PELAKITA.ID – Di Desa Niklel, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, umbung padi bukan sekadar bangunan penyimpanan hasil panen.
Ia menjelma menjadi simbol ketahanan pangan, gotong royong keluarga, sekaligus harapan baru bagi warga desa.

Salah satunya adalah lumbung milik keluarga Ibu Asbar, yang kini aktif dimanfaatkan untuk menyimpan gabah hasil sawah seluas satu hektare.
Ibu Asbar menjelaskan bahwa sawah yang dikelolanya saat ini merupakan sawah peninggalan orang tua mertuanya yang telah meninggal dunia.
Pengelolaan sawah tersebut kini dilanjutkan bersama sang suami, Pak Asbar.
Dari satu hektare sawah itu, mereka telah memanfaatkan lumbung (atau si’e dalam bahasa Sorowako) bantuan PT Vale, dia sukses menyimpan sekitar 45 karung gabah di dalam lumbung.
“Sampai sekarang sudah melalui tiga kali proses penggilingan,” ucap Ny Asbar.
Gabah-gabah tersebut disimpan sebagai cadangan pangan keluarga sekaligus antisipasi kebutuhan di masa mendatang.
Tak jauh dari lumbung Ibu Asbar, warga lain bernama Mariama juga memanfaatkan lumbung serupa.
Ia mengelola sawah seluas setengah hektare yang terbagi dalam tiga petak kecil. Gabah hasil panennya kini tersimpan rapi di dalam lumbung.
Dengan penuh syukur, Mariama menyampaikan ucapan terima kasih atas keberadaan fasilitas ini yang sangat membantu petani kecil sepertinya dalam menyimpan hasil panen secara lebih aman dan layak.
Lumbung milik keluarga Asbar tercatat sebagai unit ke-11 dari total 22 unit lumbung yang dibangun di Desa Nikel.
Seluruh lumbung tersebut merupakan milik warga yang berdomisili di desa ini dan merupakan bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PKPM) Terfokus PT Vale Indonesia, yang dikenal dengan skema “Lumbung Wisata Desa Nikel.”
Melalui skema ini, lumbung tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan gabah, tetapi juga dirancang sebagai bagian dari pengembangan desa wisata.
Warga berharap, kawasan ini ke depan dapat menjadi ruang rekreasi sederhana—tempat orang datang berjalan santai, menikmati kopi, dan merasakan suasana pedesaan yang sejuk di kaki pegunungan. Apalagi, kawasan ini juga didukung oleh perbaikan saluran irigasi dan kanal pertanian, yang semakin menunjang produktivitas sawah warga.
Letak Desa Nikel yang berdekatan dengan lanskap alam pegunungan dan danau di seberang desa memberi nilai tambah tersendiri.
Bahkan, warga dengan ringan mengundang siapa pun—termasuk para pegolf yang beraktivitas di kawasan sekitar—untuk singgah dan menikmati suasana desa setelah berolahraga.
Program lumbung wisata ini menjadi contoh bagaimana intervensi pembangunan berbasis kebutuhan lokal mampu menjawab lebih dari satu persoalan sekaligus: menjaga ketahanan pangan, memperkuat ekonomi keluarga petani, serta membuka peluang baru bagi pengembangan desa berbasis pariwisata.
Dari Desa Nikel, warga mengirimkan salam—sebuah cerita kecil tentang lumbung, sawah, dan masa depan yang perlahan tumbuh dari akar rumput.
Penulis Denun









