PELAKITA.ID – Peluncuran tiga buku oleh YKL Indonesia bukan sekadar seremoni penerbitan, melainkan penanda penting perubahan cara kerja organisasi masyarakat sipil dalam mendorong agenda konservasi dan kebijakan berbasis pengetahuan.
Dalam forum bedah buku 3 Buku Baru YKL Indonesia yang dirangkaikan dengan buka puasa pada 28 Februari 2026, di Aston Hotel, sejumlah tanggapan kritis dan reflektif muncul dari kalangan akademisi, alumni, hingga pelaku industri kelautan—menunjukkan bahwa buku dapat menjadi jembatan lintas arena perjuangan.

Akademisi: Advokasi Harus Bertumpu pada Pengetahuan
Dr. Rijal Idrus, Ketua Pusat Studi Perubahan Iklim Universitas Hasanuddin, menilai produktivitas menulis YKL sebagai sebuah fenomena baru dalam dunia LSM.
Menurutnya, tidak banyak organisasi advokasi yang konsisten mendokumentasikan kerja-kerjanya dalam bentuk buku.
Ia mengingatkan bahwa lebih dari satu dekade lalu, LSM kerap dipersepsikan semata sebagai kelompok demonstran jalanan.
Padahal, kata dia, demonstrasi hanyalah satu instrumen advokasi. Tantangan hari ini jauh lebih kompleks: birokrasi semakin cakap, banyak pejabat publik telah bergelar magister dan doktor, sehingga advokasi tanpa data dan basis pengetahuan akan mudah terpatahkan.
“Kalau hanya mengandalkan demo tanpa data, itu akan sulit. Evidence-based knowledge sekarang menjadi kunci,” tegasnya.
Dalam konteks inilah, tiga buku YKL dipandang sebagai modal strategis. Dengan spesialisasi pada konservasi laut, YKL dinilai memiliki posisi kuat untuk “naik kelas” sebagai rujukan pengetahuan dalam perdebatan kebijakan kelautan.
Menurutnya, buku identik dengan dunia akademik, namun justru di sinilah nilai pentingnya bagi gerakan masyarakat sipil.
Pengetahuan yang ditulis dan dipublikasikan membuat pengalaman lapangan tidak hilang sebagai cerita lisan semata, tetapi menjadi arsip intelektual yang bisa diuji, dirujuk, dan diwariskan.
Sementara itu, founder media maritim Pelakita.ID yang juga alumni Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas, Kamaruddin Azis, menautkan capaian ini dengan identitas Unhas sebagai kampus maritim, yang alumninya kini tersebar di LSM, pemerintahan, hingga sektor privat—membuktikan bahwa jalur akademik dan advokasi dapat saling menguatkan.
Namun ia juga memberi catatan penting: advokasi ke depan perlu didesain lebih strategis agar benar-benar mampu mengubah kebijakan, termasuk di tingkat kota seperti Makassar.

Ia juga menekankan bahwa bagi alumni Unhas, capaian YKL adalah bukti konkret bahwa kampus tidak berhenti di ruang kelas. Pengetahuan kelautan yang dipelajari puluhan tahun lalu kini bertransformasi menjadi kerja advokasi dan produksi pengetahuan yang relevan dengan tantangan zaman.
Buku, dalam pandangannya, adalah fondasi awal dari perubahan yang lebih sistemik.Ia melihat peluncuran buku-buku YKL sebagai tanda kedewasaan organisasi yang selama ini lebih dikenal melalui kerja lapangan dan diskusi informal.
Agus Saputra, perwakilan pengusaha gurita PT Kemilau Bintang Timur (KBT) ikut memberikan tanggapan.
“Selama ini kita sering bertemu di warung kopi, berdiskusi soal laut dan pesisir. Tapi tiba-tiba muncul acara seperti ini, dengan beberapa buku sekaligus. Itu kejutan yang menyenangkan,” ujarnya.
Perwakilan pengusaha gurita melihat terbitnya tiga buku YKL dari sudut pandang industri. Kalma mengaku kagum dengan kedalaman dan keterbukaan informasi yang disajikan, khususnya mengenai potensi kelautan di Selat Makassar yang dijelaskan secara gamblang dan sistematis.
Namun, ia juga mengingatkan adanya risiko dari keterbukaan tersebut. Informasi yang terlalu detail tentang potensi sumber daya laut, jika tidak diimbangi dengan tata kelola dan regulasi yang kuat, justru dapat memicu eksploitasi berlebihan.
“Ini kekuatan sekaligus tantangan. Pengetahuan bisa menjadi alat konservasi, tapi juga bisa menarik eksploitasi jika tidak dikawal,” ujarnya.
Pandangan ini memperkaya diskusi bahwa buku bukan hanya alat edukasi, tetapi juga instrumen politik-ekonomi yang perlu ditempatkan secara hati-hati dalam ekosistem pengelolaan sumber daya alam.
Buku sebagai Simpul Perjumpaan
Peluncuran tiga buku YKL Indonesia memperlihatkan satu hal penting: pengetahuan mampu menjadi simpul perjumpaan antara akademisi, aktivis, alumni, dan pelaku industri.
Buku tidak lagi berdiri sebagai produk akademik semata, melainkan sebagai alat advokasi, refleksi, dan peringatan.
Di tengah kompleksitas isu kelautan dan pesisir, langkah YKL menulis dan menerbitkan buku menunjukkan bahwa perubahan tidak hanya digerakkan oleh aksi di jalan, tetapi juga oleh gagasan yang ditata rapi, diuji secara ilmiah, dan dibagikan kepada publik.
Dalam konteks inilah, pengetahuan bukan tujuan akhir, melainkan fondasi untuk perubahan yang lebih berkelanjutan.








