Jejak Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Tanah Wajo

  • Whatsapp
Jejak Masjid Tua Tosora (dok: IDN Times)

Wajo akhirnya menerima Islam sekitar tahun 1610 M, mengikuti arus perubahan politik dan religius di kawasan tersebut.

PELAKITA.ID – Masuk dan berkembangnya Islam di Tanah Wajo—kini menjadi wilayah Kabupaten Wajo—memiliki rujukan sejarah yang cukup jelas dalam literatur lokal maupun kajian akademik.

Proses islamisasi di wilayah Bugis ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui dinamika sosial, politik, dan kultural yang berlangsung selama beberapa dekade.

Islamisasi Wajo pada Akhir Abad ke-16 hingga Awal Abad ke-17

Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa Islam mulai berkembang signifikan di Wajo pada akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17. Proses ini berlangsung dalam konteks perubahan sosial-politik di Sulawesi Selatan, terutama akibat interaksi antar kerajaan Bugis-Makassar dan pengaruh ekspansi Islam dari Kesultanan Gowa.

Dalam artikel Anisah Alamshah dan Susmihara, “Religious Transformation in Wajo: The Islamization Era 1582–1626” yang dimuat di Rihlah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan, disebutkan bahwa Kerajaan Wajo secara resmi memeluk Islam pada 15 Safar 1019 H atau 9 Mei 1610 M.

Pada tanggal tersebut, raja Wajo bernama La Sangkuru Patau menerima Islam dan kemudian bergelar Sultan Abd. Rahman.

Sejak saat itu, Islam tidak hanya menjadi agama pribadi penguasa, tetapi juga diintegrasikan ke dalam sistem pemerintahan dan norma adat melalui konsep Pangngadereng—yakni perpaduan antara adat Bugis dan prinsip-prinsip syariah.

Keterangan ini juga diperkuat dalam buku klasik karya Abdurrazak Daeng Patunru berjudul Sejarah Wajo (Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, 1983), yang menjelaskan fase transisi Wajo dari kerajaan berbasis adat murni menuju kerajaan yang mengintegrasikan Islam dalam struktur kekuasaan.

Masjid Tua Tosora sebagai Bukti Historis

Salah satu bukti fisik perkembangan awal Islam di Wajo adalah keberadaan Masjid Tua Tosora di Desa Tosora, Kecamatan Majauleng. Masjid ini diperkirakan dibangun sekitar tahun 1621 M, tidak lama setelah Islam diterima sebagai agama resmi kerajaan.

Masjid Tosora menjadi simbol penting karena menunjukkan bahwa Islam telah memperoleh legitimasi politik dan dukungan institusional dari penguasa.

Dalam berbagai kajian sejarah lokal, masjid ini sering disebut sebagai saksi bisu transformasi spiritual dan sosial masyarakat Wajo pada abad ke-17.

Dinamika Politik dan Aliansi Tellumpoccoe

Secara politik, Wajo merupakan bagian dari aliansi Tellumpoccoe bersama Bone dan Soppeng.

Aliansi ini awalnya dibentuk untuk menghadapi tekanan dari Gowa. Namun, setelah Gowa memeluk Islam lebih dahulu dan memperluas pengaruhnya, kerajaan-kerajaan Bugis, termasuk Wajo, ikut menerima Islam.

Kajian Dewi Sartika dan Rahmawati Harisa dalam artikel “Musu’ Selleng dalam Hegemoni Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan” menjelaskan bahwa proses islamisasi di wilayah Bugis tidak terlepas dari dinamika hegemoni politik Gowa.

Wajo akhirnya menerima Islam sekitar tahun 1610 M, mengikuti arus perubahan politik dan religius di kawasan tersebut.

Jejak Lebih Awal: Tradisi Lisan tentang Syekh Tosora

Selain bukti dokumenter abad ke-17, terdapat pula tradisi lokal yang menyebut bahwa Islam telah diperkenalkan lebih awal di Wajo, bahkan sejak abad ke-14.

Penelitian Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan menyebut tokoh Syekh Jamaluddin Akbar Alhusaini, yang dikenal sebagai Syekh Tosora, sebagai salah satu figur awal penyebar Islam di wilayah ini.

Berdasarkan tradisi lisan dan keberadaan situs makam di Tosora, tokoh ini diyakini telah memperkenalkan ajaran Islam sebelum kerajaan secara resmi mengadopsinya.

Meski demikian, bukti dokumenter yang kuat dan terverifikasi tetap menunjukkan bahwa penerimaan resmi Islam oleh Kerajaan Wajo terjadi pada awal abad ke-17.

Rujukan Sejarah

Beberapa referensi penting yang dapat digunakan untuk kajian akademik maupun penulisan sejarah Islam di Wajo antara lain:

  • Abdurrazak Daeng Patunru. Sejarah Wajo. Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, 1983.

  • Anisah Alamshah & Susmihara. “Religious Transformation in Wajo: The Islamization Era 1582–1626.” Rihlah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan.

  • Dewi Sartika & Rahmawati Harisa. “Musu’ Selleng dalam Hegemoni Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan.”

  • Situs resmi Pemerintah Kabupaten Wajo (bagian sejarah daerah).

Kesimpulan

Secara historis, Islam kemungkinan telah dikenal masyarakat Wajo sejak abad ke-14 melalui jaringan ulama dan perdagangan. Namun, penerimaan Islam sebagai agama resmi kerajaan terjadi pada tahun 1610 M, ketika La Sangkuru Patau memeluk Islam dan bergelar Sultan Abd. Rahman.

Sejak saat itu, Islam menjadi bagian integral dari sistem pemerintahan dan adat Wajo. Keberadaan Masjid Tua Tosora menjadi bukti fisik penting dari fase transformasi tersebut dan hingga kini tetap menjadi rujukan utama dalam kajian sejarah Islam di Tanah Wajo.