PELAKITA.ID – Penyelenggaraan Musabaqah Qiraatil Kutub Internasional (MQKI) / MQK Nasional pada 2 Oktober 2025 menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan keagamaan dan kebudayaan Kabupaten Wajo.
Bertempat di Pondok Pesantren As’adiyah Macanang, Kecamatan Majauleng, kegiatan ini menghadirkan ribuan santri, tokoh ulama, dan peserta dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara.
Kehadiran Bupati Wajo, Andi Rosman, dalam pembukaan acara menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat tradisi keilmuan Islam yang telah lama menjadi identitas kuat masyarakat Wajo.
Acara ini memperoleh perhatian besar, bukan hanya dari masyarakat dan komunitas pesantren, tetapi juga dari pemerintah provinsi.
Pada kesempatan tersebut, Gubernur Sulawesi Selatan menyerahkan bantuan senilai Rp 5 miliar kepada Pemerintah Kabupaten Wajo.
Bantuan ini diarahkan untuk mendukung penyelenggaraan MQK serta memperkuat pembangunan daerah, khususnya sektor-sektor yang terkait dengan pendidikan dan pembinaan keagamaan.
Langkah tersebut menjadi sinyal bahwa Wajo memiliki posisi penting dalam peta pendidikan keagamaan di Sulawesi Selatan dan Indonesia.
Bupati Andi Rosman dalam sambutannya menegaskan bahwa MQKI bukan sekadar kompetisi membaca dan memahami kitab kuning, tetapi merupakan momentum strategis untuk memperkuat citra keagamaan Kabupaten Wajo.
Tradisi intelektual pesantren, khususnya melalui As’adiyah, telah menjadi kekuatan sosial-religius yang menopang identitas masyarakat selama puluhan tahun. Kehadiran peserta dari luar negeri semakin menegaskan posisi Wajo sebagai pusat rujukan pendidikan Islam tradisional.
Menurut Andi Rosman, kegiatan berskala internasional ini membuka peluang yang lebih besar bagi Wajo untuk memperluas jejaring pendidikan, pertukaran pengetahuan, serta kerja sama keagamaan lintas negara.
Dengan hadirnya peserta mancanegara, Wajo bukan hanya menjadi tuan rumah, tetapi juga menjadi titik pertemuan budaya, pemikiran, dan tradisi Islam Nusantara dengan dunia internasional. Hal ini memberikan nilai tambah yang signifikan bagi promosi daerah, baik dalam aspek intelektual, sosial, maupun pariwisata religi.
Di sisi lain, MQKI juga menghidupkan kembali dinamika sosial-ekonomi masyarakat di sekitar lokasi kegiatan. Kehadiran ribuan peserta dan pengunjung berdampak langsung pada peningkatan aktivitas ekonomi kecil, seperti kuliner, penginapan, transportasi, dan usaha mikro lainnya.
Dengan demikian, kegiatan keagamaan ini tidak hanya memperkuat spiritualitas dan intelektual, tetapi juga memberikan efek berganda bagi perekonomian lokal.
Bagi Andi Rosman, komitmen terhadap kegiatan seperti MQKI merupakan bagian dari strategi besar pembangunan Wajo yang tidak hanya berfokus pada infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga pembangunan manusia dan budaya.
Ia melihat bahwa kemajuan daerah harus ditopang oleh masyarakat yang memiliki integritas, kapasitas intelektual, serta kedalaman nilai-nilai moral dan keagamaan. Oleh karena itu, kegiatan seperti MQKI dianggap sebagai ruang penting untuk memperkokoh kualitas sumber daya manusia berbasis nilai keagamaan.
Melalui kehadiran dan dukungan penuh terhadap MQKI, Bupati Andi Rosman menegaskan bahwa pemerintah daerah melihat pendidikan Islam sebagai salah satu pilar utama pembangunan Wajo.
Penguatan ekosistem pesantren, peningkatan fasilitas pendidikan, dan pembukaan ruang kolaborasi internasional adalah bagian dari visi besar untuk menjadikan Wajo sebagai pusat pendidikan dan peradaban yang maju, inklusif, dan berakar kuat pada nilai-nilai keagamaan.
MQKI 2025 menjadi bukti bahwa Wajo bukan hanya menjalankan tradisi keagamaan, tetapi juga mengembangkan dan memperluasnya dalam konteks yang lebih modern dan global.
Dengan dukungan pemerintah daerah dan antusiasme masyarakat, kegiatan ini tidak hanya menjadi kebanggaan lokal, tetapi juga menjadi jembatan Wajo menuju panggung internasional.
