Prioritas editorial dan persaingan memperebutkan perhatian audiens juga menjadi faktor penting. Organisasi media saat ini beroperasi dalam lingkungan informasi yang sangat kompetitif.
PELAKITA.ID – Perubahan iklim telah lama diakui sebagai salah satu tantangan global paling mendesak di abad ke-21. Berbagai bukti ilmiah secara konsisten menunjukkan dampaknya terhadap ekosistem, perekonomian, serta kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia.
Meskipun skala ancamannya sangat besar dan mendesak, banyak media—baik televisi, surat kabar, platform daring, maupun media sosial—masih memberikan perhatian yang relatif terbatas terhadap isu perubahan iklim dibandingkan topik lain seperti politik, kriminalitas, atau hiburan.
Kesenjangan ini tidak terjadi begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor struktural, ekonomi, profesional, dan komunikasi yang membentuk cara kerja media modern.
Salah satu alasan utama adalah karakter perubahan iklim itu sendiri yang bersifat lambat dan kompleks.
Dunia jurnalistik cenderung memprioritaskan peristiwa yang terjadi secara cepat, dramatis, dan memiliki daya tarik visual yang kuat. Dalam praktik jurnalistik, karakteristik ini sering disebut sebagai “nilai berita”, seperti unsur kebaruan, konflik, kedaruratan, dan dampak emosional.
Sementara itu, perubahan iklim berlangsung secara bertahap dalam jangka waktu panjang.
Dampaknya sering terlihat melalui tren jangka panjang seperti peningkatan suhu global, kenaikan permukaan laut, atau perubahan pola curah hujan.
Karena perubahan ini berlangsung selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun, ia jarang menghadirkan peristiwa mendadak yang dramatis sehingga sulit bersaing dengan berita-berita cepat yang mendominasi siklus pemberitaan harian.
Faktor kedua berkaitan dengan kompleksitas ilmu pengetahuan tentang iklim.
Peliputan perubahan iklim menuntut pemahaman terhadap konsep ilmiah seperti proses atmosfer, gas rumah kaca, siklus karbon, hingga model iklim global. Jurnalis kerap kesulitan mencari referensi atau pakar yang siap berbagi pengetahuan.
Di sisi lain, banyak jurnalis pada dasarnya dilatih sebagai reporter umum dan tidak selalu memiliki latar belakang ilmu lingkungan atau sains.
Akibatnya, menerjemahkan hasil penelitian ilmiah yang kompleks menjadi cerita yang jelas dan mudah dipahami publik bukanlah pekerjaan yang sederhana. Apalagi kalau memang dunia kampus atau peneliti enggan masuk ke jejaring medsos.
Tanpa dukungan redaksi sains atau pelatihan khusus, sebagian jurnalis cenderung menghindari topik ini atau menyederhanakannya secara berlebihan sehingga makna dan kedalaman isu perubahan iklim tidak tersampaikan secara utuh.
Prioritas editorial dan persaingan memperebutkan perhatian audiens juga menjadi faktor penting. Organisasi media saat ini beroperasi dalam lingkungan informasi yang sangat kompetitif.
Platform digital menuntut pembaruan konten secara terus-menerus, dan redaktur sering kali memprioritaskan berita yang mampu menarik pembaca, meningkatkan interaksi, atau menghasilkan pendapatan iklan.
Berita tentang selebritas, konflik politik, atau fenomena viral di media sosial sering kali menghasilkan jumlah klik dan pembagian yang lebih tinggi dibandingkan laporan tentang perubahan iklim. Faktanya, berita-berita viral artis, berita kriminal, lebih diburu ketitmbang es yang meleleh di Antartika atau suasana kota yang semakin panas dan tak lagi nyaman.
Akibatnya, meskipun penting secara sosial, isu perubahan iklim sering tidak menjadi prioritas utama dalam keputusan editorial.
Tekanan ekonomi terhadap industri media juga memengaruhi kualitas dan intensitas peliputan isu lingkungan.
Banyak perusahaan media menghadapi keterbatasan finansial akibat penurunan pendapatan iklan dan perubahan pola konsumsi media ke platform digital.
Mempertahankan tim jurnalis khusus lingkungan membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit.
Ketika anggaran redaksi menyusut, liputan investigatif atau laporan mendalam tentang isu kompleks seperti perubahan iklim menjadi semakin sulit dilakukan.
Sebagai gantinya, ruang redaksi sering mengandalkan berita singkat dan umum yang membutuhkan waktu dan biaya produksi lebih sedikit.
