Adil Jadi Barista di Muscat Oman: Catatan Denun Bagian 2

  • Whatsapp
Bersua orang Filipina dan Bogor di Muscat Oman (dok: Istimewa)

DPRD Makassar

PELAKITA.ID – Hari masih pagi di Kota Muscat Oman. Udara sejuk berhembus dari arah Laut Oman. Sekira pukul 9 pagi atau pukul 1 siang di Indonesia.

Saya dan Imran Lapong menuju kantor ‘sementara’ kami di Aqar Square, pusat perkantoran baru dan hanya terdapat dua kafe atau tepatnya coffee shop di lantai satu. Jarak kantor dengan penginapan kami sekira 250 meter.

Salah satu café itu bernama Monza, pas di sudut. Setiap melintas di situ mata saya selalu tertuju di dalam kedai kopi. Ada Ferrari nangkring di dalamnya, persis di depan ruang saji barista.

Hari ini, saat melintas di depan Monza, seorang pria, nampak seperti barista, kleuar dari Monza.

“Dari Indonesia, saya lihat batiknya aja sih,” kata pria tersebut.  “Iya,” balasku. “Saya dari Bogor,” kata pria brewokan tipis dan lebih mirip orang India menurutku.

“Sudah dua tahun di sini, barista, saya barista,” katanya mengulang pekerjaannya.

Di bekerja di situ bersama kolega asal Filipina. Perempuan yang ramah dan mengaku nyaman bekerja di Oman. Kami pun sempat berfoto bersama.

Dia senang melihat kami. Dia mengaku beberapa kali melihat melintas di depan Monza tapi tidak berani menyapa. Biasanya mereka mengira dari Filipina.

Namanya Adil. Dia lahir besar di Bogor dan ke Oman karena melihat peluang terbukanya pekerjaan barista dari internet. Dia menyebut warung kopi, kedai kopi, kafe, dan restoran banyak membutuhkan barista.

Dia benar, orang Oman suka kopi. Kopi banyak diimpor dari Brazi meski menurut kolega yang mengundang kami datang ke Oman kadang kala kopinya asal Indonesia namun dicap dari Brazil.

Terkait barista ini, Adil menyebut peluang bekerja di Timur Tengah sangat terbuka untuk pekerjaan barista, atau mereka yang pandai meracik kopi sesuai takaran, sesuai permintaan dan nama atau predikat yang disandang, Cappucino, Americano, White Latte, dan masih banyak lagi.

Saya juga sempat menikmati kopi yang disajikan di Salalah dan Al Duqm namun kesan saya kopi mereka hambar, jikapun ada itu dengan rasa campuran buah.

Mungkin juga saya keliru sebab pernah sekali saya tekan Cappuciono di mesin hotel namun terasa keras, susah tidur.

Sosodara, tentang kisah Adil, tentang barista, saya optimis akan menjadi peluang bagi anak-anak muda Indonesia bisa menjajal Timur Tengah.

Bagi yang punya jiwa petualng dan senang dengan tantangan, cobalah berselancar di dunia maya dan temukan peluang itu.

Adil adalah contoh pemuda yang mendalami barista dan saat ini bisa memilih di kedai kopi mana yang layak untuknya. Bisa menghidupi diri, punya kosan, tentu penanda bahwa dengan menjadi barista dia dapat uang lebih dari cukup.

“Saya pindah dari kafe sebelumnya karena yang ini lebih menjanjikan,” katanya. Iya, di depan tempat kerja Adil saya jadi saksi mobil-mobil mahal seperti Lamborghini, Ferrari, Porsche hingga BMW terparkir saban hari. Tanda bahwa yang datang nongki bukan dari kalangan ‘anak kolong’ di Muscat.

Di Muscat peluang itu terbuka lebar. Apalagi kalau mau mengabdi di kota-kota baru berkembang dan masif pembangunan infrastrukturnya seperti Al Dugm di antara Salalah dan Muscat.

Bagaimana Adil dapat info terkait bekerja di Oman? Browsing dan coba apply di resto atau café-café yang baru buka.

Eh tundulu, kira-kira berapa gajinya Adil? Meski dia tidak menjawab saya yakin di atas di atas 15 juta  rupiah.

Ayolah!

 

Denun,

Muscat, 4 Januari 2023

 

 

Related posts