Domino, di tangan Sidin, bukan sekadar permainan. Ia menjadi medium silaturahmi, ruang dialog, dan alat perekat lintas sekat. Di meja domino, tak ada fakultas favorit, tak ada senior-junior yang kaku.
PELAKITA.ID – Di banyak komunitas alumni, solidaritas sering kali berhenti pada nostalgia. Bertemu, bernostalgia, lalu pulang. Di tangan orang-orang tertentu, nostalgia justru bisa diolah menjadi energi sosial—bahkan embrio masa depan.
Salah satu contoh menarik datang dari lingkar alumni Universitas Hasanuddin (Unhas), lewat sosok Yasidin, atau yang lebih akrab disapa Sidin, bersama Pegasus Coffee dan sebuah permainan sederhana: kartu domino.
Sidin bukan tokoh yang gemar tampil di depan layar. Ia bekerja di balik layar, merajut pertemuan demi pertemuan.
Alumni Sastra Unhas ini dikenal sebagai sosok di balik banyak event domino yang digelar oleh jaringan alumni Unhas lintas fakultas dan lintas angkatan.
Lahir di Alitta, Pinrang, Sidin terasa piawai “mengawinkan” tiga hal sekaligus: permainan domino, jejaring alumni, dan potensi masa depan bisnis berbasis kebersamaan.
Domino, di tangan Sidin, bukan sekadar permainan. Ia menjadi medium silaturahmi, ruang dialog, dan alat perekat lintas sekat. Di meja domino, tak ada fakultas favorit, tak ada senior-junior yang kaku.
Yang ada hanya canda, strategi, tawa, dan rasa setara sebagai sesama alumni.
Salah satu simpul penting dari perjumpaan itu adalah Pegasus Coffee. Warkop ini seperti menemukan kembali rohnya. Bukan sekadar tempat minum kopi,
Pegasus tumbuh menjadi ruang berkumpul, reuni kecil, dan diskusi ringan yang tak jarang berujung pada rencana-rencana mulia alumni. Kopi menjadi pengantar, domino menjadi pengikat, dan kenangan lama menjadi jembatan ke masa depan.

“Cukupmi kita-kita yang sudah tua begini, silaturahmi, pererat persaudaraan, di Coffee Pegasus. Itu juga kenapa saya harus sepenuh hati mengurusnya,” aku Soewarno Sudirman, pengelola Pegasus Coffee, dengan nada yang jujur dan hangat.
Pria yang akrab disapa Romo ini tampak telaten mengajak kolega dan alumni Unhas untuk hadir. Baginya, Pegasus bukan bisnis semata, melainkan amanah sosial.
“Yang dulu biarlah berlalu, kita mulai dengan silaturahmi. Kalau ada nikmat lain, itu rezeki dari Yang Maha Kuasa,” kurang lebih begitu jawab Romo kepada Pelakita.ID.
Pandangan itu menjelaskan mengapa Pegasus Coffee tak bisa dipisahkan dari suasana riang, kekeluargaan, dan meja domino.
Di sana, domino dimainkan sambil menyeruput kopi, menikmati mie instan, kue-kue, pisang goreng, hingga ubi goreng—menu sederhana yang justru memperkuat rasa kebersamaan.
Secara fisik, Pegasus Coffee juga kian siap menjadi ruang temu. Tersedia delapan meja, kursi hingga 50 unit, mampu menampung sekitar 50 orang dalam satu waktu.
Tempat salat tersedia, suasana lebih bersih dan nyaman. Semua itu membuat Pegasus bukan sekadar warkop, tetapi ruang sosial yang inklusif.
Namun denyut kebersamaan ini tak hanya berputar di satu titik. Selain Romo, Sidin hampir setiap hari “berpindah orbit” menyambangi tiga warkop yang selama ini menjadi simpul perjumpaan alumni dan aktivis di Makassar.
“Hari ini di Enreco, siang sampai sore di Pegasus, lalu pagi sampai siang di Kopizone. Tidakkah ini adil untuk jiwa, raga, dan kebersamaan kami sebagai alumni Unhas?” ucap Sidin, setengah bercanda, setengah reflektif.
Sidin, yang juga pernah menjabat Ketua Unit Sepak Bola Unhas di masanya, tampaknya memahami betul bahwa kebersamaan perlu dirawat dengan kehadiran fisik, bukan sekadar grup WhatsApp atau unggahan media sosial.
Ia hadir, menyapa, duduk, bermain, dan mendengar. Dari sanalah jejaring tumbuh secara organik.
Dari kisah Om Sidin, Pegasus Coffee, dan kartu domino, setidaknya ada empat hikmah yang bisa dipetik.
Pertama, solidaritas alumni tidak lahir dari forum resmi semata, tetapi dari ruang-ruang informal yang hangat dan setara. Warkop, kopi, dan permainan bisa menjadi medium sosial yang jauh lebih efektif.
Kedua, bisnis berbasis komunitas hanya bisa hidup jika dikelola dengan hati. Pegasus Coffee bertahan bukan karena strategi pemasaran rumit, melainkan karena kejujuran niat: silaturahmi dulu, rezeki menyusul.
Ketiga, permainan sederhana seperti domino mampu menjadi alat pemersatu lintas latar belakang. Ia menurunkan ego, mencairkan hierarki, dan membuka ruang dialog tanpa beban.
Keempat, kehadiran manusia—seperti Sidin yang terus berkeliling—adalah kunci. Jejaring tidak bisa dirawat dari jauh; ia butuh waktu, tenaga, dan kesediaan untuk hadir secara konsisten.
Pada akhirnya, belajar dari Om Sidin dan Pegasus Coffee adalah belajar tentang merawat relasi.
Bahwa di usia yang kian matang, kebersamaan bukan lagi soal ambisi besar, melainkan tentang duduk bersama, minum kopi, bermain domino, dan menjaga agar tali persaudaraan tetap terhubung—pelan, sederhana, namun bermakna.









