Di tengah tangis, rasa bersalah, dan dunia yang seolah menutup pintu, ia menyerahkan anaknya. Kasihnya tumbang, bukan karena hatinya mati, tetapi karena hidup terlalu kejam padanya.
Muliadi Saleh
Penulis | Pemikir | Penggerak Literasi dan Kebudayaan
PELAKITA.ID – Di sebuah subuh yang basah, saat udara masih membawa wangi tanah dan doa orang-orang kampung, seorang bayi menangis untuk pertama kalinya. Tangisan itu bukan sekadar suara kecil, melainkan gema dari langit yang turun ke bumi.
Di wajahnya terpantul harapan baru, masa depan yang belum ditulis, dan selembar kitab kehidupan yang masih kosong. Setiap bayi lahir membawa janji—bahwa dunia ini, betapapun rapuh dan penuh luka, masih layak dihuni.
Namun, beberapa hari terakhir, sebuah berita mengguncang hati dan rasa kemanusiaan kita. Polisi membongkar sindikat perdagangan bayi yang mengirimkan anak-anak tak berdosa ke Singapura.
Dua belas orang ditangkap. Bayi-bayi itu—yang belum sempat mengucapkan kata pertama, yang seharusnya didekap penuh cinta—diperdagangkan seperti barang dagangan, dengan harga yang bisa ditawar.
Belasan juta rupiah untuk satu nyawa mungil. Lebih memilukan, jaringan ini diketahui telah beroperasi sejak 2023. Diduga, setidaknya 24 bayi telah dijual ke luar negeri. Saat ini, kepolisian tengah bekerja sama dengan Interpol untuk menelusuri jejak mereka dan berupaya memulangkan anak-anak itu ke tanah air. (Sumber: CNN Indonesia)
Bayi dan Hakikatnya
Seorang bayi bukan sekadar daging dan darah. Ia adalah amanah. Dalam teks-teks suci, bayi disebut sebagai titipan Tuhan yang harus dijaga. Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Fitrah itu suci. Di wajah bayi, Tuhan menitipkan cahaya-Nya.
Namun mengapa masih ada ibu yang tega menyerahkan darah dagingnya kepada jaringan gelap? Mengapa ada tangan yang menjual, bukan menggendong?
Ketika Kasih Ibu Tumbang
Cinta seorang ibu sejatinya melampaui segala batas. Cinta itu membuatnya terjaga di malam-malam panjang, rela tubuhnya dirobek demi kehidupan baru. Namun ada saat ketika cinta itu tumbang—bukan karena ia berhenti mencintai, melainkan karena himpitan hidup, jeratan kemiskinan, stigma sosial, atau rayuan manis para calo yang menawarkan “jalan keluar”.
Bayangkan seorang ibu muda di pinggiran kota: ditinggal suami, tanpa pekerjaan, dengan bayi kecil yang menangis lapar. Ia datang ke agen tenaga kerja yang ternyata menjadi pintu masuk ke jaringan gelap. “Anakmu akan lebih baik di luar negeri,” kata mereka. “Kau akan dapat uang.”
Di tengah tangis, rasa bersalah, dan dunia yang seolah menutup pintu, ia menyerahkan anaknya. Kasihnya tumbang, bukan karena hatinya mati, tetapi karena hidup terlalu kejam padanya.
Mengapa Ini Terjadi?
Perdagangan bayi tumbuh dari lubang sistem yang bocor. Kemiskinan yang tak tertanggulangi, birokrasi yang korup, lemahnya pengawasan lintas negara. Di satu sisi, ada permintaan besar dari pihak-pihak yang ingin “mengadopsi” bayi secara instan. Di sisi lain, ada penawaran dari mereka yang putus asa dan kehilangan harapan.
Kita perlu bercermin:
Berapa banyak ibu yang tak mendapat dukungan saat mengandung?
Berapa banyak anak lahir tanpa jaminan gizi, tanpa perlindungan hukum?
Negara belum cukup hadir. Masyarakat terlalu sering menghakimi. Dari sinilah jaringan gelap tumbuh—seperti jamur di musim hujan.
Kelahiran seorang bayi seharusnya menjadi peringatan bahwa dunia ini layak dijaga. Namun ketika bayi-bayi diperdagangkan, kita kehilangan bagian dari nurani kita. Mereka bukan barang. Bukan komoditas. Bukan angka statistik. Mereka adalah malaikat kecil—yang Tuhan titipkan agar kita belajar menyayangi tanpa syarat.
Bayangkan jika itu anakmu. Bayangkan jika tangisan itu berasal dari darah dagingmu, dijauhkan dari pelukanmu. Betapa gelap dunia ini jika kita tidak lagi peduli.
Mari Bertindak
Jangan biarkan ibu-ibu muda sendirian menghadapi kerasnya hidup. Jangan biarkan jaringan gelap terus menemukan celah. Negara harus memperkuat hukum, membenahi sistem adopsi, memperkuat ekonomi keluarga, dan memperketat pengawasan lintas negara. Masyarakat harus belajar merangkul, bukan menghukum.
Dan kita—sebagai manusia—harus terus mengingat:
Setiap bayi adalah doa yang dijelmakan.
Jangan biarkan doa itu diperjualbelikan di pasar gelap.
Jangan biarkan kasih seorang ibu tumbang karena lapar dan putus asa.
Mari kita jaga tangisan pertama itu agar tetap suci.
Agar dunia ini kembali berdetak karena cinta.
Karena pada akhirnya, ketika kita melindungi seorang bayi,
kita sedang melindungi masa depan kita sendiri.
“Menulis untuk Menginspirasi, Mencerahkan, dan Menggerakkan Peradaban.”
— Muliadi Saleh
