Semakin banyak manusia, semakin besar tekanan terhadap sumber daya alam melalui eksploitasi berlebihan dan aktivitas industri yang tidak terkendali. Dampaknya jelas terlihat: pemanasan global, deforestasi, erosi, dan perubahan iklim.
PELAKITA.ID – Untuk memahami bagaimana Kapitalisme beroperasi, bisa dimulai dengan apa yang terjadi pada populasi manusia di bumi.
Tahukah pembaca sekalian bahwa pada November 2022, jumlah penduduk dunia telah mencapai 8 miliar orang. Dalam 72 tahun terakhir, populasi global meningkat tiga kali lipat dari 2,5 miliar pada 1950 menjadi 8 miliar pada 2022.
Proyeksi menunjukkan bahwa pada 2050, setelah India dan Cina, Nigeria akan menjadi negara terpadat ketiga di dunia, diikuti Amerika Serikat, Pakistan, Indonesia, Brasil, Kongo, Ethiopia, dan Bangladesh.
Divisi Kependudukan PBB memperkirakan jumlah penduduk dunia akan mencapai 9,7 miliar, sementara Indonesia akan menempati posisi keenam dalam jumlah penduduk.
Ledakan Penduduk dan Kerusakan Lingkungan
Pertumbuhan penduduk yang cepat menjadi salah satu penyebab utama kerusakan lingkungan.
Semakin banyak manusia, semakin besar tekanan terhadap sumber daya alam melalui eksploitasi berlebihan dan aktivitas industri yang tidak terkendali. Dampaknya jelas terlihat: pemanasan global, deforestasi, erosi, dan perubahan iklim.
Kerusakan lingkungan bukan fenomena baru; hal ini telah terjadi sejak zaman Yunani Kuno. Namun, di era kapitalisme, skala kerusakan semakin parah karena teknologi modern mempercepat eksploitasi alam.
Kapitalisme menuntut ruang yang lebih luas untuk memenuhi kebutuhan manusia, mendorong pengambilan sumber daya alam secara cepat dan besar-besaran, yang pada akhirnya berdampak serius pada kualitas lingkungan dan memicu bencana di berbagai tempat.
Ideologi Kapitalisme: Kebebasan dan Pertumbuhan
Kapitalisme menekankan kebebasan individu—bebas menghasilkan uang, memiliki bisnis, menjual barang dan jasa, serta memiliki properti pribadi. Negara kapitalis menempatkan peran individu di atas peran negara. Sistem ini beroperasi dengan logika pertumbuhan ekonomi tanpa henti: produksi dan konsumsi terus meningkat, sehingga sumber daya alam dieksploitasi secara tidak berkelanjutan.
Beberapa prinsip kapitalisme dalam mengeksploitasi alam antara lain:
-
Pengakuan terhadap hak individu tanpa batas.
-
Pengakuan penuh terhadap kegiatan ekonomi untuk meningkatkan status sosial.
-
Motif memperoleh keuntungan semaksimal mungkin.
-
Kebebasan bersaing antarindividu demi keuntungan.
-
Berlangsungnya ekonomi pasar bebas.
Budaya konsumerisme yang lahir dari kapitalisme mendorong produksi dan konsumsi berlebihan, menambah tekanan pada sumber daya alam sekaligus meningkatkan volume limbah.
Ketergantungan pada bahan bakar fosil menghasilkan gas rumah kaca yang menjadi penyebab utama perubahan iklim. Keputusan bisnis sering hanya berfokus pada keuntungan jangka pendek, tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan jangka panjang.
Dampak Sosial dan Politik Kapitalisme
Hubungan antara pengusaha dan penguasa dalam sistem kapitalis sering menimbulkan dominasi elit. Segelintir pemilik modal menguasai ekonomi dan politik, menciptakan kesenjangan sosial yang besar antara kaya dan miskin.
Kekuatan ekonomi yang dominan juga berpotensi melemahkan proses demokrasi, karena kepentingan kelompok tertentu bisa mendikte kebijakan publik.
Kapitalisme memengaruhi penguasa dengan beberapa cara:
1. Menggunakan kekuatan ekonomi untuk menguasai institusi politik sehingga kebijakan mendukung kepentingannya.
Kekuatan ekonomi yang dimiliki pengusaha besar sering dimanfaatkan untuk memengaruhi pengambilan keputusan politik.
Dengan modal dan jaringan finansial yang luas, mereka dapat mendukung kandidat tertentu, mensponsori kampanye politik, atau menekan legislator agar menyusun regulasi yang menguntungkan sektor usaha mereka.
Akibatnya, kebijakan publik sering kali lebih berpihak pada kepentingan segelintir elit ekonomi dibandingkan pada kesejahteraan rakyat secara umum.
2. Pengusaha besar mengendalikan lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, bahkan media massa.
Kontrol atas lembaga negara dan media memungkinkan pengusaha membentuk opini publik dan arah kebijakan. Dengan pengaruh ini, mereka bisa menekan atau mempercepat pengesahan regulasi yang mendukung bisnisnya, sekaligus membungkam kritik atau penolakan terhadap praktik-praktik yang merugikan lingkungan dan masyarakat.
