Tanpa ketupat, coto terasa terlalu penuh. Tanpa coto, ketupat kehilangan cerita. Keduanya mengajarkan bahwa keutuhan lahir dari kebersamaan, bukan dari kelebihan.
Penulis : Muliadi Saleh, Esais Reflektif | Arsitek Kesadaran Sosial
PELAKITA.ID – Di kantin pascasarjana Unhas, sore turun perlahan seperti jeda lirik dalam sebuah lagu lama. Hujan rintik-rintik mengetuk atap, tak terburu-buru, seolah tahu bahwa waktu sedang dinikmati, bukan dikejar.
Di hadapan saya, sepiring coto Makassar mengepul hangat. Dagingnya empuk, kuahnya pekat, dan ketupat—ah, ketupat itu—menjadi penenang yang setia.
Setiap gigitan terasa akrab, seperti pulang ke rumah lama yang masih menyimpan bau dapur masa kecil. Ketupat dan coto tak sekadar makanan. Ia adalah ingatan yang bisa dikunyah perlahan.
Dari pengeras suara kecil, lagu-lagu lawas Betharia Sonata mengalun pelan. Suara yang lembut, sedikit sendu, tapi jujur.
Lagu-lagu itu tak minta didengar, hanya menemani. Ia mengisi ruang-ruang kosong di antara suapan, di antara desah hujan, di antara pikiran yang lelah setelah hari panjang.
Kantin ini tak terlalu luas. Deretan kursinya rapi dan bersih, sederhana tanpa banyak gaya. Tapi justru dari kesederhanaan itu, kenyamanan tumbuh.
Dari dalam, mata dimanjakan oleh taman yang hijau dan deretan gedung yang berdiri tenang, seolah ikut menikmati sore bersama kami.
Hujan, musik lawas, dan coto Makassar—semuanya berpadu tanpa saling menonjolkan diri.
Sore itu tak menawarkan kemewahan, hanya keasyikan yang jujur. Dan mungkin, di situlah letak kelezatannya pada hal-hal sederhana yang datang bersamaan, tepat pada waktunya.

Coto dan ketupat.
Pasangan serasi yang tak pernah saling mendominasi. Yang satu kuat dan pekat, yang lain tenang dan meneduhkan.
Bertemu bukan untuk saling mengalahkan, melainkan untuk saling melengkapi—seperti ruang dan waktu yang hanya bermakna jika berjalan bersama.
Coto menghadirkan kedalaman rasa, seperti waktu yang membawa pengalaman demi pengalaman. Sementara ketupat menjadi ruangnya: memberi jeda, menampung, dan menyeimbangkan.
Tanpa ketupat, coto terasa terlalu penuh. Tanpa coto, ketupat kehilangan cerita. Keduanya mengajarkan bahwa keutuhan lahir dari kebersamaan, bukan dari kelebihan.
Menikmati coto dan ketupat adalah latihan kecil membaca hidup. Kita diajak melambat, memberi waktu pada rasa, dan menyediakan ruang bagi syukur.
Setiap suapan adalah kesepakatan diam-diam untuk hadir sepenuhnya—di sini, kini, tanpa tergesa.
Seperti menikmati ruang dan waktu di sore hari: hujan yang turun pelan, musik lawas yang setia menemani, dan diri kita yang akhirnya belajar cukup.
Coto dan ketupat pun menjadi lebih dari sekadar makanan. Ia menjelma pelajaran sederhana: bahwa yang serasi selalu tahu kapan harus mengisi, dan kapan harus memberi ruang.