Selain faktor ekonomi, dinamika politik dan ideologi juga turut memengaruhi cara media meliput perubahan iklim.
Di sejumlah negara, perubahan iklim telah menjadi isu yang diperdebatkan secara politik, terutama terkait regulasi lingkungan, kebijakan energi, dan dampaknya terhadap perekonomian.
Media tertentu terkadang mencerminkan pandangan politik pemilik, pengiklan, atau basis audiensnya.
Dalam situasi seperti ini, pemberitaan tentang perubahan iklim bisa disajikan secara sangat hati-hati, selektif, atau bahkan diminimalkan untuk menghindari kontroversi politik atau tekanan dari kelompok tertentu.
Kondisi ini pada akhirnya dapat mengurangi kedalaman dan konsistensi peliputan isu iklim.
Tantangan lain berkaitan dengan jarak antara narasi perubahan iklim yang bersifat global dengan pengalaman lokal masyarakat.
Perubahan iklim sering dibahas dalam konteks angka global, perjanjian internasional, atau proyeksi ilmiah jangka panjang. Bagi sebagian besar masyarakat, konsep-konsep ini terasa abstrak dan jauh dari kehidupan sehari-hari.
Jika media gagal menghubungkan isu perubahan iklim dengan dampak nyata di tingkat lokal—seperti banjir, kekeringan, abrasi pantai, atau ketahanan pangan—maka masyarakat cenderung menganggap isu tersebut sebagai sesuatu yang jauh dan tidak relevan.
Persepsi ini pada akhirnya mengurangi minat publik dan membuat redaksi semakin enggan memprioritaskan pemberitaan tentang perubahan iklim.
Struktur media sosial dan platform digital juga memengaruhi cara isu iklim dikomunikasikan.
Algoritma media sosial cenderung mempromosikan konten yang memicu reaksi emosional kuat, interaksi cepat, atau kontroversi.
Sementara itu, cerita tentang perubahan iklim sering berfokus pada proses lingkungan jangka panjang yang tidak selalu menghasilkan respons instan dari audiens.
Selain itu, penyebaran misinformasi dan skeptisisme terhadap perubahan iklim di internet dapat memperkeruh pemahaman publik dan menyulitkan jurnalisme yang bertanggung jawab.
Meski demikian, terdapat tanda-tanda bahwa jurnalisme iklim mulai berkembang. Sejumlah organisasi media seperti Pelakita.ID, telah membentuk meja redaksi khusus perubahan iklim atau tim jurnalis lingkungan untuk meningkatkan kualitas peliputan.
Kerja sama antara jurnalis dan ilmuwan juga semakin berkembang sehingga memudahkan akses terhadap data dan pengetahuan yang kredibel.
Selain itu, banyak jurnalis mulai mengeksplorasi pendekatan bercerita yang menghubungkan perubahan iklim dengan pengalaman manusia, komunitas lokal, serta peluang ekonomi seperti energi terbarukan dan pembangunan berkelanjutan.
Para pakar komunikasi lingkungan menekankan bahwa peliputan perubahan iklim tidak cukup hanya menyampaikan temuan ilmiah.
Media juga perlu menyoroti solusi, strategi adaptasi, serta ketahanan masyarakat dalam menghadapi perubahan lingkungan. Dengan membingkai perubahan iklim bukan hanya sebagai krisis, tetapi juga sebagai ruang inovasi dan transformasi sosial, media dapat membuat isu ini lebih relevan dan menarik bagi publik. Ini bisa ditopang dengan capacitu building dan transformasi nilai.
Pada akhirnya, keterbatasan elaborasi isu perubahan iklim di berbagai platform media merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor: kendala struktural dalam sistem media, tantangan profesional bagi jurnalis, tekanan ekonomi industri media, serta hambatan komunikasi dengan audiens.
Perubahan iklim memang tidak selalu sejalan dengan logika produksi berita yang serba cepat. Seiring semakin nyata dan mendesaknya dampak perubahan iklim, peran media dalam memberikan informasi yang akurat dan mendorong pengambilan keputusan yang tepat menjadi semakin penting.
Oleh karena itu, penguatan jurnalisme iklim—melalui pelatihan, kolaborasi lintas disiplin, dan inovasi dalam penyajian cerita—menjadi langkah penting agar masyarakat dapat memahami baik risiko maupun solusi dari dunia yang iklimnya terus berubah.
___
Tamarunang, 11 Maret 2026
