Jalesveva Jaya Mahe | Hadapi dengan Antisipasi dan Adaptasi

  • Whatsapp
Ilustrasi Pelakita.ID

PELAKITA.ID – Sejak masih belia, sekitar tahun 1970-an, saya sudah akrab dengan istilah ini: Jalesveva JayamaheDi Laut Kita Jaya. Itu karena rumah kami di Kota Baru, Ternate, berdekatan dengan Markas Angkatan Laut.

Semboyan Angkatan Laut ini konon diwariskan dari kejayaan bahari pada masa Majapahit. Gema kata-kata itu memicu semangat para prajurit laut kala itu, dan diharapkan pula menginspirasi generasi angkatan laut Indonesia masa kini.

Beberapa hari lalu, saya melihat sebuah gambar di grup WhatsApp Penulis Maluku Utara: para pemancing ikan cakalang di atas kapal, memegang alat pancing khas Maluku Utara yang dikenal dengan nama huhate.

Seketika memori saya terlempar ke masa silam. Maka artikel ini saya tulis untuk merawat ingatan, semoga ada manfaatnya.

Kenangan di Laut Cakalang

Once upon a time in Ternate. Saya lupa tepatnya, apakah masih SMP Islam atau sudah SMA Negeri 1 Ternate, ketika saya berkesempatan ikut berlayar dengan kapal ikan.

Tengah malam kami bertolak dari Ternate menuju Halmahera. Subuh hari, kami mengambil umpan di guraping sebelum berburu cakalang di laut lepas. Rombongan ikan cakalang biasanya bisa dilacak dengan bantuan burung elang putih. Satu-satunya alat “canggih” kala itu hanyalah teropong.

Subhanallah, indah sekali menyaksikan para pemancing handal beraksi. Sekali sentakan huhate, seekor cakalang melayang di udara lalu jatuh ke badan kapal. Mereka duduk berhimpitan, namun jarang sekali tali pancing mereka bertabrakan.

Benar-benar keahlian yang mengagumkan. Dari atas kapal saya menyaksikan ikan cakalang berlarian kian kemari, dikejar hiu-hiu besar yang menambah suasana mendebarkan.

Namun perjalanan pulang justru lebih mencekam. Angin bertiup kencang, ombak menjulang tinggi. Kapal terombang-ambing, nasib terasa digantungkan pada doa. Saya hanya bisa berserah. Saat itu saya bersumpah: tidak akan pernah lagi ikut pelayaran seperti ini.

Belajar dari Nelayan

Dalam situasi genting itu, saya melihat sosok kapten kapal, Om Habu (pasti namanya Wahab, seorang paman saya), tetap tenang. Ibu menitipkan saya kepadanya agar belajar hidup di kapal, meski hanya sehari semalam. Anak buah kapal pun tampak biasa saja, mungkin karena mereka sudah terbiasa menghadapi kondisi serupa.

Namun bayangan buruk menghantui pikiran saya: bagaimana jika baut terlepas, papan kapal retak, atau mesin tiba-tiba mati? Malapetaka pasti terjadi. Dari pengalaman itu, saya belajar bagaimana sulitnya hidup para nelayan. Mereka menantang maut demi mencari nafkah untuk keluarga.

Pada 1970-an, ikan cakalang adalah andalan ekonomi daerah. Satu ekor cakalang besar dihargai sekitar Rp100. Saat musim ikan, harganya bisa lebih murah, sehingga sebagian diolah menjadi garam pati (abon ikan).

Saat itu ada banyak kapal dengan nama yang sama: “Lili”, diberi nomor urut (Lili 1, Lili 2, Lili 3, dan seterusnya). Kapal-kapal itu milik Bapak Drakel, Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Maluku Utara.

Lili Drakel adalah teman sekelas saya di SD Pertiwi Ternate, sementara kakaknya, Ibrahim Drakel, kelak menjadi kawan sekelas saya di Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Palu, setelah keluarga mereka pindah ke sana.

Ombak, Alam, dan Keseimbangan

Suatu waktu di sebuah seminar nasional di Bogor, saya menyela pemikiran Prof. Emil Salim, maestro ekonomi dan lingkungan hidup Indonesia. Saat itu beliau mengatakan bahwa ombak besar di lautan adalah sesuatu yang “given”—sudah kita ketahui sejak dulu. Lantas, mengapa tidak membuat perahu nelayan yang lebih besar agar mampu menembus cuaca seganas apa pun?

Saya menimpali, bahwa cuaca ganas justru merupakan cara alam menjaga dirinya dalam kerangka keseimbangan.

Alam menolong alam—memberikan kesempatan kepada biota laut untuk pulih setelah dieksploitasi melampaui batas daya dukung (maximum sustainable yield). Prinsip ini mirip dengan praktik bero dalam pertanian, yakni mengistirahatkan tanah agar kembali subur. Begitu pula dalam sistem perladangan berpindah tradisional (shifting cultivation).

Antisipasi dan Adaptasi

Maka, kondisi alam yang ekstrem bukan untuk dilawan secara serampangan, tetapi dihadapi dengan antisipasi dan adaptasi. Pilihan terbaik ada pada kecerdasan berpikir dan kebijaksanaan bertindak.

Tetaplah berpegang pada semangat tagline: Jalesveva JayamaheDi Laut Kita Jaya. Karena konon, nenek moyang kita adalah pelaut.

Wallahu a’lam bish-shawab.


__
Penulis Muhd Nur Sangadji
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Tadulako

Lembah Palu, 14 September 2025