Ilmu dan Teori dalam Cahaya Al-Qur’an: Refleksi atas Al-Furqan 53–54

  • Whatsapp
Ilustrasi Haloklin

PELAKITA.ID – Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang akidah dan ibadah, tetapi juga menyuguhkan refleksi mendalam tentang alam semesta dan manusia.

“Salah satu contohnya adalah dalam QS. Al-Furqan ayat 53–54, yang menyinggung tentang fenomena dua laut yang tidak bercampur dan asal-usul manusia dari air,” demikian pantikan sahabat kkta Jumardi Lanta sepulang dia dari salat Isya di Pontada, Sorowako, Luwu Timur, 3 September 2025.

QS. Al-Furqan (25): 53

وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا

Transliterasi:
Wa huwalladzī marajal-baḥraini hādzā ‘ażbun furātuw wa hādzā milḥun ujāj, wa ja‘ala bainahumā barzakhow wa ḥijrom maḥjūrā.

Terjemahan:
Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus.

QS. Al-Furqan (25): 54

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا ۗ وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا

Transliterasi:
Wa huwalladzī khalaqa minal-māā`i basyaran fa ja‘alahū nasabaw wa shihrā, wa kāna rabbuka qadīrā.

Terjemahan:
Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (mempunyai) keturunan dan hubungan pernikahan; dan Tuhanmu adalah Mahakuasa.

Dua ayat ini sering dipahami dalam dua lapis makna:

Ilmiah (empiris): tentang fenomena laut tawar dan asin yang dipisahkan oleh “barzakh” (haloklin/peredam alami), serta asal-usul kehidupan dari air.

Filosofis dan eksistensial: tentang keteraturan alam sebagai tanda kekuasaan Allah, dan tentang manusia sebagai makhluk biologis sekaligus sosial (nasab dan musaharah).

Dari perspektif sains dan filsafat

Kedua ayat ini, bila dibaca dengan kacamata ilmu pengetahuan dan filsafat, menyimpan pelajaran penting tentang hubungan antara ilmu, teori, dan makna eksistensial.

Ayat 53 menggambarkan adanya dua laut yang berdampingan—yang satu tawar lagi segar, dan yang lain asin lagi pahit—namun tetap dipisahkan oleh “barzakh” atau pembatas yang tidak terlihat.

Ilmuwan modern kini mengenalnya dengan konsep haloklin, yakni perbedaan kadar garam yang membentuk lapisan tak kasat mata.

Fenomena ini menunjukkan bahwa alam bekerja dengan hukum dan sistem tertentu. Dari sisi filsafat ilmu, ayat ini mendorong kita menyadari bahwa setiap teori ilmiah tentang sistem alam sesungguhnya berangkat dari keteraturan ciptaan.

Teori tidak hadir di ruang hampa, melainkan lahir dari realitas empiris yang sejak awal sudah diatur oleh Sang Pencipta.

Ayat 54 kemudian berbicara tentang asal-usul manusia dari air. Pesan ini dapat dipahami secara biologis—bahwa kehidupan memang bermula dari air, dan reproduksi manusia sangat bergantung pada cairan. Namun ayat ini tidak berhenti di aspek biologis saja.

Ia memperluas cakupan makna dengan menyebut nasab (garis keturunan) dan musaharah (hubungan pernikahan) sebagai dimensi sosial manusia. Artinya, manusia tidak hanya didefinisikan oleh aspek biologis, tetapi juga oleh jejaring sosial yang membentuk kehidupan.

Dari perspektif teori sosial, hal ini memberi pemahaman bahwa ilmu tentang manusia harus selalu melihat hubungan antara dimensi alamiah dan dimensi sosial.

Kedua ayat ini sekaligus mengajarkan epistemologi Qur’ani: bahwa ilmu dan teori memiliki tiga lapisan makna. Pertama, ilmu berangkat dari observasi terhadap fenomena alam (empiris).

Kedua, teori memberi kerangka rasional untuk menjelaskan keteraturan fenomena (rasional). Ketiga, wahyu memberikan horizon makna yang lebih luas, menuntun kita pada kesadaran bahwa semua pengetahuan bermuara pada kebijaksanaan Ilahi (transendental).

Dengan demikian, Al-Qur’an bukanlah buku sains, tetapi sumber inspirasi yang menempatkan ilmu dan teori dalam konteks pencarian makna hidup.

Teori, dan Keteraturan Alam

Filsafat ilmu sejak era Yunani Kuno hingga modern selalu mempertanyakan: dari mana ilmu itu berasal, dan bagaimana teori terbentuk? Aristoteles melihat ilmu sebagai hasil observasi dan generalisasi dari fenomena alam.

