Catatan Percakapan tentang Kesehatan Perkotaan

  • Whatsapp
Penulis (kiri) bersama founder Pelakita.ID

Saya ingin mengajaknya mempercakapkan karya Hans Pols, profesor sejarah di University of Sydney, berjudul Obat, Ilmu, dan Kuasa—sebuah karya penting yang mengulas relasi antara pengetahuan medis, kekuasaan, dan sejarah, yang terasa semakin relevan untuk membaca persoalan kesehatan di perkotaan hari ini.

Judy Rahardjo – Aktivis Perlindungan Konsumen

PELAKITA.ID – Senang bertemu kembali dengan founder Pelakita.ID, kawan Kamaruddin Azis. Kali ini kami mempercakapkan kesehatan di perkotaan melalui lensa yang kritis dan multifaset.

Rasanya sayang bila pembahasan kesehatan hanya berhenti pada soal pengobatan medis semata, seolah penyakit hadir di ruang hampa tanpa konteks sosial, ekonomi, dan politik.

Percakapan itu mengingatkan saya pada aktivisme Tjipto Mangunkusumo, seorang dokter lulusan STOVIA dan salah satu pendiri partai politik pertama di Hindia Belanda, Indische Partij.

Dokter Tjipto tampaknya sangat sadar bahwa kolonialisme melahirkan ketimpangan ekstrem: diskriminasi layanan kesehatan, wabah penyakit yang menjalar tak terkendali, serta praktik-praktik represif seperti pembakaran kampung atas nama pengendalian wabah.

Pengalamannya menangani wabah pes pertama di Hindia Belanda, di Malang, menjadi titik penting yang membentuk sikap politik dan kemanusiaannya.

Dalam percakapan itu pula, sahabat saya Amran Razak mengingatkan dengan tegas: kesehatan adalah isu politik. Intervensi kesehatan publik lahir dari keputusan politik.

Distribusi sumber daya—termasuk prioritas anggaran dan arah kebijakan—selalu dipengaruhi oleh dinamika kekuasaan. Karena itu, akses layanan kesehatan tidak pernah sepenuhnya netral.

Konteks ini menjadi semakin relevan ketika kita menyadari bahwa kota kini merupakan habitat utama manusia di abad ke-21.

Lebih dari separuh populasi dunia tinggal di wilayah perkotaan, dan angkanya diproyeksikan meningkat hingga sekitar 70 persen pada tahun 2050.

Lanskap perkotaan bukan sekadar ruang fisik, melainkan ruang sosial yang membentuk cara manusia hidup, bekerja, dan berinteraksi dengan lingkungannya.

Depresi, stres, dan burnout boleh jadi merupakan gejala yang lahir dari tatanan kota yang tidak ramah terhadap kesehatan mental.

Pada titik ini, saya teringat pemikiran Frantz Fanon tentang kekerasan. Ketika mengamati berbagai kasus kekerasan di perkotaan, kita sering tergoda untuk mengisolasinya sebagai tindakan kriminal individu.

Padahal, berkali-kali kekerasan tersebut berakar pada faktor struktural dan psikologis: ketimpangan spasial, eksklusi sosial, serta warisan kolonialisme—atau dalam konteks kini, poskolonialisme—yang terus memproduksi masalah kesehatan serius, baik fisik maupun mental.

Sayang sekali kawan saya Sudirman Nasir berhalangan hadir dalam percakapan ini.

Jika suatu waktu kami berkesempatan bertemu, saya ingin mengajaknya mempercakapkan karya Hans Pols, profesor sejarah di University of Sydney, berjudul Obat, Ilmu, dan Kuasa—sebuah karya penting yang mengulas relasi antara pengetahuan medis, kekuasaan, dan sejarah, yang terasa semakin relevan untuk membaca persoalan kesehatan di perkotaan hari ini.