Sahabat-sahabat itu memperkaya diskursus, memperluas jejaring empati, dan mengingatkan bahwa kerja pemberdayaan selalu menemukan bentuk barunya seiring perubahan zaman dan generasi. Secara geografis, perjalanan ke 38 desa di Lingkar Tambang, yang tersebar di empat penjuru kecamatan, adalah sekolah lapangan terbaik.
PELAKITA.ID – Bekerja di Lingkar Tambang PT Vale sejak 2017 hingga 2026 bukan sekadar perjalanan profesional, melainkan sebuah proses panjang pembentukan cara pandang, ketahanan batin, dan pemahaman kapital sosial dan lembaga yang jauh lebih matang.
Di ruang inilah penulis belajar bahwa pembangunan tidak pernah sesederhana tabel capaian atau laporan tahunan; ia hidup dalam relasi, kepercayaan, konflik, kompromi, dan harapan masyarakat.
Menjadi tenaga ahli pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sekaligus mewakili organisasi kami The COMMIT Foundation berarti bersedia berada di antara dunia korporasi dan dunia warga—mendengar dengan sabar, menerjemahkan kebijakan ke bahasa sehari-hari, sekaligus menjaga agar suara masyarakat tidak hilang dalam birokrasi.
Perjalanan ini ditemani oleh sosok-sosok yang bukan hanya kolega kerja, tetapi sahabat seperjalanan. Saya beruntung berteman dan mengenal dedikasi orang-orang seperti Iskandar Ismail, Laode M. Ichman, dan Busman Dahlan Shirat—figur-figur yang menunjukkan bahwa kerja pemberdayaan menuntut integritas, konsistensi, dan keberanian berdiri di wilayah abu-abu.
Saya ingat tahun 2017, saat duduk bersama Iskandar Ismail di tepi Danau Matano, bertahun lalu. Siapa sangka kami masih bisa terus berinteraksi di Lingkar Tambang hingga hari ini?

Lalu bersama Endra Kusuma, Yusri Yunus, Kamto Aswaddin, dan Safaruddin, diskusi-diskusi teknis kerap bertransformasi menjadi perdebatan etis tentang makna keberlanjutan.
Beberapa waktu lalu sempat pula duduk bersama petinggi perusahaan di Jakarta mengevaluasi perjalanan kami di naung skema PPM PT Vale. Inspiring!
Belakangan ini diksusi, sharing, berbagi pengalaman terus berlanjur hingga hadir generasi teranyar seperti Khaerul Ikhsan, Putra Towuti yang kini jadi mitra strageis kami. Terasa getar dan denyut estafet pengetahuan dan semangat yang terus berlanjut, menandai bahwa kerja sosial adalah proses lintas generasi.
Lingkar ini juga diperkaya oleh persahabatan yang tumbuh sejak awal: Andi Narwis, Faizal Halim, Adolfina Sambo, Alwu Chaidir, dan Abd Gani—bestie sejak 2017 yang menjadi jangkar emosional dalam dinamika lapangan.

Dengan Gani, kami pernah melata di atas Jalur Trans Sulawesi tembus Palu pasca bencana tsunami di tahun 2019.
Banyak cerita dari sini. Jalan bareng Direktur sekaligus mentor kami di PPM, Haji Ashar Karateng.
Pembaca sekalian, seiring waktu, lingkar pertemanan melebar dengan hadirnya Sangkala Tajuddin, Denny Patandung, Darsam Belana, Adrianty Dahlan, Yahyuddin, Julianto, Ridwan R. Umar, Andi Naswan Efendi, Suarni Jufri, Amerin Ambasalu, Hendrik Amir, Sulis, Hasmwati Muin, hingga Rudy Kasim. Moga-moga saya tidak luput satu atau dua nama.
Setiap nama membawa cerita, perspektif, dan pelajaran berbeda tentang kerja tim, loyalitas, dan ketulusan dalam mengabdi.
Yang membuat pengalaman ini semakin bermakna adalah kenyataan bahwa dari tahun ke tahun, teman semakin banyak. Apalagi sejak bergabungnya sahabat di proyek JICA, Sulawesi Capacity Development Project, ustaz Juamrdi Lanta sebagai site manager.
