PELAKITA.ID – Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, Al Farabi Squad kembali menghadirkan Pagelaran Seni bertajuk ‘Swara Kebun’.
Sebuah ruang pertemuan yang jujur dan setara, di Kebun Bersama, Desa Bontosunggu, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, Jumat, 16 Januari 2026.
Tiga hari berlalu, penghelatan Swara Kebun telah tunai dimulai pukul 16.00 wita dan berlanjut hingga malam. Serangkaian acara kolaboratif dan turut menjadi panggung bagi seni, pengetahuan, alam, dan isu-isu yang membentuk realitas zaman.
Misi Menyapa Seni dan Menyapa Jiwa
Kali ini seniman Empat Memandang Rupa’ berkesempatan ikut gelaran ‘Swara Kebun’ dalam membawa misi menyapa seni dan menyapa jiwa.
Lewat kegiatan ini seniman Empat Memandang Rupa’ ikut memamerkan karya-karya mereka dalam bingkai ‘ampa sulapa’. Antara lain, Achmad Fauzi, Alan Tola, Ahmad Anzul, dan Asman Djasmin.
Swara Kebun awal kali ini menampilkan pertunjukan seni yang menggabungkan live painting dengan iringan biola yang menyentuh perasaan dan pengalaman spiritual. Lukisan yang dipajang memberi elemen visual di ruang terbukad di tengah suasana alam Kebun Bersama.

Kegiatan ini menunjukkan semangat kolaborasi antara seniman lokal dan pertunjukan seni kontemporer. Bagi seniman Achmad Fauzi, ini menjadi ruang menemukan ide dan inspirasi dalam berkarya.
“Suasana ruang terbuka akan turut memperkaya ekspresi seni dari tempat ini,” sela Achmad Fauzi, salah seorang seniman dan kurator seni rupa Makassar.
Andi Ichdar Yeneng, Kepala Suku Al Farabi Squad, mengatakan bahwa Swara Kebun lahir dari kerinduan untuk menciptakan ruang perjumpaan yang hidup dan membumi.
“Swara Kebun kami hadirkan sebagai ruang untuk saling mendengar, bukan hanya suara seni, tetapi juga suara satu sama lain,” ujarnya.
Merayakan Pertemuan sebagai Subtema
Dengan subtema “Merayakan Pertemuan”, Swara Kebun tidak sekadar mempertemukan manusia, tetapi juga memperjumpakan seni, pengetahuan, alam, serta isu-isu yang membentuk realitas zaman.
Menurut Andi Ichdar, kebun dipilih sebagai venue karena merepresentasikan nilai kehidupan yang organik dan setara. Melalui Swara Kebun, nilai inilah yang ingin dihadirkan.
“Kebun adalah ruang tumbuh. Di sana tidak ada hierarki yang kaku. Tanaman, tanah, serangga, dan manusia hidup dalam satu siklus,” jelas Andi Ichdar.
Melalui pertunjukan seni lintas genre dan sesi berbagi, Swara Kebun merayakan keberagaman cara manusia menyuarakan gagasannya.
Berkala Setiap Bulan Ganjil
Swara Kebun diselenggarakan secra berkala setiap bulan ganjil. Kegiatan ini diharapkan menjadi denyut pertemuan yang akan terus berulang.
Setiap edisi Swara Kebun dirancang sebagai ruang dialog lintas disiplin, di mana pertunjukan seni lintas genre bertemu dengan sesi berbagi gagasan.
Sesi berbagi pengetahuan dan pengalaman menjadi ruang diskusi yang saling memperkaya gagasan dan praktek berkesenian. Isu-isu hangat mulai dari krisis lingkungan, identitas, budaya, hingga dinamika sosial akan mengemuka dan menemukan kesepahaman bersama.
“Ini bukan sekadar acara, tetapi proses menanam gagasan, merawat perjumpaan, dan memanen kesadaran bersama,” pungkas Andi Ichdar.
Redaksi
