Di Tengah Tekanan Fiskal dan Ujian Defisit APBN
Blok-blok ekonomi mulai mengkristal, proteksionisme kembali menguat, dan sanksi ekonomi digunakan sebagai instrumen politik. Perdagangan tidak lagi netral; ia menjadi alat kekuasaan.
PELAKITA.ID – Pasca–Perang Dingin, dunia tampak bergerak menuju integrasi penuh. Perdagangan bebas berkembang, rantai pasok lintas benua terhubung, dan globalisasi dianggap sebagai keniscayaan sejarah.
Kini, lanskap itu berubah drastis. Rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok semakin mengeras.
Blok-blok ekonomi mulai mengkristal, proteksionisme kembali menguat, dan sanksi ekonomi digunakan sebagai instrumen politik. Perdagangan tidak lagi netral; ia menjadi alat kekuasaan.
Fenomena ini dikenal sebagai fragmentasi ekonomi global—bukan sekadar perlambatan globalisasi, melainkan pembelahan sistem ekonomi dunia ke dalam kubu-kubu strategis yang saling bersaing.
Indonesia berada tepat di tengah pusaran perubahan ini.
Indonesia dalam Pusaran Rivalitas Kekuatan Besar
Setiap kehadiran Presiden Indonesia di forum global—termasuk inisiatif internasional seperti Board of Peace (BoP)—selalu dibaca dunia sebagai sinyal geopolitik.
Dalam konteks geopolitik baru:
-
Rantai pasok menentukan posisi politik.
-
Investasi menentukan pengaruh strategis.
-
Akses teknologi menentukan kedaulatan masa depan.
Jika Indonesia terlalu condong ke satu blok, risiko ketergantungan meningkat.
Jika terlalu pasif, peluang pertumbuhan justru hilang.
Di sinilah dilema geopolitik Indonesia hari ini.
Fragmentasi Global dan Tekanan terhadap APBN
Fragmentasi ekonomi global berdampak langsung pada kondisi fiskal nasional.
Pertama, volatilitas nilai tukar.
Ketegangan geopolitik mendorong arus modal global bergerak tidak stabil. Ketika investor mencari safe haven, tekanan terhadap rupiah meningkat, sekaligus menaikkan beban pembayaran utang luar negeri.Kedua, beban subsidi energi dan pangan.
Gangguan rantai pasok global mendorong lonjakan harga energi dan pangan. Untuk menjaga stabilitas sosial dan inflasi, pemerintah harus memperluas subsidi—yang berarti tekanan tambahan bagi APBN.Ketiga, meningkatnya biaya utang.
Suku bunga global yang tinggi membuat pembiayaan defisit semakin mahal. Beban bunga menggerus ruang fiskal yang seharusnya dialokasikan untuk pembangunan produktif.
APBN bukan sekadar kumpulan angka; ia adalah cermin kedaulatan fiskal. Ketika ruang fiskal menyempit, kapasitas negara untuk bertindak pun ikut terbatas.
Defisit APBN: Antara Stimulus dan Risiko
Defisit APBN tidak selalu bermakna buruk. Dalam teori fiskal, defisit dapat berfungsi sebagai instrumen stimulus untuk menjaga pertumbuhan. Defisit menjadi berbahaya ketika:
-
Pertumbuhan ekonomi tidak cukup tinggi untuk menutup beban bunga.
-
Rasio utang meningkat tanpa diiringi peningkatan produktivitas.
-
Belanja negara lebih bersifat konsumtif daripada produktif.
Dalam era geopolitik yang terfragmentasi, risiko eksternal membesar. Setiap guncangan global berpotensi langsung mempersempit ruang manuver fiskal Indonesia.
Risiko Ketergantungan Struktural
Fragmentasi global memaksa negara-negara memilih blok ekonomi tertentu. Ketergantungan pada satu pasar ekspor, satu sumber investasi, atau satu rantai pasok teknologi meningkatkan risiko sistemik.
Kedaulatan ekonomi bukan hanya soal kepemilikan sumber daya, melainkan soal keluasan pilihan. Semakin sempit pilihan, semakin rapuh kedaulatan.
UMKM dan Industri Nasional di Dunia yang Terbelah
Negara-negara besar kini memperkuat industrinya melalui subsidi masif dan proteksi terselubung.
Jika Indonesia membuka pasar tanpa strategi:
-
Produk impor berteknologi tinggi masuk lebih cepat.
-
Industri lokal tertinggal.
-
UMKM semakin terpinggirkan.
Ironisnya, fragmentasi global justru menuntut penguatan domestik, bukan liberalisasi tanpa arah. Tanpa strategi hilirisasi dan industrialisasi yang konsisten, Indonesia akan terus berada di posisi paling rentan: pemasok bahan mentah dalam dunia yang terbelah.
Jalan Strategis: Menjaga Keseimbangan
Untuk bertahan dan tumbuh, Indonesia membutuhkan tiga strategi utama:
-
Diversifikasi Mitra Ekonomi
Tidak bergantung pada satu blok, satu pasar, atau satu sumber modal. -
Penguatan Industri Domestik
Hilirisasi, penguasaan teknologi, dan transformasi UMKM agar terhubung dengan rantai nilai global. -
Disiplin Fiskal Berbasis Produktivitas
Defisit diarahkan pada belanja produktif, bukan populisme jangka pendek.
Tanpa disiplin fiskal, setiap guncangan global akan langsung menggoyahkan fondasi domestik.
Ujian Kedaulatan di Era Fragmentasi
Geopolitik baru bukan sekadar konflik antarnegara. Ia adalah kompetisi ekonomi, teknologi, dan pengaruh fiskal.
Indonesia tidak bisa menghindari pusaran ini. Namun Indonesia masih memiliki pilihan:
menjadi pemain yang cermat—menjaga keseimbangan dan memperkuat fondasi domestik—atau menjadi korban arus besar yang tak mampu dikendalikan.
Defisit APBN, utang, dan tekanan fiskal bukan sekadar isu teknis. Ia adalah indikator ketahanan negara di tengah dunia yang terbelah.
Kedaulatan bukan hanya soal batas wilayah. Kedaulatan adalah kemampuan membiayai masa depan sendiri, tanpa dikendalikan oleh tekanan eksternal. Di era fragmentasi global, inilah ujian terbesar bangsa.
____
S. Syarif, adalah alumni FEB Unhas, anggota Ikafe 84, kini tinggal di Jakarta









