Ciri paling mencolok dari laporan 2025 adalah “ledakan data” yang masif. Penilaian sebelumnya hanya mengandalkan sekitar 450 stok agregat sebagai representasi kesehatan laut dunia. Laporan baru ini melampaui batas tersebut dengan menganalisis 2.570 stok yang terpisah.
- 64,5%: proporsi stok ikan individu yang berkelanjutan secara biologis
- 77,2%: proporsi total tangkapan global (berdasarkan berat) dari stok berkelanjutan
- 35,5%: persentase stok yang mengalami tangkap berlebih—dan terus meningkat sekitar 1% per tahun
PELAKITA.ID – Perikanan laut merupakan salah satu pilar utama kelangsungan hidup global, menyediakan setidaknya 20 persen protein hewani per kapita bagi 3,2 miliar orang.
Lebih dari sekadar kalori dasar, sistem pangan akuatik juga menyediakan mikronutrien esensial dan asam lemak omega-3, serta menopang mata pencaharian sekitar 600 juta orang di seluruh dunia.
Bagi komunitas pesisir, kesehatan laut bukan sekadar isu lingkungan; ia adalah fondasi ketahanan pangan, identitas budaya, dan stabilitas ekonomi. Namun, selama lebih dari satu dekade, pemahaman global kita tentang sumber daya ini bertumpu pada kerangka kerja yang dibangun pada tahun 2011.
Sejak saat itu, lanskap perikanan dunia telah berubah secara drastis.
Perkembangan alat baru—mulai dari pembelajaran mesin hingga pendekatan empiris canggih untuk wilayah dengan keterbatasan data—menjadikan pembaruan besar terhadap metodologi berusia 14 tahun tersebut sebagai sebuah keharusan.
Untuk mencapai target ambisius Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDG 14), kita perlu melampaui rata-rata umum dan melihat realitas yang sebenarnya terjadi di perairan.
Hasilnya, FAO Review of the State of World Marine Fishery Resources 2025 bukan sekadar pembaruan teknis; melainkan panduan bertahan hidup bagi masa depan laut.
Dengan memanfaatkan ledakan data yang luar biasa serta kebijaksanaan kolektif ratusan pakar global, laporan ini berfungsi sebagai “GPS” bagi peta jalan “Blue Transformation” FAO. Berikut enam poin penting dari penilaian bersejarah ini.
Kita Selama Ini “Terbang Setengah Buta” (Hingga Sekarang)
Ciri paling mencolok dari laporan 2025 adalah “ledakan data” yang masif. Penilaian sebelumnya hanya mengandalkan sekitar 450 stok agregat sebagai representasi kesehatan laut dunia. Laporan baru ini melampaui batas tersebut dengan menganalisis 2.570 stok yang terpisah.
Peralihan menuju detail yang lebih rinci ini memungkinkan ilmuwan melihat nuansa regional yang sebelumnya tersembunyi dalam kabut data umum.
Hal ini sangat terlihat di Samudra Hindia, di mana jumlah stok yang dinilai meningkat sepuluh kali lipat. Di Pasifik Tengah, cakupan meningkat lima kali lipat.
Dengan beralih dari kelompok spesies umum ke unit pengelolaan yang spesifik, FAO kini mampu memantau kondisi sumber daya pada tingkat sub-regional dengan akurasi yang belum pernah ada sebelumnya.
Paradoks Keberlanjutan: Menghitung Stok vs. Menghitung Konsumsi
Data menunjukkan kontradiksi yang mencolok: “Paradoks Keberlanjutan.” Jika dilihat dari jumlah stok ikan individu, situasinya cukup mengkhawatirkan—hanya 64,5% yang dianggap berkelanjutan secara biologis.
Namun, jika dilihat dari total berat ikan yang ditangkap dan dikonsumsi, angkanya meningkat menjadi 77,2%.
Perbedaan ini berasal dari pengelolaan efektif spesies komersial ber-volume besar. Bahkan, 85,8% hasil tangkapan dari “sepuluh spesies utama”—termasuk pollock Alaska dan tuna cakalang—diperkirakan berasal dari stok yang berkelanjutan.
