Cinta yang Menjadi Rumah: Perempuan, Kesetiaan, dan Makna 8 Maret

  • Whatsapp
Ilustrasi

Oleh Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

PELAKITA.ID – Tanggal 8 Maret setiap tahun diperingati dunia sebagai International Women’s Day, sebuah momentum global untuk menghormati perjuangan, martabat, dan kontribusi perempuan dalam sejarah kemanusiaan.

Di berbagai belahan dunia, hari ini dirayakan melalui diskusi, refleksi, dan pengakuan atas peran perempuan dalam membangun peradaban. Namun bagi sebagian orang, tanggal ini juga menyimpan makna yang jauh lebih personal: kisah tentang cinta, kesetiaan, dan perjalanan hidup bersama seorang perempuan yang menjadi pusat semesta keluarga.

Bagi saya, 8 Maret bukan sekadar catatan dalam kalender dunia. Ia juga menjadi penanda perjalanan rumah tangga yang telah memasuki tahun ke-29.

Hampir tiga dekade berjalan bersama seorang perempuan yang tidak hanya menjadi istri, tetapi juga sahabat jiwa, ibu bagi anak-anak, sekaligus penjaga keseimbangan kehidupan.

Dalam wacana sosial modern, perempuan kerap dibicarakan dalam kerangka hak, kesetaraan, dan pemberdayaan.

Semua itu penting. Namun di balik konsep-konsep besar tersebut, terdapat realitas yang sering kali lebih sunyi tetapi sangat menentukan—keteguhan perempuan dalam merawat kehidupan sehari-hari.

Ia hadir dalam kerja yang jarang tercatat dalam statistik: merawat, mendidik, menenangkan, serta menjaga agar rumah tetap menjadi ruang pulang.

Dalam perspektif sosiologi keluarga, stabilitas rumah tangga sering kali bertumpu pada kapasitas perempuan untuk merawat relasi. Ia bukan sekadar pengelola domestik, tetapi arsitek keseimbangan batin keluarga.

Kesabaran, ketulusan, dan keteguhan hati menjadi energi yang menjaga keluarga tetap berdiri ketika hidup menghadirkan berbagai ujian.

Dalam perjalanan hampir tiga puluh tahun pernikahan, saya belajar satu hal penting: cinta sejati bukan sekadar perasaan yang menggelegak di awal pertemuan.

Ia adalah komitmen yang tumbuh perlahan, diuji oleh waktu, dan dipelihara oleh kesabaran. Cinta sejati sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana—dalam perhatian kecil, doa yang diam-diam dipanjatkan, atau kesediaan untuk tetap tinggal ketika keadaan tidak selalu mudah.

Perempuan, dalam banyak kebudayaan, adalah penjaga api kehidupan. Ia menyalakan kehangatan rumah tangga, bahkan ketika dunia di luar terasa dingin dan keras.

Ia mengajarkan bahwa kekuatan tidak selalu tampil dalam suara yang lantang, tetapi dalam keteguhan hati yang memilih untuk bertahan.

Karena itu, ketika dunia merayakan Hari Perempuan Sedunia, sesungguhnya yang dirayakan bukan hanya prestasi perempuan di ruang publik, tetapi juga kehebatan yang hidup di dalam rumah-rumah: kesetiaan seorang istri, ketulusan seorang ibu, serta cinta yang tidak pernah menuntut balasan.

Di balik setiap keluarga yang mampu bertahan lama, hampir selalu ada perempuan yang sabar menjaga keseimbangan. Ia mungkin tidak selalu berdiri di panggung sejarah, tetapi jejaknya tertanam dalam kehidupan orang-orang yang dicintainya.

Maka bagi saya, 8 Maret bukan hanya peringatan global. Ia adalah kesempatan untuk mengucapkan terima kasih kepada seorang perempuan yang telah berjalan bersama selama 29 tahun—dengan kesetiaan yang tidak pernah berkurang, dengan kasih sayang yang tak pernah letih.

Barangkali di situlah makna terdalam Hari Perempuan Sedunia: mengingatkan kita bahwa peradaban tidak hanya dibangun oleh gagasan besar dan institusi megah, tetapi juga oleh cinta yang setia menjaga kehidupan dari dalam rumah.

Dan sering kali, cinta itu bernama perempuan.


Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban.”