Penguatan Peran Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) di Sulawesi Selatan: Dari Infrastruktur ke Ekosistem Ekonomi Perikanan

  • Whatsapp
Suasana PPI Lonrae Bone (dok: Pelakita.ID)
  • Sulawesi Selatan memiliki 22 Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) di bawah kewenangan pemerintah provinsi. Hasil kunjungan lapangan Tim Pelakita.ID menunjukkan adanya kesenjangan kinerja antar-PPI: sebagian berfungsi optimal sebagai simpul ekonomi perikanan, sementara lainnya belum termanfaatkan secara maksimal meskipun memiliki infrastruktur yang memadai.
  • Meski belum menyasar semua PPI, temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan PPI tidak semata ditentukan oleh pembangunan fisik, melainkan oleh kekuatan ekosistem pendukung—termasuk konektivitas pasar, layanan logistik, dan tata kelola operasional.
  • Terdapat beberapa PPI yang belum sempat didokumentasikan seperti PPI Beba dalam bentuk video tapi telah diobservasi beberapa kali oleh Pelakita.ID

PELAKITA.ID – PPI merupakan infrastruktur strategis dalam sistem perikanan tangkap, berfungsi sebagai titik pendaratan, distribusi, hingga pengendalian hasil tangkapan.

Dalam konteks pengelolaan perikanan berkelanjutan, PPI juga menjadi instrumen penting dalam pencatatan produksi, pengawasan aktivitas penangkapan, serta penguatan rantai nilai perikanan.

Dalam implementasinya, tidak semua PPI mampu menjalankan fungsi tersebut secara optimal.

Temuan Utama

1. PPI Berkinerja Tinggi (Aktif dan Produktif)
Beberapa PPI menunjukkan aktivitas tinggi dan menjadi pusat ekonomi lokal:

  • PPI Lonrae (Bone)
  • PPI Lappa (Sinjai)
  • PPI Paotere (Makassar)
  • PPI Beba di Takalar
  • PPI Pontap (Palopo)
  • PPI Birea (Bantaeng)
  • PPI Sumpang Binangae (Barru)

Karakteristik utama:

  • Aktivitas bongkar muat intensif
  • Terhubung dengan jaringan perdagangan regional
  • Didukung kapal penampung (panges)
  • Memiliki fasilitas dasar yang relatif memadai

2. PPI Potensial (Belum Optimal)

  • PPI Kajang & Bontobahari (Bulukumba)
  • PPI Cempae (Parepare)
  • PPI Maccini Baji (Pangkep)

Kendala utama:

  • Keterbatasan akses BBM, es, dan air bersih
  • Aktivitas ekonomi belum berkembang maksimal
  • Pemanfaatan ruang belum fokus pada perikanan tangkap

3. PPI Kurang Optimal (Underutilized)

  • PPI Bontoa (Maros)
  • PPI Ulo-Ulo (Luwu)
  • PPI Polejiwa (Barru)

Faktor penyebab:

  • Pendangkalan dan akses terbatas
  • Minim konektivitas dengan nelayan dan pasar
  • Tidak terintegrasi dalam rantai distribusi ikan

Analisis Masalah

Temuan lapangan mengindikasikan tiga persoalan utama:

1. Pendekatan Infrastruktur yang Belum Terintegrasi
Pembangunan PPI masih berfokus pada aspek fisik, belum sepenuhnya mempertimbangkan kebutuhan operasional dan ekosistem usaha.

2. Lemahnya Sistem Logistik dan Layanan Dasar
Ketersediaan es, BBM, air bersih, dan cold chain menjadi faktor penentu aktivitas PPI, namun belum merata.

3. Keterbatasan Konektivitas Pasar
PPI yang tidak terhubung dengan jaringan pedagang dan distribusi cenderung tidak berkembang.

Implikasi Kebijakan

  • Ketimpangan antar-PPI berpotensi menurunkan efisiensi sistem perikanan daerah
  • Infrastruktur yang tidak optimal berisiko menjadi aset tidak produktif
  • Lemahnya fungsi PPI berdampak pada kualitas data produksi dan pengawasan perikanan

Rekomendasi Kebijakan

1. Reorientasi Pembangunan PPI Berbasis Ekosistem
Mengintegrasikan pembangunan fisik dengan analisis kebutuhan ekonomi, sosial, dan logistik nelayan.

2. Penguatan Layanan Dasar di PPI
Prioritas pada:

  • Ketersediaan es dan cold storage
  • Akses BBM nelayan
  • Air bersih dan sanitasi

3. Pengembangan Konektivitas Pasar

  • Fasilitasi kemitraan dengan pedagang dan eksportir
  • Penguatan peran kapal penampung (panges)
  • Digitalisasi informasi harga dan distribusi

4. Revitalisasi PPI Tidak Optimal

  • Evaluasi kelayakan operasional
  • Alih fungsi terbatas (jika diperlukan)
  • Normalisasi akses perairan (pengerukan)

5. Peningkatan Tata Kelola dan Lingkungan

  • Sistem pengelolaan sampah terpadu
  • Standarisasi operasional PPI
  • Monitoring berbasis data

Penutup

Penguatan PPI di Sulawesi Selatan membutuhkan perubahan pendekatan—dari sekadar pembangunan infrastruktur menuju pengembangan ekosistem ekonomi perikanan yang terintegrasi.

Dengan strategi yang tepat, PPI dapat berfungsi optimal sebagai simpul utama dalam mendukung produktivitas, kesejahteraan nelayan, dan keberlanjutan sumber daya perikanan.

___
Tim Pelakita.ID