Meski spesies besar ini memberi makan sebagian besar populasi dunia, paradoks ini menjadi peringatan: stok yang lebih kecil dan beragam seperti cod Atlantik masih berada di bawah tekanan besar dan sering masuk kategori tangkap berlebih.
Angka Kunci:
- 64,5%: proporsi stok ikan individu yang berkelanjutan secara biologis
- 77,2%: proporsi total tangkapan global (berdasarkan berat) dari stok berkelanjutan
- 35,5%: persentase stok yang mengalami tangkap berlebih—dan terus meningkat sekitar 1% per tahun
Tuna: Standar Emas Kerja Sama Global
Jika ada kisah sukses utama dalam laporan 2025, itu adalah tuna.
Sebagai spesies bermigrasi tinggi yang melintasi berbagai yurisdiksi, tuna termasuk yang paling sulit dikelola. Namun kini menjadi tolok ukur keberhasilan kerja sama global.
Laporan menunjukkan 87% stok tuna berkelanjutan, dan 99,3% tangkapan tuna berasal dari stok yang berkelanjutan secara biologis.
Transformasi ini didorong oleh kebijakan pengelolaan yang kuat dan rencana berbasis sains dari organisasi pengelolaan perikanan regional (RFMO). Ini membuktikan bahwa dengan kemauan politik, bahkan spesies paling sulit pun dapat dikelola secara berkelanjutan.
Kisah Dua Samudra: Geografi Keberhasilan
Keberlanjutan tidak merata; ia mencerminkan kekuatan tata kelola regional.
- Berprestasi tinggi: Pasifik Timur Laut (92,7%) dan Pasifik Barat Daya (85,5%)
- Tertinggal: Laut Mediterania dan Laut Hitam (35,1%)
- Anomali Atlantik Tenggara: 33,3% stok tergolong “kurang dimanfaatkan,” tetapi hanya menyumbang 5,9% tangkapan
- Peringatan pelaporan: Samudra Hindia Timur (72,7%), namun kemungkinan terlalu optimistis karena adanya kekosongan data
Kerapuhan Laut Dalam dan Spesies Migrasi Besar
Meski tuna berkembang baik, dua kelompok berada dalam kondisi rentan: spesies laut dalam dan hiu migrasi jauh.
Hanya 29% stok laut dalam yang berkelanjutan. Spesies ini memiliki umur panjang dan pertumbuhan lambat, sehingga sulit pulih dari eksploitasi berlebih.
Sementara itu, hiu migrasi jauh menghadapi tekanan tinggi sebagai tangkapan sampingan, dengan hanya 56,5% stok yang berkelanjutan.
“Kebenaran Bertingkat”: Menerima Ketidakpastian
Laporan 2025 memperkenalkan metodologi tiga tingkat yang mengakui bahwa tidak semua data setara, tetapi data terbatas tetap lebih baik daripada tidak ada sama sekali:
- Tingkat 1: Penilaian numerik formal (1.519 stok)
- Tingkat 2: Model produksi surplus (566 stok)
- Tingkat 3: Pendekatan berbasis pengetahuan ahli (485 stok)
Dengan memasukkan Tingkat 3, FAO menekankan transparansi dibanding ilusi kesempurnaan data. Proses ini melibatkan lebih dari 650 ahli dari 92 negara.
Kesimpulan: Jalan Menuju Pengelolaan 100%
Laporan 2025 menjadi panduan penting bagi visi “Blue Transformation” FAO—menuju 100% pengelolaan efektif semua perikanan laut.
Data yang tersedia kini jauh lebih jelas, memberi peluang bagi pembuat kebijakan untuk bertindak sebelum terlambat.
Namun pertanyaan penting tetap ada: apakah kemauan politik cukup kuat untuk menindaklanjuti data ini?
Menjelang target SDGs 2030, bukti menunjukkan bahwa pengelolaan yang baik memang berhasil—jika diterapkan.
Sebagai warga global dan konsumen, pertanyaannya adalah: bagaimana kita dapat mendukung transisi agar setiap ikan yang kita konsumsi berasal dari stok yang dikelola untuk satu abad ke depan, bukan sekadar untuk tangkapan berikutnya?
Sumber: FAO
Disunting untuk situs ini oleh K. Azis









