Masalah kita hari ini bukan kekurangan kebijakan, tapi lemahnya orkestrasi. Yuddy punya pengalaman untuk menyatukan lembaga yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.
PELAKITA.ID – Ketua DPP Garuda Astacita Nusantara, Muhammad Burhanuddin, menilai bahwa kebutuhan kabinet saat ini tidak lagi sekadar soal loyalitas politik, tetapi kapasitas dan efektivitas kerja yang terukur.
Menurutnya, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, visi Asta Cita menuntut figur-figur dengan kompetensi lintas sektor.
“Perombakan kabinet itu bukan sekadar rotasi jabatan. Ini kebutuhan strategis. Kita butuh orang-orang dengan kapasitas utuh—bukan parsial,” ujar Burhanuddin.
Dalam konteks tersebut, ia menyoroti sosok Yuddy Chrisnandi sebagai figur yang memiliki keunggulan komparatif.
“Prof Yuddy itu ‘multitalenta’ dalam arti sebenarnya. Beliau bukan hanya akademisi, tapi juga birokrat dan diplomat yang punya pengalaman nyata.”
Legitimasi Internasional
Burhanuddin menekankan bahwa rekam jejak Yuddy di level global menjadi nilai tambah yang signifikan.
“Tidak banyak diplomat Indonesia yang mendapat pengakuan simbolik seperti penerbitan perangko oleh Ukrposhta atau penghargaan resmi dari pemerintah Ukraina. Itu bukan sekadar simbol, tapi legitimasi internasional.”
Menurutnya, hal tersebut menunjukkan kemampuan membangun soft power dan memperkuat posisi tawar Indonesia di panggung global.
Insting Geopolitik
Ia juga menilai Indonesia saat ini membutuhkan pendekatan diplomasi yang lebih tegas.
“Kita tidak bisa lagi bermain aman dengan diplomasi pasif. Dunia sedang berubah cepat. Yuddy punya insting geopolitik yang terbentuk dari pengalaman langsung di kawasan yang kompleks.”
Reformis Birokrasi
Dalam aspek domestik, Burhanuddin menggarisbawahi rekam jejak Yuddy sebagai mantan Menteri PAN-RB.
“Dia terbukti sebagai disruptor. Kebijakan efisiensi anggaran dan sistem CAT itu bukan kebijakan biasa—itu perubahan sistemik yang menyentuh akar masalah birokrasi.”
Ia menambahkan bahwa keberanian menembus resistensi internal menjadi kualitas langka dalam pemerintahan.
Orkestrator Lintas Sektor
Burhanuddin juga melihat kapasitas Yuddy dalam menangani persoalan lintas lembaga, terutama di sektor digital.
“Masalah kita hari ini bukan kekurangan kebijakan, tapi lemahnya orkestrasi. Yuddy punya pengalaman untuk menyatukan lembaga yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.”
Jembatan Akademik dan Kebijakan
Sebagai akademisi, Yuddy dinilai mampu menjembatani kesenjangan antara dunia riset dan kebutuhan negara.
“Banyak riset kita berhenti di rak perpustakaan. Kita butuh figur yang bisa membawa itu ke level implementasi—dan Yuddy punya kapasitas itu.”
Menuju Indonesia Emas 2045
Di akhir pernyataannya, Burhanuddin menegaskan bahwa masa depan Indonesia membutuhkan kabinet berbasis kompetensi.
“Kalau kita ingin lompat dari stabilitas ke akselerasi, maka figur seperti Yuddy bukan lagi pilihan tambahan. Ini kebutuhan strategis.”
Bagi Burhanuddin, yang dibutuhkan negara saat ini adalah sosok yang bisa jadi jembatan pemerintah dengan narasi yang memberi solusi yang bijaksana dan manusiawi di tengah berbagai persoalan bangsa yang memerlukan sentuhan langsung ke pokok masalah dan tidak menimbulkan persoalan baru yang penuh riak dan tafsir beragam.
Ia menutup dengan penekanan bahwa tantangan ke depan menuntut keberanian mengambil keputusan berbasis kualitas.
“Pertanyaannya sekarang sederhana: kita mau bertahan di zona nyaman, atau berani memilih figur dengan kapasitas terbaik untuk masa depan Indonesia?”
Yang pasti, pada akhirnya, Bapak Presiden Prabowo Subianto tentu memerlukan figur pembantu yang bisa mengakselerasi percepatan program prioritasnya menuju Indonesia Emas 2045.









