Humaniora | Laut, Perahu, dan Jejak Komunitas Bajo

  • Whatsapp
Warga Pulau Rajuni, 2012 (dok: K. Azis)

Dalam istilah sosiologi, kita diajar satu narasi dominan, sementara suara minoritas maritim tersisihkan—suara yang hidup dari laut dan perahu, dari gelombang dan angin.

PELAKITA.ID – Angin pagi membawa aroma asin laut ketika aku pertama kali mendengar cerita Turije’ne dari nenek di kampung kelahiran.

Setiap kata yang mengalir dari lidahnya seperti gelombang yang menelusuri tepi pulau—mengisahkan perjalanan jauh dari Luwu hingga pulau-pulau selatan, tentang orang-orang yang hidup di air, tu rije’ne.

Mereka adalah orang Bajo, pelaut tangguh yang menantang samudra dengan perahu kecil, mitra setia para raja Gowa.

Sejak kecil, aku dibesarkan dengan buku-buku yang menulis: “Suku utama Sulawesi Selatan adalah Bugis, Makassar, Mandar, Toraja.” Sementara kisah suku lain, seperti Kajang, Tobalo, Tolotang-towani, bahkan komunitas Bajo, nyaris tak terdengar.

Dalam istilah sosiologi, kita diajar satu narasi dominan, sementara suara minoritas maritim tersisihkan—suara yang hidup dari laut dan perahu, dari gelombang dan angin.

Perahu Bajo bergerak lincah, kadang seolah menari di atas laut. Aku masih ingat tahun 1994, saat tim survei kelautan kami berlayar dari Makassar ke Spermonde, Sulawesi Tengah, hingga Gorontalo.

Di pelabuhan Kwandang, anak-anak perenang muncul dari laut, berenang di sisi lambung kapal KM Kambuno, mengais koin yang dilempar penumpang.

Mereka bukan sekadar pencari nafkah; mereka adalah simbol adaptasi dan resiliensi, contoh nyata bagaimana manusia menyesuaikan diri dengan lingkungan ekstrem.

Delapan belas tahun kemudian, dari jendela pesawat yang melintasi Gorontalo, Wakatobi, Bau-Bau, dan Teluk Bone, lekuk pantai, bukit, dan sungai menampakkan jaringan kehidupan manusia dan laut yang tak terputus.

Aku melihat rumah-rumah panggung, perahu-perahu kecil, dan gerombolan anak Bajo yang berenang di teluk. Perjalanan intens ke Selayar, Rajuni Kecil dan Besar, Tarupa, Pasitallu Tengah, Taka Bonerate, Soropia, hingga Torosiaje, memberi pengalaman langsung akan ritual, permainan, perburuan ikan, dan interaksi sosial yang membentuk identitas mereka.

Komunitas Bajo, atau Bajau-Sama, bukan hanya ada di Sulawesi. Di Semporna, Malaysia, Bajau Laut hidup di rumah apung di atas karang.

Di Mindanao, Filipina, mereka menyesuaikan jadwal hidup dengan gelombang pasang surut. Setiap perahu, setiap pola migrasi, adalah simbol sosial, ekonomi, dan budaya yang hidup. Seperti ditulis Sather (1997), laut adalah sekolah, pasar, dan rumah bagi Bajau-Sama.

Dari perspektif pembangunan, keberadaan mereka adalah pelajaran tentang community-based coastal development. Mereka mengajarkan bahwa identitas budaya dan konservasi lingkungan harus berjalan beriringan.

Setiap rumah panggung, setiap perahu, setiap tradisi tangkap ikan adalah modal sosial-ekologis yang memastikan keberlanjutan hidup pesisir. Modernisasi tanpa pengakuan ini berisiko meminggirkan mereka dan merusak keseimbangan antara manusia dan laut.

Turije’ne bukan sekadar legenda. Ia adalah suara laut yang menuntun kita memahami resiliensi, solidaritas, dan keseimbangan manusia dengan alam.

Di kampung-kampung pesisir Sulawesi, di perairan Bau-Bau, Selayar, Taka Bonerate, atau Torosiaje, mereka menunjukkan bahwa laut adalah rumah, perahu adalah identitas, dan komunitas adalah kekuatan.

Dan aku bertanya, di kampung manakah Turije’ne sesungguhnya bermukim hari ini?

Mereka hidup di perahu, di laut, di tepian pulau—dan sekaligus di dalam ingatan kita, sebagai pengingat bahwa identitas, budaya, dan ekologi pesisir adalah warisan yang tak ternilai.

Laut, perahu, dan manusia saling berpaut, dan kisah mereka adalah kisah Sulawesi yang hidup di setiap gelombang.

___
Tamarunang, 21 September 2025