Diperlukan pemantauan dan mitigas dampak banjir dan longsor Sumatra terhadap perairan dan ekosistem pesisir. Tanpa respons cepat dan terukur, dampak ini berpotensi menurunkan produktivitas perikanan, melemahkan blue carbon, hingga mengurangi perlindungan alami pantai.
PELAKITA.ID – Bencana banjir dan longsor skala besar yang melanda berbagai wilayah di Sumatra dalam beberapa hari terakhir bukan hanya mengakibatkan kerusakan daratan, hunian, dan infrastruktur.
Dalam konteks pesisir dan laut, peristiwa ekstrem ini membawa implikasi ekologis yang tidak kalah serius.
Besarnya volume sedimen, material organik, limbah, hingga perubahan kimia air yang terbawa banjir dapat mengganggu fungsi dan struktur ekosistem penting seperti mangrove, padang lamun, dan terumbu karang.
Tanpa respons cepat dan terukur, dampak ini berpotensi menurunkan produktivitas perikanan, melemahkan blue carbon, hingga mengurangi perlindungan alami pantai.
Demikian pandangan Guru Besar Ilmu Kelautan Universitas DiponegoroProf. Dr. Ir. Munasik, M.Sc. dari Fakultas Perikanan dan Kelautan terkait dampak bencana banjir dan longsor hebat di Sumatera pada kondisi ekosistem pesisir dan laut di sekitar Sumatera.
Dampak Langsung pada Ekosistem Mangrove, Lamun, dan Terumbu Karang
Menurut Munasik, hulu yang mengalami longsor dan banjir ekstrem biasanya mengirimkan muatan sedimen dalam jumlah besar ke pesisir.
“Pada ekosistem mangrove, sedimen berat dapat mengubur sebagian akar dan batang, mengubah salinitas pori tanah, dan memicu matinya individu yang sensitif terhadap perubahan mendadak. Bila kejadian ini berulang, struktur komunitas mangrove dapat bergeser menuju spesies pionir yang lebih toleran,” terangnya.
Padang lamun, kata Munasik, yang sangat bergantung pada cahaya, juga menghadapi risiko besar. Kekeruhan yang meningkat serta pengendapan sedimen halus dapat menghambat fotosintesis dan memicu kematian vegetasi dalam waktu singkat. Hilangnya tutupan lamun akan berdampak pada rantai makanan dan tempat tumbuh kembang (nursery ground) berbagai jenis ikan.
Prof Munasik yang merupakan pakar terumbu karang Undip ini menilai, terumbu karang pun tidak luput dari ancaman.
“Sedimen yang menutup polip dapat menghambat fotosintesis alga simbiotik, memicu stres, dan memperlambat pemulihan. Terumbu yang sebelumnya sudah tertekan oleh bleaching atau aktivitas penangkapan ikan destruktif akan lebih sulit untuk kembali pulih,” ucapnya.
Perubahan Struktur dan Fungsi Ekosistem Pesisir
Munasik menambahkan, keseluruhan tekanan tersebut berpotensi mengubah struktur ekosistem pesisir. Spesies sensitif pada lamun, karang, dan bibir mangrove bagian luar akan menurun. Kemudian bergeser ke spesies yang lebih toleran dan oportunis.
Hilangnya keragaman bentik juga mengubah fungsi ekosistem, termasuk menurunnya produktivitas primer dan melemahnya proses biogeokimia di sedimen.
Dalam jangka lebih panjang, ujar Munasik, terganggunya ekosistem berarti terganggunya mata pencaharian masyarakat.
“Produksi perikanan menurun, kapasitas penyerapan karbon melemah, dan perlindungan pantai dari gelombang ekstrem ikut berkurang. Pada kondisi tertentu, campuran air tawar dan limbah dari daratan dapat meningkatkan risiko penyakit dan masalah sanitasi di wilayah pesisir,” sebutnya.
Efek Berjenjang: Dari Kualitas Air hingga Jasa Ekosistem
Dampak banjir dan longsor dapat dilihat sebagai rangkaian efek berjenjang. Dimulai dari lonjakan sedimen, kekeruhan, perubahan salinitas, dan muatan polutan; berlanjut pada penurunan fotosintesis lamun dan karang; kemudian menyebabkan mortalitas organisme bentik sensitif.
