Pengelolaan Sumber Daya Alam Kabupaten Wajo, Bupati Andi Rosman: Kita Harus Kerja Keras

  • Whatsapp
Andi Romsna dan dr Baso Rakhamnuddin (dok: istimewa)

PELAKITA.ID – Dalam Forum Konsultasi Publik RPJMD (2025–2029) pada acara pembukaan Forum Konsultasi Publik Rancangan Awal RPJMD Kabupaten Wajo (25 Maret 2025), Bupati Andi Rosman menyatakan bahwa enam bulan sejak pelantikannya semua pihak harus bekerja keras.

“Kita harus bekerja keras untuk menyelesaikan dokumen perencanaan ini dengan cermat … RPJMD ini akan menjadi acuan utama dalam pelaksanaan pembangunan di Kabupaten Wajo,” ucap Bupati Andi Rosman.

Dia juga menekankan bahwa penyusunan perencanaan harus “berbasis pada potensi dan permasalahan daerah, serta menjadi komitmen tertulis sebagai pemerintah daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan dengan sebaik-baiknya.

Selain itu, Andi Rosman mengajak masyarakat dan stakeholder. “Saya berharap dokumen RPJMD ini … dapat dijadikan acuan bersama bagi seluruh pihak … masukan dan saran dari hadirin sekalian sangat kami nantikan … Kolaborasi, diskusi dan partisipasi aktif … adalah kunci untuk mewujudkan Wajo yang lebih baik.”

Tentang Potensi Daerah

Kabupaten Wajo merupakan salah satu daerah strategis di Provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki kekayaan sumber daya alam cukup beragam dan menjadi fondasi penting bagi pembangunan ekonomi daerah.

Keberadaan potensi alam yang meliputi pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, hingga energi dan pertambangan memberikan peluang signifikan untuk memperkuat struktur ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dengan pengelolaan yang tepat, Kabupaten Wajo berpotensi berkembang sebagai pusat agribisnis dan ekonomi berbasis sumber daya alam yang berkelanjutan.

Sektor Pertanian: Penopang Utama Perekonomian

Pertanian menjadi sektor dominan yang menggerakkan perekonomian Kabupaten Wajo. Daerah ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di Sulawesi Selatan, khususnya dalam produksi padi.

Lahan sawah yang luas dan subur tersebar di Kecamatan Tanasitolo, Tempe, Majauleng, Belawa, serta beberapa wilayah lain yang secara konsisten memberikan kontribusi signifikan terhadap produksi beras provinsi.

Sistem irigasi yang relatif baik—termasuk aliran dari Waduk Kalola dan jaringan persawahan teknis—menjadi faktor pendukung keberlanjutan produksi padi sepanjang tahun.

Selain padi, Wajo memiliki potensi pertanian lainnya seperti jagung, kedelai, kacang tanah, dan beragam komoditas hortikultura.

Budidaya sayur dan buah-buahan, termasuk tomat, cabai, semangka, dan melon, memberikan tambahan sumber pendapatan bagi petani dan memperluas basis agribisnis daerah.

Pada sektor perkebunan, komoditas kelapa, kakao, dan kopi menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat pedesaan yang apabila ditingkatkan melalui inovasi teknologi, pembenahan rantai pasok, serta akses pasar yang lebih terbuka, dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar.

Sumber Daya Perikanan: Kontribusi Danau Tempe sebagai Ekosistem Produktif

Danau Tempe merupakan aset ekologis sekaligus ekonomi yang memiliki peran sangat penting bagi masyarakat Kabupaten Wajo.

Danau ini merupakan salah satu sumber perikanan air tawar terbesar di Sulawesi Selatan, menghasilkan berbagai jenis ikan konsumsi seperti nila, mujair, dan ikan mas. Aktivitas perikanan tangkap menjadi mata pencaharian utama bagi komunitas pesisir danau, terutama nelayan yang tinggal di rumah-rumah terapung yang menjadi ciri khas budaya setempat.

Potensi budidaya ikan air tawar melalui keramba jaring apung semakin berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Optimalisasi sektor ini melalui penerapan teknologi budidaya, pengelolaan pakan, dan peningkatan infrastruktur penunjang, dapat meningkatkan produktivitas dan mendukung keberlanjutan ekosistem danau.

Selain itu, Danau Tempe juga memiliki potensi wisata alam dan budaya yang dapat dikembangkan secara terpadu untuk meningkatkan ekonomi lokal.

Sektor Peternakan: Sumber Pertumbuhan Agribisnis

Peternakan merupakan sektor yang memiliki andil besar dalam struktur ekonomi Kabupaten Wajo. Produksi sapi, kerbau, kambing, dan berbagai jenis unggas terus meningkat seiring dengan tingginya minat masyarakat dalam usaha ternak.

Tradisi beternak yang telah berlangsung lama, ditunjang oleh kondisi lahan penggembalaan yang memadai, memberikan peluang bagi pengembangan agribisnis peternakan yang lebih modern.

Upaya peningkatan kualitas bibit, kesehatan ternak, dan pengelolaan pakan menjadi langkah strategis yang dapat memperkuat posisi Wajo sebagai sentra peternakan regional.

Industri Sutra: Sinergi Budaya dan Ekonomi

Kabupaten Wajo dikenal luas sebagai pusat industri persutraan di Sulawesi Selatan. Budidaya murbei sebagai pakan ulat sutra dan aktivitas pemintalan serta penenunan kain sutra telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat, terutama di wilayah Sengkang dan sekitarnya.

Industri ini bukan hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi identitas budaya masyarakat Bugis yang harus dijaga.

Penguatan kapasitas perajin, modernisasi alat tenun, serta diversifikasi produk berbasis sutra akan mampu meningkatkan daya saing dan memperluas pasar hingga ke tingkat nasional dan internasional.

Energi dan Pertambangan: Potensi yang Memerlukan Pengelolaan Berkelanjutan

Selain sektor agraris, Kabupaten Wajo memiliki potensi sumber daya energi dan mineral, termasuk potensi panas bumi (geothermal) dan beberapa jenis bahan tambang.

Jika dikelola dengan prinsip kehati-hatian dan berorientasi pada keberlanjutan, sektor ini dapat menjadi sumber pendapatan daerah yang baru. Namun demikian, pengembangan sektor energi dan tambang memerlukan kajian mendalam terkait dampak lingkungan serta manfaat sosial-ekonomi bagi masyarakat lokal agar pengelolaannya tidak menimbulkan kerentanan ekologis.

Kesimpulan: Strategi Penguatan Ekonomi Daerah

Keberagaman sumber daya alam yang dimiliki Kabupaten Wajo merupakan modal dasar untuk memperkuat struktur ekonomi daerah. Akan tetapi, pemanfaatan potensi tersebut memerlukan strategi yang komprehensif, meliputi peningkatan kapasitas sumber daya manusia, adopsi teknologi, penguatan infrastruktur, serta sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat. Melalui pengelolaan yang terencana dan berkelanjutan,

Wajo dapat memaksimalkan potensi alamnya sebagai pilar utama pembangunan dan mencapai kemajuan ekonomi yang inklusif dan berdaya saing tinggi.