PELAKITA.ID – Di tengah waktu yang terus bergerak tanpa kompromi, ada satu hal yang diam-diam tetap bertahan: rindu yang tidak pernah selesai. Rindu pada masa muda, pada tawa yang pernah lepas tanpa beban, pada persahabatan yang tumbuh tanpa syarat.
Dan rindu itu, pada akhirnya, menemukan jalannya—dari buka puasa bersama, menuju Halal Bihalal Ikafe UNHAS angkatan 1984.
Di kota Makassar yang sibuk dan tak pernah benar-benar berhenti, kita berkumpul bukan sekadar memenuhi undangan. Kita datang membawa sesuatu yang lebih dalam: ingatan, rasa, dan keinginan untuk tidak kehilangan satu sama lain.
Buka puasa yang telah kita lalui bukan sekadar seremoni Ramadan. Ia adalah pintu. Sebuah ruang pembuka yang perlahan menghidupkan kembali percakapan-percakapan lama, menyalakan kembali kehangatan yang sempat redup oleh jarak dan waktu.
Di sana, kita mulai menyadari bahwa meski hidup membawa kita ke arah yang berbeda, hati kita masih terhubung pada titik yang sama.
Dan Halal Bihalal menjadi puncaknya.
Ia bukan sekadar tradisi tahunan setelah Idul Fitri. Ia adalah pernyataan batin: bahwa di tengah dunia yang semakin cepat dan individual, kita masih memilih untuk kembali. Kembali duduk bersama. Kembali menyapa tanpa sekat. Kembali menjadi “kita” seperti dulu.
Yang membuat pertemuan ini begitu berarti bukan hanya suasananya, tetapi perjuangan untuk sampai ke sana. Lokasi di tengah kota bukanlah hal yang mudah dijangkau bagi semua. Namun justru di situlah makna itu menguat—ketika jarak tidak lagi menjadi alasan, ketika kesibukan tidak lagi menjadi penghalang.
Sebagian rekan datang dari berbagai daerah. Mereka menempuh perjalanan panjang, mengorbankan waktu, bahkan mungkin kenyamanan. Tapi mereka tetap hadir. Karena yang dipanggil bukan sekadar acara—melainkan rasa memiliki.
Daftar nama yang tercatat bukan sekadar formalitas kehadiran. Ia adalah saksi bahwa ikatan ini masih hidup. Dari satu nama ke nama lain, tersimpan kisah-kisah panjang kehidupan yang telah dilalui masing-masing. Namun pada hari itu, semua kembali setara: sahabat lama yang saling merindukan.
Di tengah suasana yang hangat dan penuh keikhlasan, Halal Bihalal ini menjelma menjadi ruang pemulihan. Tempat di mana kata “maaf” tidak hanya diucapkan, tetapi benar-benar dihayati. Tempat di mana tawa lama kembali menemukan nadanya, dan keheningan lama perlahan mencair.
Namun di balik semua kehangatan itu, ada tangan-tangan yang bekerja dengan penuh dedikasi. Ada hati yang menggerakkan semuanya agar pertemuan ini tidak sekadar wacana, tetapi menjadi nyata.
Penghargaan dan apresiasi yang sebesar-besarnya—bahkan tak terhingga—layak kita sampaikan kepada Ibu Anny Abdullah Suara, selaku Ketua Ikafe UNHAS Angkatan 84. Dengan ketulusan, keteguhan, dan komitmen yang tidak surut, beliau telah menjadi penggerak utama yang merawat nyala kebersamaan ini.
Tidak hanya itu, dukungan dari seluruh tim panitia yang bekerja tanpa lelah—sering kali tanpa terlihat—telah menjadikan acara ini terselenggara dengan baik, hangat, dan penuh makna. Mereka tidak sekadar mengatur acara, tetapi menjaga rasa. Mereka tidak hanya bekerja, tetapi menghidupkan kebersamaan.
Inilah yang sering luput kita sadari: bahwa sebuah pertemuan yang hangat tidak pernah terjadi begitu saja. Ia lahir dari niat baik, kerja keras, dan cinta terhadap persaudaraan.
Maka kehadiran kita semua hari itu bukan sekadar melengkapi acara. Ia adalah bentuk penghormatan—pada masa lalu, pada persahabatan, dan pada orang-orang yang telah berjuang menghadirkannya.
Terima kasih, kawan-kawan, atas kehadiran yang melampaui jarak. Terima kasih atas waktu yang disempatkan di tengah kesibukan. Terima kasih karena masih memilih untuk tidak melupakan.
Semoga kebersamaan ini tidak berhenti di sini. Semoga kita kembali dipertemukan dalam Ramadan-Ramadan berikutnya, dalam Halal Bihalal yang lebih hangat, lebih lengkap, dan lebih bermakna.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Karena pada akhirnya, yang membuat kita tetap bersama bukanlah karena kita selalu dekat—tetapi karena kita tidak pernah benar-benar pergi dari hati satu sama lain.