Bersama ustaz Mardi, kami berkenalan Kakak Aya, Amar, Ning Rahayu, Dhea, Dini, Riska, Yanti, Aden, Alma, Aman, Sofyan, Wahyuni—wajah-wajah baru yang hadir dengan energi, kejujuran, dan cara pandang segar.
Mereka memperkaya diskursus, memperluas jejaring empati, dan mengingatkan bahwa kerja pemberdayaan selalu menemukan bentuk barunya seiring perubahan zaman dan generasi.
Secara geografis, perjalanan ke 38 desa di Lingkar Tambang, yang tersebar di empat penjuru kecamatan, adalah sekolah lapangan terbaik.
Setiap desa menghadirkan lanskap sosial yang unik: ada yang masih bergulat dengan akses dasar, ada yang mulai percaya diri mengelola potensi ekonomi lokal, ada pula yang berada di persimpangan antara tradisi dan modernitas.
Dari masyarakat desa hingga petinggi PT Vale, saya menemukan inspirasi tentang kepemimpinan, komitmen, dan tanggung jawab. Saya belajar bahwa kemitraan sejati tidak dibangun di ruang rapat semata, melainkan di teras rumah warga, di sawah, di pesisir, dan di forum-forum kecil yang jujur.
Untuk saya pribadi, 5 buku sebagai karya bersama kami di Tim COMMIT, di circle tambang adalah legacy yang mengasikkan.
Dampak perjalanan panjang ini terasa kuat pada diri penulis. Ia menajamkan kepekaan sosial, melatih kesabaran, dan menguatkan keyakinan bahwa perubahan bermakna lahir dari proses yang konsisten dan partisipatif.
Kami tidak hanya menjadi lebih paham tentang kerangka PPM, tetapi juga tentang manusia—tentang harapan yang sering tak terucap dan ketakutan yang jarang diakui. Pengalaman ini mengajarkan kerendahan hati: bahwa peran tenaga ahli adalah menemani, bukan mendominasi.
Bagi The COMMIT Foundation, keterlibatan dalam skema PPM PT Vale memperkaya kapasitas organisasi—baik dari sisi metodologi, jejaring, maupun legitimasi sosial.
Ia menjadi laboratorium nyata untuk menguji pendekatan pemberdayaan berbasis komunitas, memperkuat tata kelola program, dan menegaskan posisi organisasi sebagai mitra yang kredibel antara korporasi dan masyarakat.
Pengetahuan yang lahir dari lapangan ini menjadi aset berharga untuk replikasi dan advokasi kebijakan di konteks lain. Alhamdulillah, itu semua sudah ter-cover di buku seperti disebutkan sebelumnya.
Sementara bagi sistem sosial kemasyarakatan di Lingkar Tambang, perjalanan ini berkontribusi pada tumbuhnya kepercayaan, kapasitas lokal, dan kesadaran kolektif.
Program-program PPM yang dijalankan bukan hanya meninggalkan infrastruktur atau angka partisipasi, tetapi juga jejak relasi dan pembelajaran. Di sanalah saya memahami bahwa keberhasilan sejati pembangunan adalah ketika masyarakat merasa dilibatkan, dihargai, dan mampu melanjutkan proses perubahan dengan kekuatannya sendiri.
Kemarin nama-nama itu sebagian besar hadir di HIPHO Sorowako, ada kisah, ada kebanggaan, juga gambaran tantangan di masa depan, di Lingkar Tambang. Apapun itu, menjelang sepuluh tahun di Lingkar Tambang PT Vale, itu adalah kisah tentang kerja, persahabatan, dan makna.
Ia bukan garis lurus, melainkan lingkaran—tempat saya kembali belajar, mengingat, dan meneguhkan alasan mengapa kerja pemberdayaan selalu layak diperjuangkan.
___
Pontada, 30 Januari 2026
Kamaruddin Azis
Sekretaris the COMMIT Foundation









