Tindakan-Tindakan Kecil Perlawanan | Bagaimana Keberanian, Ketegaran dan Kecerdikan dapat Mengubah Dunia

  • Whatsapp
Ilustrasi buku dimaksud (dok: Judy Rahardjo)

Para pengikutnya (Sedulur Singkep) menolak membayar pajak, tidak mematuhi aturan kolonial, menolak bersekolah, namun tetap mempertahankan prinsip hidup bertani, jujur, sederhana, serta selaras dengan alam.

PELAKITA.ID – Buku terbitan lama. Tapi tetap terasa penting sampai saat ini. Judulnya, mengingat saya pada metafora efek kupu-kupu (butterfly effect) dalam teori kekacauan (chaos): seekor kupu-kupu mengepakan sayapnya di hutan Amazon, kemudian badai menghancurkan sebagian Eropa.

Peristiwa kecil, yang kelihatan tidak signifikan, dapat menciptakan perubahan besar, jangka panjang, dan meluas. P

ertanyaan yang senada diajukan dalam buku ini: apakah perubahan sosial politik hanya bisa dicapai dengan tindakan-tindakan revolusioner?

Para pengiat perubahan sosial suka berapi-api, heroik, berobsesi pada gerakan besar dan mengkhalayak.

Padahal, ada banyak contoh perubahan besar yang dimulai dari beberapa orang, bahkan dari satu orang, lalu menjadi kekuatan orang banyak. Dimulai orang-orang biasa, diawali dengan tindakan-tindakan kecil yang tidak “diperhitungkan” sama sekali.

Rasanya, sebagian besar di antara orang-orang biasa itu, tidak tercatat atau diabaikan dalam sejarah konvensional.

Seperti judul sebuah esai Vaclav Havel, seorang sastrawan dan Presiden Ceko yang pertama: kekuatan yang tak tertampung dari kaum tak punya kuasa.

Mungkin terasa bernada romantis. Namun, seperti dibilang Roem Topatimasang, seorang aktivis dan intelektual organik, yang mengantar buku ini: mengungkapkan fakta-fakta yang sering dilupakan, kisah-kisah perlawanan yang dilakukan rakyat awam, yang sering disepelekan sebagai bukan siapa-siapa.

Pengabaian kaum jelata dalam penentuan arah sejarah inilah yang sering membuat kita keliru. Atau, kita luput memahami anatomi yang sesungguhnya dari proses perubahan: kekuatan-kekuatan murni apa saja yang menggerakannya?

Sebab-sebab apa saja yang memunculkannya? Prasyarat-prasyarat apa yang memungkinkannya?

Buku ini kumpulan kisah-kisah tindakan-tindakan kecil perlawanan. Dalam konsep sosiologi, perlawanan (resistensi) adalah fenomena sosial kompleks yang dapat mencakup berbagai perilaku dan tindakan.

Bagi penganut subkultur, penentangan terhadap budaya yang mereka anggap hegemonik dan melihat budaya dominan sebagai budaya yang memaksakan konforminitas.

Banyak kisah yang disampaikan dalam buku ini. Misalnya, bagi pecandu bola, nama Didier Drogba bukan sesuatu yang asing. Tapi, pemain bola asal Pantai Gading ini melakukan gerakan sederhana, tapi revolusioner: menghapus perang saudara selama lima tahun.

Saya rasa buku ini cukup penting. Dengan membaca kisah-kisah di dalamnya, paling tidak, kita mendapatkan wawasan berharga: bagaimana merawat perlawanan, agar tidak patah di tengah jalan.

Saya pikir, macam Samin Surosentiko yang mempelopori perlawanan sosial budaya tanpa kekerasan terhadap kolonialisme, di Blora pada akhir abad 19, butuh waktu bertahun-tahun.

Para pengikutnya (Sedulur Singkep) menolak membayar pajak, tidak mematuhi aturan kolonial, menolak bersekolah, namun tetap mempertahankan prinsip hidup bertani, jujur, sederhana, serta selaras dengan alam.

Begitu pula dengan Aleta Baun bersama 150 perempuan adat Mollo, Timor. Mereka, para penenun menduduki lokasi pertambangan.

Tahun 1990an, tanpa bertanya pada mereka, negara memberi konsesi perusahaan tambang membongkar gunung-gunung batu. Ketika negara mengambil alih tanah dan hutan mereka, alam Mollo mulai tergerus.

Masyarakat hukum adat Mollo pun terjuntai di tubir kemiskinan, tubuh mereka terkoyak: hutan, air, dan tanah, lepas dari kuasa mereka. Perjuangan Aleta butuh waktu panjang, 13 tahun, sampai satu-persatu perusahaan tambang itu ditutup.

Maka, tak dapat disangkal kalau tindakan-tindakan kecil perlawanan itu juga butuh keberanian, ketegaran, dan kecerdikan agar dapat mengubah dunia.

___
Penulis
Judy Rahardjo