Rektor Unhas: Media Harus Suarakan Isu Perubahan Iklim Secara Konsisten

  • Whatsapp
Para peserta workshop penulisan isu perubahan iklim di AIC Lab Unhas (dok: AIC Lab Unhas)

Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Dalam berbagai penelitian yang pernah dilakukan, termasuk penelitian pada akhir 1990-an, tercatat bahwa fenomena pemutihan karang yang besar pada masa itu bukan sekadar siklus alami. Perubahan tersebut berkaitan dengan perubahan lingkungan yang sangat signifikan akibat pemanasan global.

Prof Jamaluddin Jompa

PELAKITA.ID – Rektor Universitas Hasanuddin, Prof Jamaluddin Jompa memuji inisiatif kerjasama antara berbagai pihak dengan Unhas, termasuk dengan Monash University dalam konteks kegiatan Jurnalisme dan Penulisan Isu Perubahan Iklim sebagai bentuk kontribusi solusi atas krisis dan penghidupan masyarakat.

Kegiatan itu bernama: AII Climate Change Reporting Project – Workshops and Field Visit, Supporting Climate Reporting in Indonesia Newsrooms.

Menurut Rektor JJ, kita semua sebenarnya sudah tidak bisa lagi membicarakan perubahan iklim seolah-olah sebagai masalah generasi mendatang.

“Perubahan itu sudah terjadi hari ini. Bahkan dalam sepuluh tahun terakhir kita sudah merasakannya secara nyata di wilayah kita. Kita melihat perubahan pola cuaca, meningkatnya ancaman bagi masyarakat pesisir, serta berbagai persoalan ketahanan pangan,” ucapnya di depan peserta workshop yang digelar di Brisbane Room AIC Lab Unhas, Selasa, 10 Maret 2026.

Karena itu, lanjut Prof JJ, narasi dan paradigma kita harus mulai bergeser.

“Bagi teman-teman media, narasi perubahan iklim tidak lagi sekadar berbicara tentang pencegahan di masa depan. Saat ini kita sudah berada pada fase bertahan hidup dan beradaptasi. Ini bukan lagi sekadar pilihan atau wacana, tetapi sebuah keniscayaan yang harus kita hadapi bersama,” terang JJ.

Guru Besar Kelautan Unhas itu menyebut sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Dalam berbagai penelitian yang pernah dilakukan, termasuk penelitian pada akhir 1990-an, tercatat bahwa fenomena pemutihan karang yang besar pada masa itu bukan sekadar siklus alami.

“Perubahan tersebut berkaitan dengan perubahan lingkungan yang sangat signifikan akibat pemanasan global,” ucapnya.

Krisis pada ekosistem terumbu karang menurutnya menjadi tanda bahwa perubahan iklim sudah terjadi dan berpotensi semakin parah jika tidak ada upaya yang signifikan.

“Dan tentu saja bukan hanya terumbu karang yang terdampak, tetapi juga ekosistem lain seperti lamun, mangrove, serta seluruh garis pertahanan alami pesisir kita,” sebutnya.

Disebutkan, rkosistem-ekosistem ini bukan hanya penting bagi keanekaragaman hayati, tetapi juga sangat sensitif terhadap perubahan kondisi perairan.

Oleh karena itu, upaya melindungi dan merestorasi ekosistem pesisir, termasuk dalam konteks karbon biru, tidak lagi sekadar menjadi isu lingkungan. Ini sudah menjadi isu ketahanan nasional, ketahanan global, dan juga kesehatan masyarakat.

“Karena itu, teman-teman wartawan, para ilmuwan, dan seluruh pihak yang terlibat perlu melihat persoalan ini sebagai tanggung jawab bersama,” tambahnya.

Dikatakan JJ, bagi Unhas, hal  ini juga menjadi pengingat bahwa kita tidak bisa lagi hanya memproduksi jurnal ilmiah.

“Tentu jurnal tetap penting, tetapi riset yang kita lakukan harus mampu menghasilkan solusi yang lebih nyata dan operasional bagi masyarakat,” sebutnya.

“Universitas Hasanuddin berupaya terus mendorong hilirisasi riset dari kampus, meskipun pekerjaan rumah kita masih sangat banyak,” ungkapnya.

“Misalnya dalam bidang pertanian, kita harus mengembangkan praktik yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Riset harus diarahkan pada bagaimana bahan pangan kita, terutama pangan lokal, dapat bertahan dalam kondisi perubahan lingkungan yang semakin nyata,” jelasnya.

Demikian pula inovasi terkait cuaca ekstrem, sistem produksi pangan, dan berbagai teknologi adaptasi lainnya. Semua ini membutuhkan kerja bersama antara perguruan tinggi, pemerintah, DPR, sektor swasta, dan masyarakat.

