PELAKITA.ID – Selamat kepada Zainal Arifin Mochtar atau akrab disapa Uceng, alumni Smansa Makassar angkatan 97 dan juga alumni Fakultas Hukum UGM Yogyakarta. Hari ini menjadi hari pengukuhannya dan semesta Indonesia bahkan dunia bersukacita.
Penulis membaca banaak berita terkait kabar baik ini, termasuk di Podcast Akbar Faizal dan blog alena beliau Thamzil Thahir di sini.

Saya coba merangkumnya dalam judul 9 Fakta Proses dan Status Guru Besar Zainal ‘Uceng’ Arifin Mochtar, sebagai berikut:
1. Gelar Guru Besar Disikapi dengan Kesederhanaan
Bagi Zainal “Uceng” Arifin Mochtar, gelar guru besar hukum tata negara bukanlah sesuatu yang perlu diagungkan. Ia bahkan meminta agar tidak dipanggil “Profesor”, seraya menyebut bahwa gelar akademik tidak dibawa hingga akhir hayat. Sikap ini justru menegaskan karakter rendah hati yang selama ini melekat pada dirinya.
2. Pengukuhan Menjadi Momen Kebanggaan Keluarga Besar
Meski disikapi sederhana oleh Uceng, pengukuhan sebagai guru besar menjadi kebanggaan besar bagi keluarga. Ibu dan enam kakaknya hadir lengkap di Yogyakarta pada Kamis, 15 Januari 2026, menandai momen penting dalam perjalanan akademik anak bungsu keluarga Mochtar.
3. Gelar Guru Besar Merupakan Wasiat Sang Ayah
Lebih dari sekadar capaian akademik, gelar profesor adalah amanah langsung dari ayahnya, Annang Guru Dr Drs Haji Mochtar Husein MA. Dua bulan sebelum wafat pada 2017, sang ayah secara khusus mewasiatkan agar Uceng kelak mencapai puncak karier akademik sebagai guru besar.
4. Wasiat Kedua: Menjaga Warisan Intelektual Keluarga
Selain mendorong anaknya meraih gelar profesor, Mochtar Husein juga mewasiatkan pengelolaan ribuan buku koleksinya.
Buku-buku yang dikumpulkan sejak dekade 1950-an itu kini menjadi bagian dari perpustakaan Pondok Pesantren Annuhiyah di Pambusuang, Polewali Mandar.
5. Latar Belakang Ayah sebagai Akademikus Publik
Mochtar Husein dikenal sebagai akademisi publik: dosen, mubalig, penulis buku, kolumnis, hingga narasumber radio dan televisi.
Ia aktif mengisi Mimbar Jumat, menjadi kolumnis di berbagai surat kabar, serta pernah meliput peristiwa internasional sebagai jurnalis.
6. Tradisi Ilmiah dan Kesederhanaan Dibangun Sejak Rumah
Nilai-nilai keilmuan, disiplin, dan kesederhanaan ditanamkan Mochtar Husein kepada tujuh anaknya sejak dini. Salat berjamaah, kultum keluarga, hingga penekanan pada kehalalan rezeki menjadi fondasi pendidikan keluarga yang kuat.
7. Uceng Telah Memenuhi Syarat Profesor Sejak 2025
Secara administratif dan akademik, Uceng sebenarnya telah memenuhi syarat sebagai guru besar sejak Oktober 2025. Prosesi pengukuhan di UGM Januari 2026 merupakan seremoni resmi dari capaian yang telah lama ia raih.
8. Guru Besar Pertama dalam Keluarga
Uceng menjadi anak pertama dalam keluarga Mochtar yang meraih gelar guru besar, sekaligus mewujudkan impian sang ayah.
Keenam kakaknya meniti jalur profesional berbeda—kedokteran, teknik, konsultan, birokrasi, dan manajemen—namun tetap mencerminkan keberhasilan pendidikan keluarga.
9. Pendidikan Agama sebagai Nilai, Bukan Sekadar Gelar
Meski tidak ada anak yang menempuh pendidikan formal di jurusan agama, nilai-nilai keislaman justru menjadi inti pendidikan keluarga. Bagi keluarga Mochtar, agama bukan semata gelar akademik, melainkan akhlak yang hidup dan membentuk peradaban.
___
Denun di Sorowako, 15 Januari 2026