Penguasaan media juga membuat narasi tentang pertumbuhan ekonomi tampak selalu positif, meskipun ada dampak sosial dan ekologis yang signifikan.
3. Mengarahkan kebijakan pemerintah agar menguntungkan kepentingan bisnis.
Dengan posisi tawar yang kuat, pengusaha dapat memaksa pemerintah merancang kebijakan fiskal, subsidi, atau izin usaha yang memberi keuntungan finansial langsung bagi bisnis mereka.
Hal ini termasuk mempermudah perizinan, mengurangi pengawasan lingkungan, atau memberikan insentif pajak yang tidak seimbang. Akibatnya, kepentingan bisnis sering menempati prioritas utama dalam agenda pemerintahan, sementara kepentingan publik dan keberlanjutan lingkungan menjadi terabaikan.
Relasi ini menegaskan keterkaitan erat antara kekuatan ekonomi dan politik, yang diwujudkan melalui lobi perusahaan, kebijakan pro-bisnis, dan akumulasi kekayaan yang luas.
Aktivitas Industri dan Kerusakan Alam
Salah satu contoh nyata adalah pertambangan, yang merusak lingkungan, memicu perubahan iklim, penggundulan hutan, polusi, erosi tanah, konflik manusia-satwa liar, dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Indonesia, sebagai negara mega-biodiversity, memiliki 47 jenis ekosistem, 17 persen flora dan fauna dunia, lebih dari 10 persen jasad renik global, serta 940 jenis tanaman obat tradisional.
Sayangnya, eksploitasi berlebihan telah merusak banyak ekosistem. Hutan hujan tropis di Kalimantan, Sumatera, dan Papua yang menjadi rumah bagi flora dan fauna beragam kini semakin menyusut.
Khusus di pesisir dan laut – sebagai spot paling kena ulah kapitalisme ada banyak contohnya.
-
Penangkapan Ikan Berlebihan (Overfishing)
Perusahaan perikanan besar menggunakan kapal industri dan teknologi modern untuk menangkap ikan dalam jumlah masif tanpa memperhatikan kelestarian stok ikan. Hal ini menyebabkan penurunan populasi ikan, gangguan ekosistem laut, dan hilangnya mata pencaharian nelayan skala kecil. -
Tambak Udang Skala Industri
Budidaya udang intensif di pesisir sering menekankan keuntungan finansial jangka pendek dengan mengorbankan lingkungan. Hutan mangrove ditebang untuk membuka lahan tambak, mengurangi fungsi ekosistem pesisir, meningkatkan erosi, dan menurunkan kualitas air. -
Eksploitasi Minyak dan Gas Lepas Pantai
Perusahaan energi mengebor minyak atau gas di perairan pesisir dengan skala besar. Aktivitas ini menimbulkan pencemaran air, tumpahan minyak, dan kerusakan habitat laut yang kritis bagi biota laut dan nelayan lokal. -
Reklamasi Pantai dan Pembangunan Pariwisata Skala Besar
Proyek reklamasi dan pembangunan resor mewah sering mengorbankan ekosistem pesisir, seperti terumbu karang dan hutan mangrove. Fokusnya adalah keuntungan ekonomi tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang bagi komunitas lokal dan keberlanjutan lingkungan. -
Akuakultur Intensif Non-Ramah Lingkungan
Budidaya ikan atau kerang dengan kepadatan tinggi menggunakan pakan kimia dan antibiotik untuk meningkatkan produksi. Praktik ini dapat mencemari perairan, menurunkan kualitas ekosistem, dan mengancam kesehatan biota laut.
Kapitalisme sebagai Perusak Lingkungan
Karl Marx menekankan bahwa esensi kapitalisme adalah relasi antara pemilik alat produksi yang mengejar keuntungan tanpa batas dengan mereka yang harus menjual tenaga kerja karena tidak memiliki alat produksi.
Siklus kapital (M–C–M’)—uang menjadi komoditas, lalu menghasilkan uang lebih besar—terus berulang, menjadikan eksploitasi alam sebagai keniscayaan.
Dampaknya nyata: pemanasan global meningkat, memicu kekeringan, kebakaran hutan, dan kabut asap berbahaya. Deforestasi di Indonesia terus meluas, dengan deforestasi netto tahun 2021–2022 mencapai 104 ribu hektar.
Laporan PBB mencatat bahwa antara 2000–2018, dunia kehilangan 157 juta hektar hutan tropis, atau lebih dari 90 persen penggundulan hutan global. Erosi tanah meningkat 13–40 kali lebih cepat dibanding laju alami, menyebabkan 40 persen lahan pertanian dunia mengalami degradasi serius.
Dengan demikian, kapitalisme adalah sistem ekonomi yang menempatkan akumulasi dan ekspansi modal tanpa batas sebagai tujuan utama. Sistem ini melahirkan eksploitasi, alienasi, dan terbukti lemah dalam komitmen moral maupun kemanusiaan.
Sorowako, 4 September 2025