“Di sinilah peran media menjadi sangat penting. Ketika suatu isu belum menjadi perhatian publik, sering kali pemerintah juga belum memberikan prioritas yang memadai. Karena itu media memiliki peran strategis dalam memastikan bahwa isu perubahan iklim terus hadir dalam ruang publik,” sebut JJ.

“Namun kita semua juga menyadari bahwa pemerintah tidak bisa menyelesaikan persoalan ini sendirian. Akademisi juga tidak bisa bekerja sendiri. Kita membutuhkan kerja sama lintas sektor dan perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari,” kata dia.

Dia menyebutkan contoh seperti pengelolaan sampah.

“Alhamdulillah, baru-baru ini kami memperoleh hibah dari Inggris untuk program pengolahan sampah organik menuju zero waste, yang juga diharapkan dapat berkontribusi pada penguatan sistem pakan dan ekonomi sirkular. Ini hanya salah satu contoh kecil dari upaya yang perlu kita dorong bersama,” lanjut JJ.

Langkah lain, tambahnya, seperti mengurangi konsumsi energi, mengurangi penggunaan bahan kimia, serta memperkuat kesadaran lingkungan harus menjadi gerakan yang menjangkau masyarakat luas.

“Tidak boleh berhenti hanya pada tingkat kementerian atau lembaga, tetapi harus sampai ke masyarakat,” harapnya.

Dia mengajak semua sektor—media, dunia usaha, tokoh masyarakat, dan masyarakat luas—untuk bersama-sama membangun budaya kepedulian lingkungan yang lebih kuat dari sebelumnya.

Ilustrasi oleh Pelakita.ID/NotebookLM

Jika dahulu gerakan kebersihan lingkungan dilakukan secara rutin, maka hari ini urgensinya jauh lebih besar. Kita sudah berada pada situasi yang bisa disebut sebagai situasi darurat lingkungan.

“Saya juga berharap agar dalam proses penyusunan kebijakan publik terjadi pergeseran pendekatan. Kita tidak bisa lagi hanya bersifat reaktif—misalnya baru bertindak setelah terjadi banjir atau bencana. Kita harus membangun pendekatan yang proaktif, dengan memperkuat ketangguhan atau resiliensi terhadap bencana,” ucapnya.

Di sinilah pentingnya kegiatan yang diselenggarakan oleh Australia – Indonesia Center Lab Unhas ini. “Kegiatan seperti ini bukan sekadar agenda seremonial atau penggunaan anggaran semata, tetapi merupakan investasi penting dalam membangun pengetahuan, kesadaran, dan kolaborasi menuju pembangunan yang lebih berkelanjutan,” jelasnya.

Kepada pekerja media, Prof JJ berharap untuk terus menghadirkan narasi tentang perubahan iklim secara konsisten.

“Jangan hanya hari ini, tetapi juga secara rutin ke depan. Selama ini kita melihat pemberitaan lebih banyak didominasi isu politik, padahal persoalan lingkungan dan perubahan iklim juga sangat penting untuk mendapat perhatian publik yang lebih besar,” ucapnya.

“Sekali lagi, walaupun saya tidak dapat hadir secara langsung, hati saya tetap bersama teman-teman semua. Semoga kegiatan ini juga bernilai ibadah, apalagi kita sedang berada di bulan Ramadan. Dalam ajaran kita, manusia diminta menjadi rahmatan lil ‘alamin, membawa manfaat bagi seluruh alam, termasuk menjaga bumi yang kita tempati bersama,” pungkasnya.

Kegiatan yang dikerjasamakan  Monash University dan AIC Lab Unhas ini menghadirkan sejumlah pekerja media, penulis dan aktivis pers. Sejumlah wartawan datang dari Tribun Timur, Harian Fajar, Tirto.ID, Mongabay, Klikhijau, Antara, hingga portal berita maritim Pelakita.ID.

Hadir pula kontributor dan aktivis literasi Sulsel seperti Rusdin Tompa dari Satu Pena Sulawesi Selatan, Direktur SPASIAL Muliadi Saleh yang merupakan kontributor artikel sejumlah media serta penulis buku dari Dinas Perpusatakaan dan Kearsipan Gowa, Mustamin Raga.

Dari peneliti Unhas hadir Dr Rijal Idrus, Ketua Pusat Studi Perubahan Iklim Unhas, Ketua Pusat Studi Kebencanaan Ilham Alimuddin, Ph.D, Dr Shinta Werorilangi peneliti pencemaran laut FIKP Unhas hingga mitra AIC Lab seperti perwakilan Asperli Arman Arfah dan Fathoni.

Redaksi