PSEL Antang: Dari Gunung Sampah Menuju Peradaban Energi

  • Whatsapp
Ilustrasi Muliadi Saleh (dok: Istimewa)

Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

PELAKITA.ID – Sebagai warga Antang, saya ikut bangga dan mendukung penuh kehadiran Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPA Tamangapa.

Di tanah yang selama bertahun-tahun akrab dengan aroma residu, bunyi truk pengangkut, dan kecemasan tentang masa depan lingkungan, akhirnya lahir sebuah harapan baru. Sampah tidak lagi sekadar akhir dari konsumsi, melainkan awal dari energi, ilmu, dan peradaban.

PSEL di Antang bukan hanya proyek infrastruktur. Ia adalah penanda perubahan cara berpikir sebuah kota terhadap apa yang selama ini dianggap sisa.

Di tangan pengetahuan, teknologi, dan tata kelola yang visioner, sampah menjelma menjadi listrik. Sebuah metamorfosis modern yang sesungguhnya sangat filosofis. Sesuatu yang dibuang, ternyata masih menyimpan daya hidup. Sesuatu yang dianggap masalah, justru dapat menjadi sumber terang.

Penandatanganan kerja sama lintas daerah antara Makassar, Gowa, dan Maros di bawah inisiasi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menjadi tonggak penting bagi kawasan Mamminasata.

Proyek strategis nasional ini akan dibangun di TPA Antang dengan orientasi menangani hampir 2.000 ton sampah per hari dari tiga daerah tersebut. Kehadiran Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, bersama Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman menegaskan bahwa langkah ini bukan proyek biasa, melainkan jawaban atas darurat sampah perkotaan yang selama ini menghimpit ruang hidup warga.

Ada makna yang lebih dalam dari sekadar teknologi waste to energy. PSEL adalah simbol transisi dari budaya open dumping menuju budaya tanggung jawab ekologis.

Selama ini, banyak TPA di Indonesia menjadi kuburan terbuka bagi kegagalan sistemik kita dalam mengelola konsumsi. Sampah ditumpuk, dibiarkan, lalu diwariskan sebagai beban lintas generasi. Maka ketika negara menegaskan penghentian praktik open dumping pada 2026, kita sedang menyaksikan lahirnya etika baru pembangunan.  Kota tidak lagi boleh tumbuh dengan menyembunyikan limbahnya.

Sebagai warga Antang, saya melihat ini sebagai momentum sejarah. Wilayah yang selama ini sering dipersepsikan hanya sebagai “halaman belakang” kota justru sedang diposisikan menjadi pusat inovasi lingkungan.

Antang tidak lagi identik dengan gunung sampah, tetapi berpeluang menjadi laboratorium masa depan tentang bagaimana kota modern mengubah masalah menjadi manfaat. Di sinilah letak kebanggaan itu.

Kami bukan lagi sekadar penanggung beban residu kota, tetapi bagian dari solusi energi dan keberlanjutan.

Secara ilmiah, PSEL bekerja pada prinsip konversi termal atau teknologi pengolahan terintegrasi yang mengubah residu padat menjadi energi listrik.

Ini menjawab dua problem sekaligus yakni pengurangan volume sampah secara drastis dan penyediaan energi alternatif yang lebih bersih. Dalam perspektif ekonomi lingkungan, pendekatan ini memperlihatkan bagaimana limbah dapat dimasukkan kembali ke dalam siklus nilai. Sampah tidak berhenti sebagai cost center, tetapi menjadi resource center.

Namun, teknologi sehebat apa pun tidak akan cukup bila tidak disertai perubahan kesadaran. Sampah sejatinya bukan semata persoalan hilir, melainkan cermin budaya hulu. Ia lahir dari pola konsumsi, dari kebiasaan rumah tangga, dari minimnya pemilahan, dan dari etika publik yang belum selesai.

Karena itu, PSEL harus dibaca bukan sebagai alasan untuk terus boros, tetapi sebagai pengingat bahwa modernitas harus dibangun di atas disiplin ekologis.

Kota yang besar bukan kota yang mampu memproduksi banyak sampah, melainkan kota yang mampu bertanggung jawab atas jejak materialnya. Maka kolaborasi tiga daerah ini patut diapresiasi sebagai bentuk kecerdasan regional. Persoalan sampah memang tak mengenal batas administratif. Ia bergerak mengikuti arus konsumsi, populasi, dan pertumbuhan kawasan. Karena itu, solusi pun harus lintas batas.

Di titik ini, saya teringat satu hikmah sufistik: “Cahaya sering lahir dari sesuatu yang dianggap gelap.” Sampah adalah metafora kegelapan peradaban konsumsi, sementara PSEL adalah upaya menghadirkan cahaya dari gelap itu. Secara simbolik, ini adalah kerja kebudayaan.

Mengubah yang sisa menjadi makna, mengubah yang busuk dan gelap menjadi terang.
Antang hari ini sedang menulis babak baru sejarah kota Makassar. Dari timbunan yang pernah menjadi kecemasan, kini tumbuh optimisme.

Dari residu, lahir energi. Dari problem, tumbuh peradaban. Dan sebagai warga Antang, saya merasa bangga karena ‘rumah kami’ tidak lagi hanya menjadi tempat pembuangan akhir, tetapi sedang bergerak menjadi titik awal masa depan kota yang lebih sehat, cerdas, dan berkelanjutan.

PSEL bukan sekadar proyek listrik. Ia adalah arsitektur kesadaran bahwa kota yang beradab adalah kota yang mampu menemukan dan mengolah energi menyalakan cahaya dari sampahnya sendiri.

____
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”