Berikutnya, hilangnya habitat kompleks mengurangi sumber makanan dan ruang tumbuh bagi ikan juvenile, yang pada akhirnya memengaruhi ketahanan perikanan lokal dan pendapatan masyarakat.
Beberapa ekosistem dapat pulih dalam hitungan bulan, namun kerusakan terumbu karang parah dapat memerlukan waktu puluhan tahun untuk kembali stabil.
Di Sumatra, menurut Munasik, sejumlah faktor lokal memperparah dampak banjir dan longsor, terutama deforestasi hulu, perluasan perkebunan sawit, dan aktivitas pertambangan yang meningkatkan run-off serta risiko longsor.
Infrastruktur pesisir seperti tanggul dan breakwater juga dapat memodifikasi dinamika sedimen dan memperburuk penguburan lamun atau terumbu di lokasi tertentu.
Kondisi pra-bencana sangat menentukan: ekosistem yang sudah tertekan akan lebih rapuh menghadapi kejadian ekstrem.
Rangkaian Intervensi yang Perlu Segera Dilakukan
Prof Munasik menyebut untuk mencegah kerusakan lebih luas, diperlukan serangkaian tindakan yang terstruktur dari jangka pendek, menengah, hingga kebijakan jangka panjang.
“Dalam tahap segera, minggu ke satu bulan, prioritas utama adalah pemetaan cepat dampak banjir menggunakan drone atau citra udara, menghentikan sumber polusi akut dari daratan, dan melindungi area nursery serta koloni karang yang masih sehat melalui penetapan zona larang tangkap sementara,” ucapnya.
“Dalam jangka menengah satu bulan hingga dua tahun, langkah yang diperlukan mencakup restorasi mangrove berbasis hidrologi, rehabilitasi lamun pada lokasi yang bebas sedimentasi berlebih, serta pemulihan karang hanya pada area yang sedimentasinya telah berkurang. Reboisasi hulu, stabilisasi lereng, serta perbaikan tata kelola drainase menjadi bagian penting untuk mencegah tekanan berulang,” tambahnya.
“Untuk jangka panjang , dua sampai sepuluh tahun, implementasi manajemen DAS–pesisir secara terpadu, penguatan koordinasi kelembagaan lintas sektor, serta pembangunan sistem pemantauan dan peringatan dini menjadi kunci untuk mengurangi risiko bencana di masa depan,” lanjutnya.
Pemantauan perlu dilakukan secara sistematis, mencakup kualitas fisik dan kimia air (NTU, TSS, nutrien, salinitas), kondisi habitat (tutupan lamun, karang hidup, densitas mangrove), hingga parameter ekologi seperti rekrutmen ikan dan kapasitas blue carbon.
Pemantauan intensif sebaiknya dilakukan triwulanan di tahun pertama lalu disesuaikan berdasarkan stabilitas kondisi.
Catatan Kritis untuk Wilayah Sibolga, Nias, dan Aceh
Di ujung tanggapannya, Prof Munasik menyatakan bahwa berdasarkan laporan lapangan, banjir dan longsor besar di wilayah ini membawa material sedimen dalam jumlah sangat besar ke muara.
Situasi tersebut berpotensi langsung menekan lamun dan karang yang berada di dekat garis pantai. Karena itu, pemetaan sebaran sedimen di muara dan perlindungan area nursery ikan menjadi prioritas awal yang tidak bisa ditunda.
Diaa menegaskan, bencana banjir dan longsor di Sumatra perlu dipandang bukan hanya sebagai krisis darat, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan laut.
“Dampaknya yang menjalar dari kualitas air hingga jasa ekosistem membutuhkan respons yang cepat, terukur, dan berbasis bukti ilmiah,” serunya.
Intervensi yang tepat tidak hanya akan mempercepat pemulihan ekosistem pesisir, tetapi juga memulihkan ketahanan ekonomi masyarakat pesisir yang bergantung pada sumber daya laut.
“Tanpa langkah antisipatif, kerusakan pesisir dapat menjadi lebih luas dan pemulihannya membutuhkan waktu jauh lebih panjang,” pungkas Prof Munasik.
Editor K. Azis