Galileo dan Newton menegaskan pentingnya hukum-hukum alam yang dapat diukur secara matematis. Sementara filsuf modern seperti Karl Popper menekankan falsifikasi, yaitu bahwa teori ilmiah harus bisa diuji dan mungkin salah.

Dalam kerangka ini, QS. Al-Furqan 53 memberi gambaran konkret bahwa keteraturan alam bukan sekadar temuan manusia, melainkan sudah tertanam dalam ciptaan.

“Barzakh” yang memisahkan dua laut adalah tanda bahwa hukum-hukum alam bekerja dengan konsistensi. Ilmu pengetahuan, dengan seluruh teorinya, hanyalah upaya manusia untuk membaca tanda-tanda ini.

Air dan Kehidupan: Dari Biologi ke Filsafat Sosial

Air dalam Al-Qur’an bukan sekadar elemen fisik, tetapi simbol kehidupan. Dalam perspektif biologi, fakta bahwa 70% tubuh manusia terdiri dari air dan bahwa kehidupan di bumi tidak mungkin ada tanpa air menunjukkan keselarasan dengan ayat ini.

Al-Qur’an memperluas pemahaman itu ke ranah sosial. Menyebut nasab dan musaharah mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.

Dari sisi teori, kita bisa menghubungkannya dengan pandangan Durkheim tentang fakta sosial, atau teori Habermas tentang tindakan komunikatif. Manusia tidak pernah hidup sendirian. Hubungan darah dan ikatan pernikahan menciptakan jaringan sosial yang membentuk budaya, identitas, bahkan ilmu pengetahuan itu sendiri. Dengan kata lain, ayat 54 mengajarkan bahwa memahami manusia tidak cukup hanya dengan teori biologi, tetapi juga memerlukan teori sosial.

Logika, Teori, dan Hikmah Ilahi

Secara logis, ilmu pengetahuan dapat dipahami sebagai proses berpikir yang dimulai dari premis (observasi), kemudian disusun dalam bentuk argumentasi (teori), dan diuji dengan konsistensi realitas (eksperimen). Tetapi logika semata tidak cukup. Wahyu datang untuk mengingatkan bahwa pengetahuan harus ditempatkan dalam kerangka etis dan spiritual.

Dalam filsafat ilmu modern, ada kecenderungan melihat teori hanya sebagai konstruksi manusia yang relatif dan bisa berubah.

Thomas Kuhn dalam The Structure of Scientific Revolutions (1962) menunjukkan bahwa teori berkembang melalui “paradigma” yang bisa runtuh dan digantikan. Pandangan ini selaras dengan cara Qur’an memperlihatkan dinamika ilmu: bahwa kebenaran manusiawi bersifat sementara, tetapi di baliknya ada Kebenaran Ilahi yang tetap.

Epistemologi Qur’ani: Integrasi Empiris, Rasional, dan Transendental

Jika dirangkum, epistemologi Qur’ani yang tersirat dalam QS. Al-Furqan 53–54 bisa dibagi menjadi tiga:

  1. Empiris – ilmu lahir dari pengamatan terhadap alam. Fenomena dua laut atau asal-usul manusia dari air mendorong penelitian dan observasi.

  2. Rasional – teori lahir sebagai kerangka penjelas yang menyatukan fenomena. Barzakh dalam laut dapat dipahami dengan konsep ilmiah seperti haloklin. Asal-usul manusia dari air dapat dipahami dengan teori biologi.

  3. Transendental – wahyu memberi makna bahwa semua keteraturan dan fenomena itu adalah tanda kekuasaan Allah. Tanpa dimensi ini, ilmu kehilangan orientasi etis dan eksistensial.

Dengan demikian, Qur’an mengajarkan bahwa ilmu tidak boleh berhenti pada data dan teori semata, tetapi harus diarahkan pada kebijaksanaan, yaitu kesadaran akan keterhubungan semua pengetahuan dengan Sang Pencipta.

Penutup: Dari Teori ke Hikmah

QS. Al-Furqan 53–54 menghadirkan refleksi mendalam tentang hubungan antara ilmu, teori, dan kebenaran. Dua laut yang dipisahkan barzakh mengajarkan keteraturan alam yang dapat ditangkap oleh teori ilmiah.

Asal-usul manusia dari air, beserta jaringan sosial nasab dan musaharah, mengajarkan dimensi biologis sekaligus sosial dari eksistensi manusia.

Dalam cahaya ayat ini, ilmu bukan sekadar akumulasi data atau teori yang bersifat sementara, melainkan jalan menuju hikmah. Teori adalah jembatan, logika adalah alat, sementara tujuan akhirnya adalah kesadaran akan kebenaran transendental.

Al-Qur’an bukanlah buku sains, tetapi ia memberikan horizon makna yang membuat ilmu dan teori menemukan tempatnya: sebagai sarana untuk memahami ciptaan dan mendekat kepada Sang Pencipta.