Kolom S. Syarif | Menguatkan Prioritas Nasional di Tengah Dinamika Global

  • Whatsapp
Ilustrasi posisi global dan domestik Indonesia (ilustrasi oleh AI)

Negara yang matang tidak terburu-buru membuktikan dirinya di luar, melainkan terlebih dahulu memastikan stabilitas di dalam. Dalam dunia yang penuh sorotan, kemampuan menahan diri sering kali justru menunjukkan kedewasaan kepemimpinan.

PELAKITA.ID – Ketika suhu geopolitik dunia meningkat dan ketegangan terjadi di sejumlah kawasan strategis seperti sekitar Selat Hormuz, banyak negara bereaksi cepat.

Ada yang mengedepankan diplomasi, ada yang memperkuat retorika, dan ada pula yang meningkatkan intensitas kunjungan serta komunikasi luar negeri.

Indonesia tentu perlu mengikuti perkembangan tersebut dengan cermat. Namun dalam setiap dinamika global, selalu ada pertanyaan mendasar yang patut direnungkan: apakah semua respons eksternal selalu menjadi prioritas utama dibandingkan pekerjaan rumah di dalam negeri?

Antara Peran Global dan Tanggung Jawab Domestik

Ketegangan antara sejumlah negara seperti Iran dan Israel berdampak pada harga energi serta stabilitas ekonomi global. Dampaknya bisa merembet ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Kebijakan yang paling dirasakan rakyat bukanlah pernyataan di forum internasional, melainkan stabilitas harga pangan, ketersediaan lapangan kerja, dan kepastian ekonomi.

Dalam konteks ini, peran global yang proporsional jauh lebih efektif dibandingkan aktivisme yang berlebihan. Diplomasi tetap penting, tetapi fondasi domestik jauh lebih menentukan.

Energi Bangsa: Ke Dalam atau Ke Luar?

Tidak bisa dimungkiri, kehadiran dalam forum global memiliki nilai strategis. Akan tetapi, efektivitas kepemimpinan pada akhirnya diukur dari dampaknya bagi rakyat.

Publik hari ini semakin rasional. Mereka tidak semata-mata menilai seberapa sering pemimpinnya hadir di panggung internasional, tetapi seberapa kuat hasil konkret yang dirasakan di dalam negeri.

Apakah daya beli terjaga? Apakah lapangan kerja bertambah? Apakah reformasi birokrasi berjalan konsisten?

Kunjungan luar negeri bisa menjadi instrumen diplomasi. Namun diplomasi yang produktif selalu diimbangi dengan konsolidasi internal yang kuat.

Tanpa fondasi domestik yang kokoh, eksposur global berisiko menjadi simbolik semata.

Ketahanan Ekonomi sebagai Prioritas Sunyi

Lonjakan harga energi akibat ketegangan di sekitar Selat Hormuz dapat memengaruhi fiskal dan inflasi.

Respons yang paling relevan bukanlah memperluas panggung peran, melainkan mempercepat reformasi struktural: memperkuat ketahanan energi, meningkatkan efisiensi anggaran, dan memastikan distribusi pangan tetap stabil.

Di sinilah kerja sunyi menjadi lebih penting daripada kerja simbolik.

Negara yang matang tidak terburu-buru membuktikan dirinya di luar, melainkan terlebih dahulu memastikan stabilitas di dalam. Dalam dunia yang penuh sorotan, kemampuan menahan diri sering kali justru menunjukkan kedewasaan kepemimpinan.

Fokus yang Membumi

Dunia akan selalu bergejolak. Konflik datang dan pergi sesuai siklus sejarah. Tetapi kesejahteraan rakyat tidak bisa menunggu stabilitas global.

Karena itu, energi bangsa sebaiknya diarahkan pada agenda yang lebih membumi:

– memperkuat industri domestik,
– mempercepat inovasi dan riset,
– menata ulang kebijakan subsidi agar lebih tepat sasaran,
– serta memperbaiki tata kelola pemerintahan secara konsisten.

Peran internasional tetap dijalankan, namun tidak perlu berlebihan. Diplomasi tetap aktif, tetapi tidak perlu merasa selalu menjadi pusat perhatian.

Kepemimpinan yang Tenang

Dalam setiap masa krisis, ada kecenderungan untuk menunjukkan kemampuan secara terbuka. Namun sejarah membuktikan bahwa kepemimpinan yang efektif bukanlah yang paling sering terlihat, melainkan yang paling terasa hasilnya.

Indonesia tidak perlu merasa menjadi pusat panggung dunia. Yang lebih penting adalah memastikan rumah tangga nasional tertata dengan baik.

Kadang, ukuran kebesaran sebuah bangsa bukan pada seberapa luas ia bergerak ke luar, tetapi seberapa kokoh ia berdiri di dalam.

Dan dalam dunia yang riuh, ketenangan yang produktif adalah bentuk kepemimpinan yang paling elegan.

____
Penulis adalah alumni dan anggota Ikafe Unhas angkatan 84