Bayangan-bayangan godaan masih kerap menutupi pandanganku. Rutinitas yang kadang membuat lalai. Kebiasaan yang terasa sulit dilepas. Niat baik yang sering lahir dengan semangat, tetapi melemah di tengah jalan.
PELAKITA.ID – Waktu kadang berjalan seperti orang tua yang berhati-hati meniti jembatan bambu. Pelan, penuh pertimbangan, seolah tak ingin tergelincir. Tetapi di saat lain, ia berubah menjadi pelari jarak jauh yang tak menoleh ke belakang.
Tahu-tahu kita sudah tertinggal jauh di belakangnya, terengah-engah, bertanya pada diri sendiri: kapan semua ini berlalu?
Begitulah rasaku setiap kali Ramadhan hendak tiba.
Selalu terasa baru saja ia pergi. Masih segar aroma sahur yang terburu-buru, masih hangat suara azan magrib yang menjadi tanda kemenangan kecil setiap hari. Tetapi tiba-tiba ia sudah kembali di depan pintu, mengetuk pelan, seperti tamu lama yang tahu rumah ini tak pernah benar-benar siap menyambutnya.
Tiga hari lagi kami bertemu, insya Allah.
Kadang aku bertanya-tanya: sebenarnya siapa yang mendekat? Ramadhan yang datang, atau aku yang perlahan menjelangnya? Waktu membuat batas itu kabur. Seperti dua orang yang berjalan dari arah berlawanan di sebuah jalan panjang—satu langkah dariku, satu langkah darinya—hingga pada satu titik kami pasti berhadapan.
Dan jika Allah berkehendak, aku akan memeluknya. Atau mungkin justru Ramadhan yang memangku aku dengan kasih yang tak pernah berubah.
Beberapa hari terakhir, aku mulai merasa suaranya. Bukan suara yang terdengar oleh telinga, tetapi oleh sesuatu yang lebih dalam dari itu. Sebuah bisikan yang lembut namun tegas:
“Sudah siapkah kau?”
Pertanyaan itu selalu datang setiap tahun, dan anehnya, jawabanku hampir tak pernah berubah. Selalu ada jeda sebelum menjawab. Selalu ada keraguan yang diam-diam muncul seperti kabut pagi yang menutup pandangan.
Siapkah aku?
Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi jawabannya sering kali terasa berat. Sebab bersiap untuk Ramadhan bukan hanya soal menyiapkan jadwal sahur, menyusun menu berbuka, atau menata rencana ibadah yang rapi di atas kertas. Bersiap untuk Ramadhan adalah menyiapkan hati—dan di situlah aku sering merasa belum selesai.
Bayangan-bayangan godaan masih kerap menutupi pandanganku. Rutinitas yang kadang membuat lalai. Kebiasaan yang terasa sulit dilepas. Niat baik yang sering lahir dengan semangat, tetapi melemah di tengah jalan.
Aku tahu Ramadhan bukan sekadar bulan yang datang membawa jadwal baru. Ia adalah cermin besar yang memantulkan siapa diriku sebenarnya. Dan mungkin itulah yang membuatku tidak percaya diri. Sebab setiap kali cermin itu datang, aku tahu ia akan memperlihatkan lebih banyak dari yang ingin kulihat.
Namun Ramadhan tidak pernah datang sebagai hakim yang menghakimi. Ia datang seperti sahabat lama yang memahami segala kekurangan.
Ia tahu betapa manusia mudah lupa, mudah lelah, mudah tergoda, dan mudah jatuh. Tetapi ia juga tahu bahwa manusia selalu punya ruang untuk kembali.
Itulah sebabnya kehadirannya selalu terasa syahdu. Ada rasa harap yang pelan-pelan tumbuh, seperti cahaya subuh yang merambat dari balik ufuk. Tidak menyilaukan, tetapi cukup untuk membuat hati percaya bahwa hari baru memang sedang dimulai.
Setiap tahun aku menyadari satu hal: Ramadhan tidak menuntut kesempurnaan. Ia hanya meminta kesungguhan. Ia tidak meminta kita datang dalam keadaan bersih tanpa noda. Ia hanya meminta kita datang dengan keinginan untuk membersihkan diri.
Dan mungkin di situlah letak keindahannya.
Jika Ramadhan hanya menerima manusia yang sudah sempurna, mungkin tak banyak yang berani menyambutnya. Tetapi ia justru datang untuk manusia yang masih penuh celah. Untuk manusia yang masih sering kalah oleh diri sendiri. Untuk manusia yang diam-diam berharap bisa menjadi sedikit lebih baik dari kemarin.
Termasuk aku.
Aku membayangkan pertemuan kami seperti pertemuan dua sahabat lama yang lama tak bersua. Ada rasa rindu, ada rasa canggung, ada pula rasa harap yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Aku ingin berkata kepadanya: “Aku menunggumu.”
Tetapi di saat yang sama, aku tahu bahwa mungkin dialah yang lebih lama menunggu. Menunggu hatiku siap, menunggu langkahku melambat dari hiruk pikuk dunia, menunggu aku berhenti sejenak dari kejar-kejaran yang tak pernah selesai.
Ramadhan selalu datang membawa jeda.
Jeda dari kebisingan.
Jeda dari kesibukan yang tak selalu bermakna.
Jeda dari keinginan yang sering kali tak pernah kenyang.
Ia datang seperti tangan yang lembut menahan bahu kita dan berkata, “Berhentilah sebentar. Lihatlah ke dalam dirimu.”
Dan betapa sering aku lupa melakukan itu di sebelas bulan lainnya.
Aku menyadari, mungkin rasa tidak percaya diri ini justru adalah bagian dari persiapan itu sendiri. Keraguan yang membuatku menunduk, harap yang membuatku menengadah. Di antara keduanya, aku berdiri sebagai manusia yang sedang belajar.
Belajar menata niat.
Belajar menenangkan hati.
Belajar memperlambat langkah.
Tiga hari lagi, pintu itu akan terbuka.
Aku belum sepenuhnya siap. Tetapi mungkin kesiapan memang tidak pernah datang dalam bentuk yang utuh. Ia datang dalam bentuk keinginan kecil yang terus dipelihara. Dalam bentuk doa yang lirih namun tak putus. Dalam bentuk langkah kecil yang terus mencoba mendekat.
Dan mungkin itu sudah cukup.
Jika nanti kami benar-benar bertemu, aku ingin menyambutnya dengan hati yang jujur. Bukan hati yang sempurna, tetapi hati yang ingin berubah. Bukan jiwa yang tanpa cela, tetapi jiwa yang rindu dibersihkan.
Aku ingin berkata pelan:
“Aku datang dengan segala kekuranganku.”
Dan aku percaya Ramadhan akan menjawab dengan kelembutannya:
“Aku datang membawa kesempatan.”
Waktu boleh saja berlari kencang. Tahun boleh berganti tanpa terasa. Tetapi setiap kali Ramadhan datang, aku merasa diberi satu kesempatan lagi untuk kembali menjadi manusia yang lebih utuh.
Tiga hari lagi kami bertemu, insya Allah.
Dan meski bayangan godaan masih kadang menutupi pandanganku, aku tahu satu hal: kerinduan ini nyata. Harapan ini hidup. Dan langkah kecil menuju-Nya telah dimulai, bahkan sebelum bulan itu benar-benar tiba.










