Catatan Denun | Temba’ Temba’ Mainan, Homo Festivus, dan Homo Ludens di Tengah Gemerlap Urban

  • Whatsapp
Ilustrasi oleh AI
  • Ketika batas itu runtuh, permainan berubah menjadi kekacauan. Di sinilah refleksi menjadi penting. Hedonisme kota memang cermin sifat dasar manusia yang mendambakan kebahagiaan.
  • Filsuf seperti Epicurus menekankan bahwa kebahagiaan lahir dari kemampuan mengelola kesenangan secara bijak dan menghindari penderitaan yang tidak perlu. Dalam konteks kota modern, ajaran ini terasa relevan.

PELAKITA.ID – Kota Makassar hingga Sungguminasa belakangan ini dihentak oleh maraknya aksi “mainan” bersenjata—senjata plastik yang oleh anak-anak urban disebut temba’ temba’.

Apa yang bagi sebagian remaja dianggap sekadar permainan dan ekspresi riang, bagi banyak warga lain menghadirkan kegelisahan. Bahkan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, telah menyatakan keprihatinannya atas fenomena yang kian marak dan berpotensi mengganggu ketertiban publik.

Kota-kota seperti Makassar, Sungguminasa, hingga Maros pada dasarnya adalah panggung besar tempat manusia memainkan perannya.

Di antara gedung-gedung, pusat perbelanjaan, lampu neon, dan lorong-lorong padat, tersimpan satu watak klasik manusia: kecenderungan untuk bermain dan berpesta.

Dalam tradisi pemikiran sosial, manusia sering disebut sebagai homo festivus—makhluk yang menemukan makna eksistensinya melalui perayaan, hura-hura, dan konsumsi pengalaman yang menggembirakan. “

Temba’ temba’ mainan” pun dapat dibaca sebagai metafora: hidup kota yang serba cepat kerap diperlakukan seperti arena permainan tanpa jeda.

Sebelum menjadi homo festivus, manusia terlebih dahulu adalah homo ludens. Istilah ini diperkenalkan oleh sejarawan budaya Belanda, Johan Huizinga, dalam karyanya Homo Ludens. Huizinga menegaskan bahwa bermain bukan sekadar aktivitas sampingan, melainkan fondasi kebudayaan.

Hukum, seni, ritual, bahkan perang, memiliki unsur permainan—ada aturan, simbol, peran, dan panggung. Dalam perspektif ini, aksi temba’ temba’ dapat dilihat sebagai dorongan purba untuk bermain, untuk merasakan adrenalin, solidaritas kelompok, dan sensasi menjadi “aktor” di ruang publik.

Di sisi lain, problem muncul ketika ruang bermain melebur tanpa batas dengan ruang publik. Jalan raya bukan arena permainan, dan keselamatan bersama bukan properti yang bisa dipertaruhkan demi sensasi.

Di sinilah garis tipis antara homo ludens dan homo festivus menjadi kabur. Bermain yang seharusnya tunduk pada aturan justru berubah menjadi perayaan ego yang mengabaikan orang lain.

Zigzag di jalan, menggeber motor tanpa helm, sambil menenteng senjata mainan dan merekamnya untuk media sosial—semua itu bukan lagi sekadar permainan, melainkan okupasi atas hak keselamatan publik.

Sejak masa Yunani Kuno, filsafat hedonisme telah mengajarkan bahwa kesenangan adalah bagian dari hidup.

Filsuf seperti Epicurus menekankan bahwa kebahagiaan lahir dari kemampuan mengelola kesenangan secara bijak dan menghindari penderitaan yang tidak perlu. Dalam konteks kota modern, ajaran ini terasa relevan.

Pesta, nongkrong, konvoi, atau konten viral pada dasarnya tidak keliru. Yang menjadi soal adalah ketika kesenangan pribadi justru memproduksi risiko dan ketakutan bagi orang lain.

Kota modern, dengan media sosial dan algoritmanya, memperkuat watak performatif generasi muda. Setiap aksi bisa direkam, diunggah, dan diuji oleh jumlah penonton.

Dalam ekosistem ini, manusia bukan hanya homo ludens yang bermain, atau homo festivus yang berpesta, tetapi juga makhluk digital yang membangun citra diri.

Temba’ temba’ menjadi bukan sekadar mainan, melainkan properti dalam panggung virtual—simbol keberanian, solidaritas geng, atau bahkan sumber cuan konten.

Padahal, hakikat bermain menurut Huizinga selalu mengandaikan batas: ada aturan, ada kesadaran bahwa permainan berbeda dari kehidupan nyata.

Ketika batas itu runtuh, permainan berubah menjadi kekacauan. Di sinilah refleksi menjadi penting. Hedonisme kota memang cermin sifat dasar manusia yang mendambakan kebahagiaan.

Bermain dan berpesta adalah bagian dari sejarah panjang peradaban. Namun kota modern menuntut kedewasaan baru: kesadaran bahwa kebebasan pribadi berhenti ketika ia mulai mengganggu keselamatan dan ketenteraman orang lain.

Akhirnya, temba’ temba’ mainan adalah tanda zaman—simbol energi muda yang meluap di tengah gemerlap urban. Ia bisa menjadi ruang ekspresi yang sehat jika dikelola dengan bijak, diarahkan ke arena yang tepat, dan tidak merampas ruang publik.

Tanpa kesadaran itu, gemerlap kota mudah berubah menjadi ilusi kebebasan.

Dengan kedewasaan, homo ludens dan homo festivus dapat berdamai: bermain secukupnya, berpesta sewajarnya, dan tetap menghormati kehidupan bersama.

Jangan sampai permainan kehilangan maknanya hanya karena lupa batas.

__

Denun, Somba Opu, 4 Maret 2026

—- Homo Ludens, pertama kali disampaikan almarhum Nirwan Ahmad Arsuka ke penulis pada suatu sore di sudut Jakarta Selatan. Alfatihah.