Dari Dialog Akhir Tahun ISLA Unhas 2025 | Kemenko IPK Dorong Efisiensi Logistik untuk Indonesia Emas 204

  • Whatsapp
Suasana Diskusi Akhir Tahun ISLA Unhas 2025

Strategi Lintas Matra Dr. Lukijanto: Dari Tol Laut Hingga Infrastruktur Antariksa, Solusi Integrasi Multimoda untuk Lolos dari Middle Income Trap

PELAKITA.ID – Indonesia menatap masa depan ekonomi yang ambisius. Visi besar Indonesia Emas 2045 dan upaya keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah (Middle Income Trap) pada 2038 kini sangat tergantung pada satu sektor fundamental: infrastruktur konektivitas.

Dalam forum Diskusi Akhir Tahun ISLA UNHAS, Dr. Eng. Lukijanto, Asisten Deputi Infrastruktur Umum dan Sosial Kemenko IPK, memaparkan strategi revolusioner untuk memperkuat sistem logistik nasional.

Menurut Dr. Lukijanto, untuk mencapai skenario optimis, ekonomi Indonesia harus tumbuh stabil di angka 7% per tahun.

Pertumbuhan ini hanya bisa tercapai jika sektor konektivitas mampu mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8% pada 2029. Namun, ada tiga “penyakit kronis” yang menghambat daya saing nasional: biaya logistik yang tinggi, ketimpangan infrastruktur wilayah, dan kerugian akibat kemacetan kota besar.

Biaya logistik nasional terhadap PDB tercatat 14,1% pada 2023, jauh di atas rata-rata negara maju.

Dr Lukijanto (kanan)

Ketimpangan infrastruktur terutama di wilayah timur menambah beban distribusi, sementara kemacetan di Jakarta, Bandung, dan Surabaya menyebabkan kerugian sekitar Rp65 triliun per tahun.

Target utama Kemenko IPK dalam kerangka 2025-2029 adalah menurunkan biaya logistik nasional menjadi 12,5% dari PDB. Untuk itu, dibangun kerangka kebijakan yang disebut “Rumah Strategi: Kerangka Kebijakan Pengembangan Konektivitas Nasional 2025-2029”.

Strategi ini mendukung Asta Cita Kabinet Baru di bidang ketahanan ekonomi, infrastruktur strategis, dan pemerataan pembangunan, melalui lima pilar matra strategis yang saling terintegrasi.

Lima Pilar Strategis Lintas Matra

Darat: Fokus pada kelancaran arus barang dan penumpang melalui jaringan jalan tol yang terintegrasi, serta revitalisasi transportasi massal perkotaan untuk mengurangi kerugian akibat kemacetan.

Perkeretaapian: Ekspansi jaringan kereta api antarkota, termasuk kereta cepat, dengan integrasi multimoda ke transportasi perkotaan seperti KRL, LRT, dan MRT.

Laut/Maritim: Tulang punggung logistik nasional, dengan peningkatan kapasitas dan efisiensi pelabuhan, penguatan program Tol Laut, serta pengembangan sektor maritim sebagai kontributor penting PDB.

Udara: Peningkatan kapasitas bandara utama, pengembangan konektivitas di daerah 3T (Terdepan, Terpencil, Tertinggal), dan transformasi bandara menjadi pusat logistik strategis.

Antariksa: Pilar modern yang mencakup penguatan infrastruktur satelit untuk navigasi, mitigasi bencana, dan monitoring infrastruktur secara real-time.

Kunci Sukses: Digitalisasi dan Pembiayaan Non-APBN

Dr. Lukijanto menekankan bahwa keberhasilan strategi ini tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga pada harmonisasi regulasi, percepatan perizinan, dan tata kelola proyek strategis nasional.

Selain itu, mobilisasi pembiayaan non-APBN melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) menjadi mutlak untuk memastikan keberlanjutan proyek konektivitas.

Dengan strategi lima matra yang terintegrasi, Indonesia menargetkan peningkatan volume angkutan laut sebesar 24% dibanding 2024 dan indeks Blue Economy naik hingga 50,73% pada 2029.

Melalui integrasi transportasi multimoda dan efisiensi infrastruktur yang dikelola profesional, Indonesia diharapkan mengukuhkan diri sebagai kekuatan ekonomi terintegrasi, keluar dari Middle Income Trap pada 2038, dan menapaki posisi negara maju sesuai visi Indonesia Emas 2045.