Judi Rahardjo: Aktivitas Kapitalisme (Tambang) Hasilkan Pembangunan Geografis yang Timpang 

  • Whatsapp
Suasana Percakapan tentang Dampak Tambang pada Pesisir dan Laut, Apa yang Mendesak Dilaksanakan yang digelar oleh Jaringan LSM dan Prakktisi Kelautan dan Perikanan di Cafe Boska, 10 Juni 2025 (dok: Judi Rahardjo)

Refleksi Judi Rahardjo pada Diskusi Dampak Pengusahaan Tambang di Raja Ampat pada Pesisir dan Laut, Apa yang Mendesak Dilakukan yang digelar Jaringan LSM dan Praktisi Kelautan dan Perikanan di Cafe Boska, Makassar, 10 Juni 2025.

PELAKITA.ID – Semula saya kira, hanya ngopi menjelang magrib, sambil cerita-cerita biasa berputar di antara meja segi empat, di sebuah kafe. Bukankah ngopi itu tidak bisa sendiri, butuh teman ngopi. Perkiraan saya itu, salah.

Saya mendapati sebuah percakapan serius.

Pemantiknya, kawan saya Kamaruddin Azis. Tapi, saya beruntung dan senang bisa mendengar semua percakapan sore tadi.

Tentu akan menyisakan pertanyaan sederhana: mengapa dilakukan pertambangan di pulau-pulau kecil.

Apa motifnya. Adakah berkaitan politik dan bisnis. Setahu kita, sampai awal 2024, sudah ada 218 izin usaha pertambangan telah mengkapling 34 pulau-pulau kecil. Begitu, kata sebuah koran nasional.

Pulau-pulau kecil tetaplah rentan. Kerapkali diletakkan secara inferior, seperti gabus yang mengapung di lautan.

Perbedaan kontras antara hutan, laut dan dampak tambapg ini patut buat kita cemas (dok: Jatimtimes.Com)

Pulau-pulau kecil kini menghadapi ancaman ganda: perubahan iklim dan konsekuensi industri ekstraktif.

Kampanye pariwisata di pulau-pulau kecil kerapkali menampilkan potret orang-orang yang bahagia, meski ada kenyataan mengenai terjadinya kesenjangan, ketimpangan, secara kronis.

Kadangkala ada pertanyaan: mengapa menambang di wilayah-wilayah yang mudah “terbakar”. Bukankah hal itu berisiko. Apakah pertambangan di pulau-pulau kecil itu dapat membuka pintu untuk pertambangan di laut dalam.

Percakapan tadi juga mengingatkan kita mengenai betapa agresifnya pertambangan di wilayah Pasifik. Mengenai kisah sebuah perusahaan besar yang memindahkan secara paksa penduduk hanya karena memulai usaha tambang.

Perbedaan kontras antara hutan, laut dan dampak tambapg ini patut buat kita cemas (dok: Jatimtimes.Com)

Dipaksa pindah rumah dan meninggalkan tanah leluhur malah menjadi memori luka. Bukan itu saja, tapi juga pengetahuan dan bahasa yang sudah berakar di tanah mereka.

Percakapan tadi sore memang belum selesai. Misalnya, seperti: bagaimana dengan dampak paska penutupan tambang.

Paling tidak, kita bisa merasakan kompleksitas dalam struktur kekuasaan ekstraksi sumberdaya alam.

Saya rasa, percakapan itu memberi bayangan pada kita mengenai “ruang” dan kapitalisme.

Seperti kata ahli geografi David Harvey, ruang diciptakan untuk akumulasi modal. Dan, akumulasi modal bergerak seperti pergerakan molekul (proses molekuler) dari ruang satu berpindah ke ruang lainnya.

Landskap ruang akan berubah, saat modal itu berpindah mencari ruang keruk baru. Logika teritorial beroperasi guna melanggengkan akumulasi modal, karena dipahami bahwa aktivitas kapitalisme hanya menghasilkan pembangunan geografis yang timpang.

Makassar, 10 Juni 2025

Judi Rahardjo

___
Judi adalah alumni Komunikasi Unhas 1985, berpengalaman di Yayasan Lembaga Konsumen Sulawesi Selatan sejak tahun 80-an.