Refleksi Menjelang Fajar (3) | Puasa dan Serigala Pikiran

  • Whatsapp
Ilustrasi oleh AI

Mungkin itulah salah satu hikmah terdalam puasa yakni  menjaga manusia agar tidak “mati” sebelum mati.  Tidak runtuh oleh kecemasan sebelum ujian benar-benar datang. Puasa melatih jiwa agar tetap tenang di tengah ancaman. Tetap yakin di tengah ketidakpastian.

PELAKITA.ID – Berabad silam seorang tabib dan filosof besar, melakukan eksperimen jiwa. Ia menempatkan dua domnba dalam kondisi sama: makanan cukup, air tersedia, kandang nyaman.

Seekor domba dibiarkan melihat serigala di kandang seberang, sementara domba yang lain tidak.

Serigala itu tak pernah menerkam. Ia hanya dihadirkan. Diam, tapi menakutkan. Hari-hari berlalu, domba yang terus menatap ancaman itu perlahan melemah, gelisah, kurus, hingga mati.

Domba kedua tetap sehat, gemuk dan aktif. Domba itu mati bukan oleh gigitan, melainkan oleh ketakutan yang dipelihara.

Kisah ini menegaskan bahwa pikiran dapat menjadi racun sekaligus obat bagi tubuh.

Sesungguhnya, banyak manusia hidup seperti domba pertama. Kita tidak selalu diserang kenyataan, tetapi sering dilukai bayangan.

Kekhawatiran ekonomi, tekanan sosial, ambisi tak selesai, atau ketakutan masa depan. Semuanya seperti serigala yang kita tatap terus-menerus.

Tubuh pun merespon dengan tidur gelisah, lambung perih, jantung berdebar. Kita lelah bukan karena hidup terlalu keras, tetapi karena pikiran terlalu gaduh.

Di sinilah puasa Ramadhan menemukan relevansinya. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga; ia latihan menenangkan persepsi.

Saat lapar datang, tubuh sebenarnya aman. Namun pikiran sering panik. Puasa mengajarkan bahwa tidak semua dorongan harus segera dipenuhi. Tidak semua rasa takut harus diikuti. Dari sanalah lahir ketenangan yang  menyehatkan jiwa.

Ramadhan menggeser arah pandang. Dari kecemasan dunia menuju ketenangan hati. Orang yang berpuasa belajar bahwa hidup tetap berjalan meski keinginan ditunda. Dari sana ego menipis, kecemasan mereda, hati menjadi lebih lapang menerima takdir.

Rasa lapar adalah cara melembutkan jiwa. Ego yang keras mudah cemas, mudah takut kehilangan.

Tetapi ego yang ditempa puasa lebih mudah tawakal. Ia tidak menutup mata dari realitas, tetapi menolak menjadikan ketakutan sebagai pusat hidup. Ia tahu bahwa banyak “serigala” hanya bayangan yang membesar karena terus ditatap. Puasa mengendalikan tatapan kita.

Puasa juga mengembalikan manusia pada rasa syukur terdalam. Detik menjelang berbuka terasa panjang dan bermakna. Seteguk air menjadi nikmat luar biasa.

Kesadaran sederhana ini memutus kebiasaan overthinking tentang masa depan. Kita belajar hadir, bukan larut dalam bayangan.

Mungkin itulah salah satu hikmah terdalam puasa yakni  menjaga manusia agar tidak “mati” sebelum mati.  Tidak runtuh oleh kecemasan sebelum ujian benar-benar datang. Puasa melatih jiwa agar tetap tenang di tengah ancaman. Tetap yakin di tengah ketidakpastian.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang meniadakan serigala sepenuhnya. Masalah akan selalu ada. Tetapi kesehatan jiwa terletak pada cara pandang: apakah kita terus menatap ketakutan, atau menatap Tuhan dengan harapan.

Ketenangan tumbuh dan  tubuh ikut sembuh.  Puasa menjadi lebih dari sekadar ibadah fisik — ia jalan  menuju jiwa yang utuh.

___
Penulis: Muliadi Saleh