Kisah mereka menantang pandangan sederhana tentang migrasi sebagai pergerakan satu arah, dan menunjukkan negosiasi dinamis antara mobilitas, mata pencaharian, dan pembentukan tempat tinggal.
PELAKITA.ID – Sembilan tahun yang lalu, pada bulan November, penulis mengunjungi Pulau Rote, pulau paling selatan Indonesia yang berbatasan dengan Australia.
Di sana, mengamati kehidupan sehari-hari penduduk di sebuah desa yang dihuni tidak kurang dari 100 kepala keluarga, sebagian besar merupakan keturunan orang Mola dari Desa Mola di Pulau Wangi-wangi, Wakatobi.
Yang menarik perhatian bukan hanya kehadiran mereka di Rote, tetapi sejarah panjang mobilitas dan adaptasi yang membawa mereka ke sana—sebuah cerita yang sangat relevan dengan teori migrasi manusia dan permukiman.
Awalnya, orang Mola adalah perantau yang mengandalkan hasil laut, khususnya teripang, hiu, dan spesies laut bernilai ekonomi lainnya di perairan perbatasan Indonesia-Australia.
Selama beberapa dekade, mereka menjalani pola migrasi musiman, berhenti selama beberapa bulan di ujung timur Rote sebelum kembali ke Wakatobi.
Waktu berjalan, pola ini perlahan berubah: pihak berwenang setempat memberi izin bagi mereka untuk tinggal lebih lama, sementara beberapa anggota komunitas mulai menetap secara semi-permanen.
Saat ini, beberapa kembali ke Wakatobi setiap tahun, sementara yang lain tetap di Rote selama bertahun-tahun, menciptakan gaya hidup hibrida antara mobilitas dan keterikatan tempat.

Trajektori sejarah ini sangat selaras dengan teori migrasi, khususnya konsep faktor pendorong dan penarik (push and pull factors).
Peluang ekonomi—kelimpahan sumber daya laut di Rote—berfungsi sebagai faktor penarik yang kuat. Sebaliknya, keterbatasan lingkungan atau tekanan sosial di Wakatobi menjadi faktor pendorong, mendorong perpindahan sementara.
Seiring waktu, jaringan sosial yang terbentuk dari pergerakan musiman ini memperkuat integrasi orang Mola di Rote, mencerminkan konsep chain migration, di mana migran awal memfasilitasi kedatangan migran berikutnya.
Dari perspektif teori urbanisasi, meskipun Rote bukan pusat perkotaan dalam pengertian tradisional, permukiman orang Mola menggambarkan tahap awal transformasi sosial-spasial.
Desa tempat mereka tinggal telah berkembang dan menyesuaikan infrastruktur untuk menampung populasi yang awalnya bersifat sementara.
Hal ini mencerminkan proses transisi pedesaan-ke-perkotaan, di mana mobilitas perlahan mengubah pemukiman sementara menjadi komunitas semi-permanen.
Pengalaman ini juga menunjukkan bagaimana aktivitas ekonomi—dalam hal ini, penangkapan dan pemanenan hasil laut—dapat memicu permukiman dan memengaruhi pola penggunaan lahan, menciptakan titik-titik pemukiman bahkan di daerah pesisir yang terpencil.
Selain itu, pengalaman orang Mola menekankan interaksi antara mobilitas dan adaptasi.
Berbeda dengan migrasi pedesaan-ke-perkotaan klasik, pergerakan mereka bersifat siklikal dan terkait dengan ketersediaan sumber daya alam, yang merupakan contoh dari migrasi sirkuler. Namun, permukiman semi-permanen di Rote menunjukkan bahwa peluang lingkungan, ditambah izin sosial dan administratif, dapat membuat populasi nomaden secara bertahap menetap.
Kisah mereka menantang pandangan sederhana tentang migrasi sebagai pergerakan satu arah, dan menunjukkan negosiasi dinamis antara mobilitas, mata pencaharian, dan pembentukan tempat tinggal.

Akhirnya, trajektori orang Mola mengingatkan kita pada implikasi yang lebih luas dari permukiman manusia di wilayah pinggiran. Migrasi dan urbanisasi tidak terbatas pada kota; keduanya terjadi di mana pun peluang ekonomi bertemu dengan jaringan sosial dan kondisi lingkungan.
Di Rote, sebuah tempat perhentian penangkapan ikan yang dulunya bersifat sementara telah berkembang menjadi desa hibrida budaya yang menggabungkan tradisi dan adaptasi, mencerminkan pola global di mana migrasi membentuk lanskap, masyarakat, dan ekonomi lokal.
Kesimpulannya, orang Mola di Rote mencontohkan pertemuan antara teori migrasi dan proses urbanisasi.
Perjalanan mereka—dari perantau penangkap hasil laut menjadi pemukim semi-permanen—mencerminkan bagaimana peluang ekonomi, jaringan sosial, dan kondisi lingkungan mendorong perpindahan manusia.
Pada saat yang sama, hal ini menunjukkan bagaimana mobilitas dapat memicu permukiman, bahkan di zona pesisir terpencil, menjadi pusat aktivitas sosial-ekonomi.
Memahami pengalaman mereka memberikan wawasan penting tentang cara komunitas manusia menyesuaikan diri dengan dan membentuk lingkungannya, serta mengingatkan bahwa migrasi dan urbanisasi adalah proses yang saling terkait, bahkan jauh dari pusat perkotaan.
___
Penulis Kamaruddin Azis (Founder Pelakita.ID)









