Kemerdekaan dan Laut Kita: Ombak yang Terus Menyapa Pantai

  • Whatsapp
Muliadi Saleh

Oleh: Muliadi Saleh
Penulis | Pemikir | Penggerak Literasi & Kebudayaan

PELAKITA.ID – Kemerdekaan bukan hanya sebidang tanah tempat kita berpijak, tetapi juga hamparan laut luas tempat bangsa ini bernafas. Indonesia lahir sebagai negeri maritim, diapit dua samudra dan dihiasi lebih dari tujuh belas ribu pulau.

Laut bukan sekadar garis biru di peta, melainkan ruang hidup, sumber daya, jalur sejarah, sekaligus benteng kedaulatan.

Ketika Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, beliau tidak hanya mewariskan tanah air, tetapi juga laut air. Kata “air” dalam frasa “tanah air” adalah penegasan bahwa laut merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa.

Laut sebagai Ruang Sejarah Kemerdekaan

Sejarah kemerdekaan Indonesia tak bisa dilepaskan dari laut. Gelombang samudra pernah menjadi saksi kedatangan kapal-kapal kolonial yang menjajah negeri ini, membawa rempah-rempah dengan harga darah rakyat. Namun, laut juga menjadi jalan pulang bagi mereka yang akhirnya terusir dari bumi Nusantara.

Laut adalah saksi bisu perlawanan rakyat, bukan hanya di darat tetapi juga di gelombang. Dari perang laut Aru, perjuangan Hang Tuah, Pattimura, hingga pelaut-pelaut kecil yang menyebarkan kabar perlawanan lintas pulau.

Maka, kemerdekaan sejati harus juga berarti kedaulatan laut. Bagaimana mungkin kita disebut merdeka jika laut masih dijarah, sumber daya ikan dikuasai asing, dan nelayan tetap hidup miskin di tepi samudra yang kaya?

Laut sebagai Napas Kehidupan

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan darinya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan darinya perhiasan yang kamu pakai. Dan kamu melihat kapal-kapal berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya dan agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl: 14)

Ayat ini menegaskan bahwa laut adalah anugerah sekaligus amanah. Ia memberi kehidupan, tetapi juga menuntut pengelolaan yang adil dan berkelanjutan.

Merdeka berarti mampu mengelola laut sendiri. Merdeka berarti nelayan tidak lagi bergantung pada tengkulak, tetapi dapat menjual hasil tangkapannya dengan harga layak. Merdeka berarti laut tidak tercemar limbah industri. Merdeka berarti kita menjaga laut sebagai warisan generasi mendatang.

Kemerdekaan di Ujung Perahu Nelayan

Di ufuk timur, saat matahari terbit, ribuan perahu nelayan melaut dengan doa yang sama: semoga pulang membawa rezeki. Namun, berapa banyak dari mereka yang harus kembali dengan tangan hampa karena laut dijarah kapal-kapal besar yang tak peduli hukum?

Merdeka sejati adalah ketika nelayan kita tersenyum karena hasil tangkapannya dihargai, anak-anak mereka bisa bersekolah, dan laut tetap lestari. Merdeka sejati adalah ketika anak bangsa sendiri menjaga batas laut kita, bukan asing yang menancapkan jaringnya di perairan kita.

Laut sebagai Ruang Perjumpaan dan Persatuan

Laut tidak hanya memisahkan pulau-pulau, tetapi juga menyatukannya. Ia adalah jalan raya raksasa yang menghubungkan Sabang hingga Merauke, Talaud hingga Rote.

Bung Karno pernah mengingatkan:

“Negara Indonesia adalah negara kepulauan yang bercorak nusantara. Laut bukan pemisah, tetapi pemersatu.”

Di sinilah kemerdekaan menemukan makna kolektif. Kita tak boleh membiarkan laut menjadi ruang keterasingan bagi rakyat di pulau-pulau kecil. Laut harus menjadi jembatan, bukan jurang. Kemerdekaan sejati adalah ketika anak-anak di pulau terpencil memiliki akses pendidikan dan kesehatan setara dengan anak-anak di kota besar.

Pesan Bijak untuk Generasi Muda

Generasi muda adalah nahkoda masa depan bangsa. Mereka harus mewarisi semangat bahari leluhur yang gagah berlayar ke samudra luas. Namun, tantangan mereka kini berbeda: bukan lagi armada kolonial, melainkan krisis iklim, kerusakan ekosistem laut, dan eksploitasi berlebihan.

Generasi muda harus bertanya:

  • Apakah laut kita masih merdeka?

  • Apakah karang-karang kita masih hidup?

  • Apakah ikan-ikan kita masih melimpah?

  • Apakah pulau-pulau kecil kita masih aman dari tenggelam akibat kenaikan air laut?

Merdeka berarti berani menjaga laut lintas generasi. Merdeka berarti menolak eksploitasi yang merusak ekosistem. Merdeka berarti memanfaatkan laut dengan bijak, penuh cinta, dan tanggung jawab.

Menjaga NKRI dari Laut

NKRI berdiri tegak di atas darat dan laut. Maka menjaga NKRI berarti menjaga laut. Perbatasan kita bukan hanya garis di peta, melainkan ombak yang kedaulatannya harus dijaga.

NKRI yang merdeka adalah NKRI yang lautnya tak dijarah, nelayannya tak dimiskinkan, pulau-pulau kecilnya tak diabaikan. NKRI yang merdeka adalah NKRI yang menjadikan laut sebagai pusat kebangkitan, bukan halaman belakang yang terlupakan.

Merdeka adalah Ombak yang Tak Pernah Padam

Delapan puluh tahun Indonesia merdeka adalah waktu yang cukup untuk merenungi kembali hubungan kita dengan laut. Apakah kita hanya menjadikannya komoditas, ataukah memperlakukannya sebagai ruang hidup yang wajib diwariskan kepada anak cucu?

Kemerdekaan sejati adalah ketika kita bisa berkata: laut kita merdeka, nelayan kita bahagia, anak-anak kita ceria. Kemerdekaan sejati adalah ketika ombak yang menghempas karang bukan lagi simbol keterasingan, melainkan simbol semangat yang tak pernah padam.

Merdeka bukan hanya di darat.
Merdeka juga di laut.
Karena laut adalah kita, dan kita adalah laut itu sendiri.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-80.
Merdeka Sejati, Indonesia Maju!