Tidak terlalu besar, tidak pula sempit. Cukup untuk membangun percakapan, tawa, dan rasa memiliki. “Senin lalu kita buka kembali,” ucap Romo pendek.
PELAKITA.ID – Di sudut Jalan Pengayoman, Makassar, sebuah nama lama kembali menyapa dengan semangat baru.
Pegasus Coffee hadir bukan sekadar sebagai warkop, tetapi sebagai ruang temu—tempat cerita lama bersemi kembali, dan kebersamaan dirawat dengan secangkir kopi serta bunyi khas kartu domino yang beradu.
Pegasus Coffee adalah kelanjutan dari brand Royal Pegasus, sebuah brand yang pernah hidup, kemudian beristirahat sejenak dalam hibernasi.
Kini, ia kembali dengan wajah yang lebih membumi, lebih akrab, namun tetap setia pada ruh awalnya: kebersamaan. Reinkarnasi ini digerakkan oleh Soewarno Sudirman, sosok yang akrab disapa Romo, yang percaya bahwa warkop bukan sekadar urusan kopi, melainkan urusan jejaring dan silaturahmi.
“Ini godaan yang membuat saya tiba pada kesimpulan, Royal Pegasus harus kembali. Dia kembali dengan brand Pegasus Coffee dengan gambar spesifik ada cangkir kopi dan lembaran domino,” ujar Romo, menjelaskan filosofi sederhana namun bermakna di balik logo Pegasus Coffee.
Cangkir kopi melambangkan pertemuan, sementara domino menjadi simbol kegembiraan, keakraban, dan egalitarianisme—siapa pun bisa duduk sejajar di meja yang sama.
Meski tak menampik bahwa Pegasus Coffee lahir dari kolaborasi para penikmat kopi dan pendomi aktif, Romo menegaskan bahwa tempat ini memiliki proyeksi yang jelas.
Baginya, warkop harus mampu survive tanpa kehilangan jiwa. Ia harus tetap menjadi wahana silaturahmi, tempat bermain domino, bahkan catur—ruang sosial yang hidup dan inklusif.
“Datang saja, spiritnya begitu, kita jadikan Pegasus Coffee sebagai simpul silaturahmi, siapapun diundang,” imbuh Romo.
Pernyataan itu terasa nyata ketika melihat suasana di lokasi. Sekitar 30 kursi dan 8 meja ditata rapi—jumlah yang menurutnya pas untuk berkumpul, ngopi, dan bermain domino tanpa kehilangan kenyamanan.
Tidak terlalu besar, tidak pula sempit. Cukup untuk membangun percakapan, tawa, dan rasa memiliki. “Senin lalu kita buka kembali,” ucapnya pendek.
Romo sendiri bukan figur asing dalam jejaring sosial Makassar. Ia adalah alumni SMAN 1 (Smansa) Makassar angkatan 1985, lalu setahun kemudian masuk Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Hasanuddin.
Pengalaman organisasinya panjang—dia aktivis LSM, pernah menjadi anggota DPRD Kota Makassar, dan kini aktif sebagai pengurus PP IKA Unhas.
Di sela-sela kesibukan, ia juga dikenal doyan touring bersama rekan-rekan IKA Smansa 85. Semua latar itu menyatu dalam cara ia memandang warkop: sebagai ruang temu lintas latar, lintas generasi.
Ia mengaku kagum dengan solidaritas penikmat kopi dan mereka yang hobi bermain domino di Makassar.
“Seperti api nan tak kunjung padam, Pegasus ini spiritnya di situ, menjadi rumah bagi penikmat kopi dan bisa riang gembira dengan main domino,” tambahnya.
Kalimat itu bukan jargon promosi, melainkan refleksi dari apa yang ingin dijaga: kegembiraan yang sederhana dan hubungan yang tulus.
Saat ditemui Ahad, 18 Januari 2026, oleh founder Pelakita.ID, Romo tampak merapikan kursi dan meja—sebuah gestur kecil yang mencerminkan kepedulian pada detail dan suasana. Ia tidak sedang berbicara tentang ekspansi besar atau konsep yang rumit.
Fokusnya justru pada hal paling mendasar dalam bisnis warkop: kehidupan sosial di dalamnya.
“Yang namanya warkop, tantangan kita adalah menjaga agar tetap hidup, tetap optimis. Kuncinya satu, pelihara jejaring,” pungkasnya.
Di Pegasus Coffee, jejaring itu dirawat dengan kopi yang menghangatkan, permainan yang mencairkan suasana, dan pintu yang selalu terbuka bagi siapa saja.
Pada akhirnya, Pegasus Coffee bukan hanya tentang kembali hidupnya sebuah brand, tetapi tentang kembalinya ruang kebersamaan.
Di tengah ritme kota yang kian cepat, Pegasus Coffee menawarkan jeda—tempat untuk duduk, berbincang, bermain, dan merasa pulang. Sebuah simpul silaturahmi yang sederhana, namun bermakna, di Jalan Pengayoman Makassar.
“Raniii…ada kambing-kambing? Bikinkan dulu Denun,” seru Romo ke seorang perempuan dengan senyum memikat di balik jendela. Dia sedang bermain domi bersama tiga pengunjung lainnya. Salah satunya dokter.
__
Penulis Denun
