Lulusan doktor dari Prancis ini telah berjasa menerjemahkan kisah Daeng Mangalle, seorang patriot Makassar yang jejak heroiknya pernah menggemparkan Thailand.
PELAKITA.ID – Pelakita.ID menerima picuru atau ‘pesan-pesan keteladanan’ dari ayahanda Prof Dr Aminuddin Salle, SH, MH Karaeng Patoto pasca pelaksanaan Seminar Tradisi dan Budaya Menelusuri Jejak Sejarah Galesong, 7 Februari 2026.
Kegiiatan tersebut digelar oleh Pelakita.ID atas dukungan PP IKA Unhas, IKA Unhas Takalar, Balla Barakkaka ri Galesong, DPP Garuda Astacita Nusantara. Menarik membaca rangkaian picuru tersebut. Mari simak.
____
Sabtu pagi, 6 Februari 2026, hujan masih setia mengawal Kampung Adat, Budaya & Konstitusi—Balla Barakkaka ri Galesong. Di tengah cuaca yang tak sepenuhnya bersahabat, Seminar Tradisi & Kebudayaan tetap berlangsung dengan khidmat.
Pesertanya memang terbatas lantaran hujan itu, namun kualitas dan semangat yang hadir justru melimpah.
Dentuman semangat I Maninrori I Kare Tojeng Karaeng Galesong terasa nyata—tak surut oleh hujan, tak kendor oleh keterbatasan.
Yang hadir bukan sembarang tamu. Seminar ini menghadirkan peneliti berkaliber internasional yang telah lama menekuni Indonesia Timur dan, menariknya, menunjukkan ketertarikan yang mendalam pada kampung kecil kita ini.
Hadir pula sosok yang dikenal sebagai Pemilik Satu Pena, Rusdin Tompo, serta Daeng Mangalle—nama yang akrab kami sematkan kepada Prof. Mardi Adi Armin.
Lulusan doktor dari Prancis ini telah berjasa menerjemahkan kisah Daeng Mangalle, seorang patriot Makassar yang jejak heroiknya pernah menggemparkan Thailand.
Dua putra beliau, Daeng Tulolo dan Daeng Ruru, bahkan diangkat menjadi perwira militer Prancis—sebuah jabatan yang secara tradisi hanya dapat diemban oleh bangsawan Prancis. Kisah heroik Daeng Mangalle pun telah diabadikan dalam bentuk film.
Sebagai Kepala Kampung, saya melihat acara yang dirancang oleh Kamaruddin Azis ini bukan sekadar forum diskusi. Ia adalah upaya serius menggali “emas” nilai yang terpendam di bumi Galesong.
Bahkan, jika boleh meminjam metafora, eksplorasi nilai-nilai ini terasa seperti menemukan uranium—bahan bakar berkekuatan dahsyat.
Konon, sebesar biji kelereng saja mampu menopang perjalanan sebuah kapal induk selama berbulan-bulan. Dahsyat, bukan? Namun semua kembali pada satu hal: bagaimana kita mengelola dan mengendalikan eksplorasi itu dengan bijak.
Di waktu yang hampir bersamaan, digelar pula Ritual Ammuntuli Korontigi—sebuah praktik budaya yang kini kian jarang dilaksanakan. Tentang Ammmuntuli Korontigi, dapat dibaca di sini.
Ritual ini menjadi bagian hidup dari seminar, bukan sekadar tontonan, melainkan penanda keberlanjutan tradisi.
Sejumlah kepala dinas dan sekretaris dinas dari Kabupaten Takalar turut menyaksikan, bahkan hadir pula pejabat dari Kabupaten Gowa.
Hari itu, Balla Barakkaka ri Galesong bukan hanya menjadi ruang pertemuan, tetapi juga ruang pengingat: bahwa tradisi, sejarah, dan nilai luhur bukan peninggalan masa lalu, melainkan energi masa depan—jika kita mau merawat dan mengarahkannya dengan benar.
Editor Denun









