Refleksi Menjelang Fajar (6) | Iblis Dibelenggu, Manusia?

  • Whatsapp
Ilustrasi oleh AI

PELAKITA.ID – Di sebuah ruang batin yang tak terlihat mata, terjadi percakapan yang tak tercatat sejarah.

Manusia: “Wahai Iblis, bukankah kau telah dibelenggu? Mengapa bayangmu masih terasa dalam dadaku?”

Iblis : “Aku dibelenggu, ya. Tapi aku tak pernah memaksamu. Aku hanya membisikkan. Kau yang membuka pintu.”

Angin malam membawa gema sabda Nabi SAW, sebagaimana diriwayatkan oleh dan dicatat oleh serta: Ketika Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.

Namun malam itu, manusia mulai gelisah.

Manusia: “Jika kau terikat, mengapa amarahku tetap menyala? Mengapa hasratku tetap bergejolak? Mengapa riya masih menyelinap dalam ibadahku?”

Iblis: “Karena aku bukan sumber api itu. Aku hanya meniup bara yang sudah kau simpan.”

Hening….

Ramadan sejatinya bukan sekadar bulan ketika makhluk gaib diikat. Ia adalah musim ketika tabir diri disingkap. Lapar menyingkap kerakusan. Dahaga menelanjangi kesombongan. Tarawih memantulkan bayangan riya.

Puasa adalah cermin. Dan tak semua siap bercermin.

Manusia : “Jadi selama ini aku menyalahkanmu untuk dosa-dosaku?”

Iblis: “Kau menyukai kambing hitam. Padahal nafsumu jauh lebih setia padamu daripada aku.”

Di luar sana, orang-orang sibuk berburu pahala. Di dalam dada, peperangan lebih sunyi terjadi. Ramadan mengurangi gangguan eksternal, agar manusia menghadapi musuh internalnya.

Iblis yang dibelenggu hanyalah simbol. Yang sesungguhnya diminta terbelenggu adalah ego.

Manusia: “Lalu apa gunanya Ramadan jika aku tetap jatuh?”

Iblis: “Agar kau tahu, jatuhmu bukan karena aku kuat, tetapi karena kau belum benar-benar ingin bangkit.”

Suasana laksana subuh yang menunggu fajar.

Ramadan adalah laboratorium kesadaran. Allah membuka pintu surga bukan sekadar sebagai janji, tetapi sebagai undangan. Neraka ditutup bukan hanya sebagai ancaman yang ditunda, tetapi sebagai kesempatan yang diperluas.

Dan setan dibelenggu agar manusia berhenti bersembunyi.

Manusia: “Jika begitu, siapa yang harus aku kalahkan?”

Iblis: “Dirimu yang menolak tunduk.”

Malam semakin larut. Dalam sujudnya, manusia mulai memahami sesuatu yang pahit sekaligus membebaska. Musuh terbesar tidak pernah sepenuhnya berada di luar.

Ramadan datang bukan untuk memenjarakan Iblis saja, tetapi untuk membebaskan manusia dari ketergantungan pada alasan.

Jika di bulan ketika setan dibelenggu hati masih keras, maka yang perlu dirantai bukan makhluk gaib, melainkan kesombongan yang tak kasatmata.

Dan di ujung dialog sunyi itu, Iblis menghilang dalam gelap. Bukan karena kalah, tetapi karena manusia akhirnya menatap dirinya sendiri.

Ramadan bukan tentang siapa yang dibelenggu. Ia tentang siapa yang dibebaskan.

Dan kebebasan terbesar adalah ketika manusia berhenti menyalahkan Iblis dan mulai membangun kesadaran.

Penulis: Muliadi Saleh