Prof JJ: Pendidikan Pascasarjana adalah Senjata Bangsa Besar Indonesia

  • Whatsapp
Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa, M.Sc (dok: Humas Unhas)
  • Pada penyambutan mahasiswa pascasarjana Unhas 2025, Rektor Prof JJ menegaskan peran strategis S2 dan S3 dalam mendorong riset, inovasi, dan kontribusi nyata bagi bangsa. Dengan lebih dari 3.000 penerimaan—hampir 30% dari total mahasiswa—Unhas mencatat kemajuan besar menuju universitas kelas dunia.
  • Momentum ini kian kuat dengan capaian bersejarah: untuk pertama kalinya dalam 69 tahun, Unhas masuk daftar 1000 universitas terbaik dunia (WRI), lebih cepat dari target nasional 2030, sejajar dengan UI, UGM, ITB, dan ITS.
  • Prof JJ menegaskan pendidikan pascasarjana bukan sekadar gelar, melainkan pembentuk kemandirian akademik, penghasil riset relevan, dan pencipta teknologi yang memperkuat daya saing nasional. Mengutip Nelson Mandela yang menyatakan “pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.”

PELAKITA.ID – Pada acara penyambutan mahasiswa Pascasarjana Unhas tahun 2025, Rektor Universitas Hasanuddin memberikan sambutan memukau dan inspiring. Tentang hakikat ilmu pengetahuan, pendidikan tinggi dan challenge akan lahirnya riset berkualitas, inovasi dan kontribusi bagi pembangunan nasional dan dunia secata umum.

Penulis mencatat beberapa poin penting dan layak direnungkan sebagai ’takeaways’ bagi sesiapapun.

Fakta terbaru di Unhas menurut Rektor Unhas adalah total jumlah mahasiswa pasca sarjana pada periode ini telah melebihi 3.000 orang. ”Artinya, kita hampir mendekati angka sekitar 30% dari total pendaftar. Jika dihitung secara kumulatif dari semester ganjil dan genap, total penerimaan mahasiswa bahkan bisa melebihi 50 persen,” ucap Prof JJ.

Kata JJ, ini menunjukkan kemajuan signifikan Unhas dalam perjalanan menuju universitas kelas dunia — tidak hanya mencetak sumber daya manusia unggul, tetapi juga menghasilkan inovasi melalui riset yang akan menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat.

Prof JJ mengaku bersyukur bahwa pada tahun 2025, untuk pertama kalinya setelah hampir 69 tahun berdiri, Unhas berhasil masuk ke dalam daftar 1000 WRI. Angka 1.000 ini menjadi simbol penting karena dari masa ke masa, benchmark universitas dunia memang berpatokan pada angka ini.

”Target yang ditetapkan kementerian sebenarnya baru direncanakan tercapai pada tahun 2030. Namun, capaian Unhas dalam dua tahun terakhir menunjukkan bahwa kita harus bersaing di level utama, bukan lagi di divisi satu atau dua, tetapi sejajar dengan kelompok besar seperti UI, UGM, ITB, ITS, dan PTNBH kelas besar,” ucapnya.

Suasana penerimaan mahasiswa Pascasarjana Unhas 2025 di Baruga Pangerang Pettarani Unhas Tamalanrea (Humas Unhas)

Pendidikan untuk kemandirian

Menurut JJ, tahap pasca sarjana adalah fase di mana mahasiswa dituntut untuk lebih mandiri. ”Mengapa disebut Philosophy of Doctorate (PhD)? Karena ukurannya bukan hanya kualitas hasil akhir atau inovasi yang dihasilkan, tetapi juga kemampuan bekerja secara mandiri — independent work,” sebutnya.

Dengan demikian, kata JJ, mahasiswa pasca sarjana akan menjadi bagian dari tim peneliti universitas.

”Jika jumlah mahasiswa pasca sarjana terus bertambah seperti di universitas besar, ini menjadi momentum untuk meningkatkan produksi riset yang bermanfaat, yang tidak hanya menghasilkan inovasi tetapi juga teknologi baru yang memberikan nilai tambah, memperkuat ekonomi, dan meningkatkan reputasi global universitas,” terangnya.

”Saya ingin menegaskan keinginan Bapak Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia bangkit sebagai negara besar yang mandiri secara teknologi. Kita tidak boleh terus-menerus bergantung pada impor teknologi,” tambahnya.

Bayangkan, kata JJ, saat pandemi COVID-19, bangsa kita masih harus mengimpor masker dari China, padahal kita berpenduduk 240 juta jiwa. Hal ini menunjukkan urgensi bagi anak bangsa untuk berkontribusi melalui inovasi.

”Saudara-saudara yang menempuh S2 dan S3 jangan hanya berpikir untuk mendapatkan gelar, tetapi juga memikirkan solusi yang bisa diberikan bagi masyarakat, pemerintah, industri, maupun kampus. Tantangan akademik yang diberikan promotor atau pembimbing insyaallah menjadi amal jariah yang bermanfaat,” harapnya.

