Di bawah pemerintahan Abdurrahman III menjadikan Cordoba kekhalifahan yang menyaingi Baghdad dan Konstantinopel. Cordoba merupakan kota tercanggih dan terbesar di Eropa saat itu.
PELAKITA.ID – Abad ke-8 atau tahun 701–800 Masehi, saat Eropa memasuki masa yang gelap, Amerika Serikat terisolasi. Sementara di wilayah yang dikuasai kekaisaran Islam, kotanya dipenuhi cahaya, Baghdad dengan Baitul Hikmah rumah bagi pemikir keilmuan, cahayanya lebih terang dibanding Paris saat ini,
Cordoba (Andalusia) lebih berilmu daripada Roma. Suriah Damaskus, kota perdagangan, penghasil pangan terbaik dunia dan pusat budaya pada zamannya.
Tiga kota peradaban Islam ini bukan cerita dongeng. Tetapi masa di mana Eropa penuh kegelapan, gulita. Tak ada kompas untuk arah perjalanan sebuah kehidupan.
Entah, dunia seperti apa? Seandainya kota kota peradaban Islam tersebut tak melahirkan sejarah dan pemikir pemikir ilmu pengetahuan yang kemudian berkembang mengisi atmosfer bumi dan seisinya.
#NarasiAno yang sedang ngopi! Inilah kisah peradaban Cordoba Provinsi Andalusia di Spanyol, kota yang menerangi Eropa pada abad ke 8 hingga 10. Kota di mana Adzan dan Filsafat berdampingan.
Kisah bercerita saat seorang pelancong dari Eropa Utara mampir di Cordoba.
Dia heran menyaksikan kota Cordoba yang bermandikan cahaya, ribuan lampu lampu terpasang di tepi jalan, rumah megah bertingkat dan berpintu berlapis emas, serta saluran air yang bersih.
Dia heran sebab di kota asalnya, jika matahari terbenam suasana gelap gulita, jalan dipenuhi becek dan lumpur. Tetapi di Cordoba ini sang pelancong takjub menyaksikan suasana kota modern.
Bukan hanya bermandikan cahaya. Di Cordoba berdiri 70 perpustakaan, ratusan taman permandian, berdiri megah lebih 300 masjid yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah tetapi menjadi pusat ilmu pengetahuan pada zamannya.
Kota ini didirikan oleh Abdurrahman Ad-Dakhil pada masa Daullah Umayyah II. Peradaban Cordoba di Andalusia adalah puncak kejayaan Islam di Eropa, menjadikan Cordoba pusat ilmu pengetahuan, seni, dan toleransi beragama.
Kehadiran Masjid Agung Cordoba (La Mezquita) dan istana Madinah Azahara adalah bukti keahlian arsitektur Islam yang memukau.
Selain Masjid Agung, di Cordoba berdiri kampus Universitas Cordoba dan perpustakaan besar milik Al-Hakam II yang menampung 400 ratus ribu naskah dan ratusan ribu buku. Sangat kontras dengan kehidupan Eropa saat itu.
Kebesaran Cordoba menyebabkan ilmuan ilmuwan dunia menjadikan kota ini sebagai tempat pertemuan ilmuwan baik Muslim, Kristen, dan Yahudi. Pemerintahan Cordoba tidak hanya menjadikan ilmu untuk mereka sendiri tetapi dapat digunakan pula oleh agama lain, warga dunia.
Lantaran pertemuan kerapkali berlangsung di Cordoba sehingga melahirkan kemajuan sains, filsafat, dan kedokteran. Banyak sekali ilmu pengetahuan ditemukan oleh ilmuan Muslim di Andalusia. Seperti Afelus dalam Filsafat dan Hukum, Ibnu Rusyd menulis tentang Filsafat,
Ibnu Hasyim menulis cinta dan Fikhi, Al Zahrawi dalam kedokteran. Seluruh karya karya mereka diterjemahkan dalam bahasa latin.
Cahaya lampu di Andalusia bukan sekadar lampu yang menerangi kota nya tetapi cahaya penerangan bagi dunia keilmuan di Eropa dan benua lainnya secara harfiah dan metafors .
Kala Eropa sedang gelap dalam ilmu pengetahuan, peradaban Islam datang membawa cahaya penerang. Bukan hanya cahaya lampu berkemilau tetapi juga cahaya bagi intelektual. Cahaya bagi Eropa yang baru mengenal “seni dan toleransi”.
Islam mulai berkuasa di Andalusia diawali dari Semenanjung Iberia di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad atas komando Musa bin Nusair.
Di bawah pemerintahan Abdurrahman III menjadikan Cordoba kekhalifahan yang menyaingi Baghdad dan Konstantinopel. Cordoba merupakan kota tercanggih dan terbesar di Eropa saat itu.
Baiklah pembaca #NarasiAno. Semoga tulisan singkat ini menambah literasi anda, bahwa seperti apa keju ini ? Seandainya kota kota berperadaban Islam tak hadir di dunia ?
Selamat berpuasa. Sekedar kabar, terdapat doa khusus yang sering diamalkan pada hari ke-12, yaitu memohon agar dihiasi dengan sifat merasa cukup, kesucian diri, serta mohon penjagaan dari hal-hal yang ditakuti.
#Seri10
#Ramadan1447H
NarasiAno, Tenang Dibaca, Kuat Dirasakan









