Cegah Pembangunan Semrawut, Mahasiswa PWK Unhas Gagas Tata Ruang dan Masterplan Agromaritim di Desa Wapia-Pia

  • Whatsapp
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Maritim Gelombang 115 Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan solusi konkret bagi Desa Wapia-Pia, Kecamatan Wangi-Wangi, berupa dokumen Peta Rencana Pola Ruang dan Masterplan Ekowisata Agromaritim.

WAKATOBI – Pesona Wakatobi sebagai destinasi wisata kelas dunia tidak hanya terletak pada keindahan bawah lautnya, tetapi juga pada tata kelola daratannya.

Menyadari pentingnya keselarasan antara pembangunan infrastruktur dan kelestarian alam, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Maritim Gelombang 115 Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan solusi konkret bagi Desa Wapia-Pia, Kecamatan Wangi-Wangi, berupa dokumen Peta Rencana Pola Ruang dan Masterplan Ekowisata Agromaritim.

Program kerja inisiatif individu ini disusun oleh Dzul Karnain (biasa disapa Zul), mahasiswa tingkat akhir Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Teknik Unhas. Inisiatif ini lahir dari hasil observasi lapangan selama dua bulan masa pengabdian (Desember 2025 – Februari 2026), di mana ditemukan bahwa pembangunan fisik di desa tersebut masih berjalan secara organik tanpa acuan zonasi yang jelas.

Menjawab Tantangan Tata Ruang Desa

Desa Wapia-Pia memiliki topografi yang unik, membentang dari pesisir pantai hingga perbukitan karst yang curam. Tanpa adanya regulasi spasial, ekspansi permukiman penduduk dikhawatirkan akan merambah kawasan lindung atau melanggar garis sempadan pantai.

“Masalah utama di banyak desa wisata yang sedang berkembang adalah alih fungsi lahan yang tidak terkendali. Seringkali rumah dibangun di area resapan air atau menutupi akses publik ke pantai. Oleh karena itu, Peta Rencana Pola Ruang ini kami susun sebagai instrumen pengendalian pemanfaatan ruang,” jelas Zul saat ditemui usai acara Seminar Hasil di Kantor Desa Wapia-Pia, Senin (09/02/2026).

Dalam dokumen peta berskala 1:3.000 tersebut, wilayah desa dibagi secara tegas ke dalam dua klasifikasi utama: Kawasan Lindung dan Kawasan Budidaya. Kawasan lindung meliputi area hutan karst di sisi timur desa yang berfungsi sebagai tangkapan air, serta sempadan pantai yang wajib bebas dari bangunan permanen.

Sementara itu, kawasan budidaya mencakup zona perumahan, fasilitas umum, dan area perkebunan yang diarahkan untuk mendukung ekonomi warga.

Konsep Agromaritim: Mengawinkan Kebun Mete dan Wisata Bahari

Tidak hanya mengatur batasan lahan, Zul juga merancang Masterplan Ekowisata dengan konsep Agromaritim. Konsep ini mencoba mengintegrasikan potensi perkebunan jambu mete (agro) yang menjadi komoditas utama desa dengan potensi wisata pesisir (maritim) dan bentang alam karst.

Melalui survei partisipatif, mahasiswa KKN berhasil memetakan jalur wisata baru (trekking route) yang menghubungkan kebun-kebun warga dengan berbagai hidden gem atau permata tersembunyi yang selama ini belum terekspos.

Beberapa titik potensial yang dimasukkan dalam masterplan antara lain Bukit Savana Karst yang menawarkan pemandangan ilalang eksotis layaknya di Sumba, serta Celah Tebing Berair (Natural Pool) yang menyuguhkan sensasi berendam di air tawar jernih di tengah himpitan dinding batu purba.

“Kami ingin mengubah pola pikir bahwa wisata Wakatobi itu hanya laut. Di Wapia-Pia, kami mendesain agar wisatawan bisa menikmati pengalaman farm trekking, berjalan menyusuri kebun mete, menikmati sunset di bukit savana, lalu berakhir di pemandian alam celah tebing. Semua itu kami petakan jalurnya agar tidak merusak ekosistem,” tambah Zul.

Warisan untuk Pembangunan Berkelanjutan

Kepala Desa Wapia-Pia, Hendri, S.Pd, menyambut baik dan mengapresiasi tinggi hasil kerja mahasiswa KKN Unhas ini. Menurutnya, dokumen spasial ini adalah “oleh-oleh” paling berharga yang bisa digunakan untuk jangka panjang.

Selama ini, pihak desa seringkali kesulitan dalam merencanakan pembangunan infrastruktur karena ketiadaan peta dasar yang akurat.

“Kehadiran Peta Pola Ruang dan Masterplan ini menjadi angin segar bagi kami. Dokumen ini akan menjadi acuan dasar atau blueprint bagi Pemerintah Desa dalam menyusun Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) ke depannya. Kami jadi tahu mana area yang boleh dibangun dan mana yang harus dijaga ketat,” ungkap Hendri.

Melalui program kerja ini, diharapkan Desa Wapia-Pia dapat bertransformasi menjadi desa wisata yang tidak hanya menjual keindahan alam semata, tetapi juga memiliki tata kelola ruang yang rapi, berwawasan lingkungan, dan berdaya saing global.

Dokumen ini sekaligus membuktikan peran nyata mahasiswa dalam menghilirisasi ilmu pengetahuannya demi kemajuan desa tertinggal.

Penulis Dzul Karnain