi keimanan yang sulit digambarkan dengan kata-kata.

Di tengah getaran spiritual itu, menyebut nama Nabi bukan sekadar ritual, tetapi sebuah bentuk penghormatan terdalam.

Bagi Rosman, Rasulullah adalah sumber teladan moral: kesabaran, keberanian, ketegasan, dan kasih sayang—seluruhnya adalah nilai yang ia upayakan hadir dalam kepemimpinannya. Tangisnya menunjukkan bahwa ia tidak hanya memahami nilai itu secara intelektual, tetapi merasakannya sungguh-sungguh.

Dalam banyak kesempatan, Andi Rosman menegaskan bahwa pembangunan Wajo tidak hanya bertumpu pada infrastruktur, teknologi, atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada keteguhan nilai.

Kegiatan keagamaan seperti As’adiyah Bersalawat baginya merupakan fondasi penting untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan fisik dan pembangunan batin.

Ketika ia menitikkan air mata, publik menyaksikan sisi lain dari kepemimpinan: ketulusan. Air mata itu bukan tanda kelemahan, tetapi refleksi kedalaman jiwa seorang pemimpin yang memikul amanah besar.

Di tengah tekanan politik, tuntutan masyarakat, dan ritme kerja yang intens, momen-momen spiritual seperti ini menjadi tempat ia kembali, tempat ia menata hati, dan memperbaharui energi moralnya.

As’adiyah dan Jejak Emosional Seorang Putra Wajo

Andi Rosman bukan orang yang asing bagi tradisi As’adiyah. Ia tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan nilai-nilai keagamaan dan pendidikan pesantren. As’adiyah, yang selama lebih dari seabad menjadi pusat keilmuan Islam di Wajo, memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan hidup dan batinnya. Kegiatan As’adiyah Bersalawat bukan hanya acara formal; itu seperti pulang ke rumah.

Maka ketika ribuan santri, ulama, dan masyarakat menyatukan suara dalam lantunan salawat, suasana itu menyentuh lapisan terdalam dari memori dan keyakinannya.

Air mata yang tumpah menjadi simbol keakraban antara seorang bupati dan tanah kelahirannya, antara seorang pemimpin dan sumber nilai yang membentuknya.

Pesan Moral untuk Masyarakat Wajo

Tangis di hadapan publik sering kali menjadi simbol transformasi. Dalam konteks As’adiyah Bersalawat, air mata Bupati Andi Rosman membawa pesan yang kuat kepada masyarakat Wajo.

Pertama, ia ingin menegaskan bahwa kepemimpinan tetap berakar pada nilai spiritual. Bahwa di tengah dinamika pembangunan, masyarakat tidak boleh kehilangan jati diri, tradisi, dan kecintaan kepada Rasulullah.

Kedua, ia ingin mengingatkan bahwa geliat pembangunan Wajo harus dilandasi integritas dan kejujuran. Masyarakat melihat bahwa pemimpin mereka tidak hanya berbicara soal program, anggaran, dan target, tetapi juga tentang hati dan nilai.

Ketiga, ia ingin mengajak seluruh masyarakat Wajo menjadikan keimanan sebagai sumber energi sosial. As’adiyah Bersalawat menunjukkan bahwa ketika masyarakat berkumpul untuk tujuan spiritual, lahir harmoni, solidaritas, dan kekuatan bersama.

Momen Emosional yang Menyatu dengan Agenda Besar MQKI

Kegiatan As’adiyah Bersalawat bukan berdiri sendiri, tetapi bagian dari rangkaian besar MQKI yang mendatangkan ulama, santri, dan peserta dari berbagai penjuru Indonesia bahkan mancanegara.

Dalam konteks ini, momen haru sang Bupati juga memperlihatkan bagaimana Wajo benar-benar siap menjadi tuan rumah yang bukan hanya menyuguhkan fasilitas dan agenda, tetapi juga kedalaman tradisi dan spiritualitasnya.

Wajo bukan hanya tempat berlangsungnya lomba kitab kuning—tetapi tanah yang hidup dengan nilai-nilai Islam yang hangat, ramah, dan penuh cinta.

Air Mata Seorang Pemimpin

Apa makna air mata itu bagi Andi Rosman? Bagi dirinya sendiri, itu adalah bentuk syukur, ungkapan cinta kepada Rasulullah, dan peringatan pada dirinya untuk tetap rendah hati dalam memimpin.

Bagi masyarakat, air mata itu menjadi cermin bahwa pemimpin mereka adalah manusia yang merasakan, mencintai, dan dekat dengan nilai-nilai yang diyakini bersama.

Di tengah langit malam yang dipenuhi lantunan salawat, air mata itu jatuh sebagai penanda bahwa pembangunan Wajo tidak hanya ditopang oleh anggaran dan strategi, tetapi juga oleh hati seorang pemimpin yang bersujud dalam kesungguhan iman.

Dan mungkin di situlah kekuatan paling sejati dari As’adiyah Bersalawat tahun ini.

Penulis: Kamaruddin Azis/Founder Pelakita.ID