Penduduk dengan gelar Pasca Sarjana amat kurang, kalah sama Thailand dan Malaysia. Kata JJ, dari sisi jumlah mahasiswa pasca sarjana, jangan pernah berpikir “sudah terlalu banyak.”

”Jika dibandingkan negara lain, Thailand memiliki sekitar 2,5% penduduk yang menempuh pendidikan pasca sarjana, Malaysia 2,43%. Indonesia bahkan belum mencapai 1%, hanya sekitar 0,5%. Jadi, tambahan mahasiswa pasca sarjana di Unhas sangat diperlukan,” sebutnya.

Bagi para pimpinan perusahaan maupun lembaga, sebagian besar rekan masih belum menempuh S2 atau S3. Kontribusi kita melalui pendidikan tinggi menjadi bagian dari upaya memperkuat bangsa menjadi bangsa yang tangguh.

Prof JJ menyatakan perlunya upaya berkelanjutan untuk meningkatkan jumlah dosen berkualitas.

Dia juga mengingatkan bahwa masuk ranking dunia sebenarnya tidak hanya melihat output yang tampak, tetapi juga total produktivitas.

” Indonesia sebagai negara keempat terbesar dunia dari sisi jumlah penduduk, ternyata masih tertinggal dalam produksi sains, inovasi, dan teknologi, berada di urutan 39–41. Ini menunjukkan perlunya lebih banyak peneliti dan tenaga ahli,” sebutnya.

Sebagai perbandingan, standar UNESCO menunjukkan Amerika memiliki 485 peneliti per 1 juta penduduk, Korea Selatan sekitar 9.000 peneliti per 1 juta penduduk.

”Indonesia baru sekitar 110–120 per 1 juta penduduk. Hal ini menunjukkan kita masih jauh dari standar global. Relevansi jumlah peneliti dan gelar master atau doktor sangat menentukan kemajuan ekonomi dan kekuatan suatu negara,” ungkapnya.

Pentingnya science and evidence-based policy

Kata JJ, bagi yang bekerja di pemerintahan, mungkin bertanya, “Mengapa harus melanjutkan S2 atau S3?”

Dia mencontohkan Singapura. Menunjukkan hampir 100 persen birokrat tingkat eselon 2 memiliki gelar doktor, yang diperlukan untuk kemampuan analisis demi pemerintahan yang efisien dan inovatif. Pendidikan pasca sarjana memungkinkan kita menjadi bagian dari orang-orang terbaik, mendukung kebijakan berbasis sains dan bukti (science and evidence-based policy).

“Perusahaan juga menilai gelar pasca sarjana sebagai nilai tambah: survei menunjukkan 91% perusahaan menganggap gelar master atau doktor penting sebagai indikator kapasitas SDM,” ujarnya.

JJ menyatakan, terkait riset, banyak mahasiswa S3 telah bergabung dalam thematic research group. Master dan doktor juga memiliki B-Riset. Ini bukan kebetulan, melainkan momentum penting karena output riset berdampak menjadi salah satu indikator penilaian perguruan tinggi.

Selamat datang mahasiswa Pascasarjana Unhas 2025

Oleh karena itu, riset harus mulai dipertajam dan diarahkan untuk menjadi bagian dari output yang bermakna bagi perguruan tinggi. Roadmap penelitian di setiap fakultas perlu diperkuat dengan kehadiran mahasiswa pasca sarjana agar riset lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Saat ini Unhas telah memiliki sekitar 240–350 research group yang aktif, dengan fokus yang jelas dan roadmap yang berkelanjutan.

Di ujung sambutannya, Prof JJ memberi motivasi.

“Saudara-saudara, di program studi apapun, jangan alergi terhadap pendekatan lintas disiplin, bahkan transdisiplin. Masalah yang kompleks tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu disiplin ilmu,” sebutnya.

”Pendekatan interdisiplin memungkinkan hasil riset lebih komprehensif. Ilmu kedokteran misalnya, kini harus dilihat dalam perspektif lebih luas. Jangan ragu memasukkan aspek lain, termasuk analisis kebijakan, ke dalam riset Anda,” imbuhnya.

“Kuliah adalah kesempatan untuk membuka ruang belajar, membaca, berdiskusi, dan menginvestasikan pengetahuan untuk masa depan. Nobel pun belajar dari berbagai bidang, walaupun fokusnya spesifik,” lanjutnya.

Terakhir, ujar JJ, jangan takut menggunakan alat modern seperti big data, statistik, atau analisis komputer yang kompleks. “Nelson Mandela pernah mengatakan, education is the most powerful weapon.” Pendidikan adalah senjata untuk mengubah dunia,” ucapnya.

“Gunakan senjata itu untuk memberi kontribusi nyata bagi masyarakat, pemerintah, industri, dan bangsa. Semoga Unhas menjadi wadah bagi kita semua untuk belajar, berinovasi, dan memberikan manfaat bagi Indonesia,” ajaknya.


Penulis Kamaruddin Azis, founder Pelakita.ID