PELAKITA.ID – Nama Kuari pertama penulis dengar di Wawondula, Ibu Kota Kecamatan Towuti dari sahabat Andi Narwis, Koordinator Program PPM SDGs PT Vale – the COMMIT Foundation.
Dia sebut nama itu sebagai lokasi Pembuangan Sampah Akhir untuk sejumlah desa-desa di Kecamatan Towuti. TPA Kuari yang kemudian ditutup oleh Pemda dan diarahkan ke daerah Ussu, Malili.
Tapi bukan ihwal TPA itu yang penulis tulis kali ini tapi sisi lain Deppa Tori asal Kuari.
Kuari adalah satu titik perkampungan antara Sorowako dan Wasuponda di selatan. Tempat ini jadi atensi karena ada kedai penyedia kue atau penganan berbahan tepung beras dan gula merah, Deppa Tori. Tempat ini sangat strategis terutama bagi pejalan atau pengendara dari arah Sorowako – Malili.
Kawasan ini juga banyak ditumbuhi pohon aren atau enau hingga menjadi bahan untuk pembuatan gula merah. Demikian pula beras yang merupakan komoditi unggulan dari kawasan Lingkar Tambang Tumur seperti Wasuponda, Malili dan Towuti Mahalona.
Kue ini dianggap kue khas Toraja. Jadi incaran di sejumlah warung kopi karena terasa nikmat jika mereka diduetkan.
Kue ini merupakan salah satu kue yang berasal dari Toraja dan sering dijadikan sebagai oleh-oleh apabila berkunjung ke tempat ini. Tak hanya Toraja, daerah pegunungan seperti Enrekang hingga Luwu Timur menjadikan kue ini sebagai brand mereka, termasuk di Kuari itu.
Pemilik gerai Oleh-Oleh Luwu Timur, Salmawati, menyebut deppa tori berbahan utama tepung beras dan juga gula merah.
”Banyakji bahannya di sini,” kata Salma saat ditemui di gerainya.
Kue ini menjadi khas karena ada topping wijen. Karena wijen itu pula kue ini menjadi lebih wangi dan nikmat. Banyak warga Kuari disebut berasal dari Enrekang dan Toraja.
Siang itu, dia dibantu dua orang perempuan. Satu yang mengruk adonan dan dipiin untuk digoreng oleh perempuan yang lain. Mereka mengerjakan ini secara terbuka, jadi pembeli bisa melihat proses pembuatan deppa tori.
Di beberapa tempat, deppa tori disebut pula kue te’tekan karena proses pembuatannya yang dite’te’ atau ‘dipipihkan’. Di beberapa tempat malah disebut cucuru’.
Di kalangan Komunitas Toraja, kue ini dulunya hanya disajikan saat perayaan-perayaan ada. Seperti penikahan, atau pesta keluarga sebagai sajian bersama kopi.
Bentuk kue deppa tori memanjang. Bermula dari nampan yang berisi adonan tepung yang sudah dicampur gula merah yang ditaburi wijen, lalu dikeruk lonjong dan digoreng. Ini yang penulis lihat di Kuari itu.
Sebelum meninggalkan gerai Deppa Tori milik Salma, penulis memesan dua kilo. “Satu kilo 45 ribu, jadi 90 semua.” jawabnya.
Penulis Denun









