Jejak Bencana di Sumatera: Menyusun Peta Luka, Menata Ulang Harapan

  • Whatsapp
Ilustrasi: Sejumlah warga berjalan di antara potongan kayu gelondongan yang bertumpuk di pantai Air Tawar, Padang, Sumatera Barat, Jumat (28/11/2025). Sampah kayu gelondongan itu menumpuk di sepanjang pantai Padang pasca banjir bandang beberapa hari terakhir. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/YU

PELAKITA.ID – Dalam sepekan terakhir, Sumatera kembali menjadi panggung duka. Hujan ekstrem yang turun nyaris tanpa jeda sejak akhir November memicu banjir bandang, tanah longsor, dan gelombang pengungsian yang tersebar dari Aceh hingga Sumatera Barat.

Tidak ada batas administratif dalam bencana ini—air bah tidak berhenti di garis provinsi, dan longsor tidak menimbang etnis atau agama. Rasa kehilangan pun merambat jauh, menembus ruang batin kita yang paling dalam.

Di tengah kepanikan dan kabar kehilangan, perhatian kita tertuju pada satu pertanyaan sederhana: di mana saja luka itu kini berdiam? Menyusun peta lokasi terdampak bukan sekadar kerja teknis, melainkan usaha memahami betapa luasnya penderitaan yang sedang dialami saudara-saudara kita.

Aceh: Ratusan Desa Menjadi Tanda Seru

Provinsi Aceh adalah salah satu yang paling terpukul. Ratusan desa dilaporkan terendam banjir dan tertimbun longsor. Kabupaten Bener Meriah menjadi pusat duka paling kentara.

Di wilayah pegunungan itu, hujan deras memicu longsor yang menghantam permukiman dan memutus akses desa-desa kecil. Di beberapa lokasi, warga hanya bisa dievakuasi dengan tandu dan tali karena jalan penghubung amblas terseret longsor.

Aceh Utara juga mencatat kerusakan besar: banyak kampung dilaporkan tenggelam hingga atap rumah, sementara arus deras sungai menyeret perabotan, ternak, bahkan kendaraan.

Di Pidie Jaya, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Bireuen, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang, banjir memaksa ribuan warga mengungsi ke meunasah, balai desa, dan sekolah-sekolah yang mendadak disulap menjadi tempat perlindungan.

Laporan pemerintah provinsi menyebut jumlah terdampak mencapai ratusan ribu jiwa—angka yang mengingatkan kita betapa rentannya wilayah Aceh terhadap bencana hidrometeorologi.

Sumatera Utara: Kota-Kota yang Tercekik Lumpur

Sumatera Utara menjadi provinsi berikutnya yang mencatat luka besar. Kota Sibolga, kota pesisir yang rapat permukimannya, mengalami kerusakan di hampir seluruh kecamatan:

  • Sibolga Utara

  • Sibolga Selatan

  • Sibolga Sambas

  • Sibolga Kota

Kelurahan-kelurahan seperti Angin Nauli, Simare-mare, Sibolga Hilir, Hutabarangan, Parombunan, Aek Mani, hingga Pancuran Bambu dan Pancuran Kerambil dilaporkan terendam banjir dan tertutup lumpur setinggi lutut hingga pinggang. Banyak ruko di pusat kota rusak parah, dan warga masih bekerja keras mengevakuasi barang-barang yang tersisa.

Di Kabupaten Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah, longsor beruntun terjadi terutama di daerah aliran sungai dan kawasan perbukitan seperti Batang Toru.

Beberapa desa dilaporkan terisolasi karena jalan utama tertutup material longsor. Di Humbang Hasundutan, banjir bandang menelan korban jiwa dan menghancurkan rumah-rumah di desa-desa lereng.

Langkat, Padang Sidempuan, dan daerah lain di Sumut juga mencatat banjir besar yang merendam desa-desa pesisir sungai. Aliran air yang tiba-tiba membesar memaksa warga mengungsi di malam hari, hanya dengan pakaian di badan.

Sumatera Barat: Lereng-Lereng yang Menghela Napas Panjang

Sumatera Barat, dengan topografi perbukitan dan gunung-gunung yang curam, kembali menunjukkan betapa rentannya ia terhadap longsor. Beberapa kabupaten di wilayah pegunungan dan pesisir dilaporkan mengalami longsor yang memutus jalan, menimbun rumah, dan memotong akses antar-kecamatan.

Di beberapa daerah, warga harus menunggu berjam-jam sebelum alat berat tiba karena jalan menuju lokasi juga tidak dapat dilalui. Desa-desa di lereng gunung kini dipenuhi suara mesin, teriakan saling memanggil, dan lantunan doa dari keluarga yang masih mencari kerabatnya.

Riau, Bengkulu, dan Jambi: Luka yang Meluas

Meski tidak setara dengan Aceh atau Sumut, daerah-daerah lain di Sumatera juga merasakan dampak badai yang sama. Di Riau, beberapa desa di hilir sungai besar terendam akibat luapan air dari hulu.

Bengkulu mencatat longsor di beberapa titik jalan lintas, sementara Jambi melaporkan desa-desa yang terendam karena curah hujan ekstrem.

Laporan mineralogi BMKG menunjukkan bahwa tingkat kejenuhan tanah di sebagian wilayah Sumatera kini berada pada titik rawan, menandakan potensi longsor susulan jika hujan kembali turun dalam intensitas tinggi.

Lebih dari Sekadar Daftar Lokasi

Menyusun daftar desa, kecamatan, dan kabupaten yang terdampak bukan sekadar mencatat nama geografis di atas kertas.

Di balik setiap titik lokasi, ada denyut kehidupan yang tiba-tiba terputus: keluarga yang kehilangan rumah, anak-anak yang tak lagi memiliki ruang belajar, petani yang menyaksikan sawahnya hilang digulung banjir, nelayan yang perahu serta jaringnya terseret arus, dan pedagang kecil yang kehilangan tempat untuk menggantungkan harapan. Setiap nama wilayah menyimpan kisah tentang kepastian yang mendadak runtuh.

Karena itu, membaca daftar lokasi terdampak sesungguhnya adalah membaca peta kehidupan yang tergores. Ia memperlihatkan bagaimana bencana bukan hanya urusan fisik, tetapi juga tentang hancurnya ritme sosial dan ekonomi masyarakat.

Desa yang terendam bukan sekadar wilayah yang basah oleh air, melainkan ruang sosial yang terhenti; kecamatan yang tertimbun longsor bukan hanya soal material yang bergerak, tetapi tentang memori, relasi, dan masa depan yang ikut terguncang. Dalam setiap laporan kerusakan, ada pergulatan manusia yang berusaha menjaga martabatnya di tengah keterbatasan.

Solidaritas: Jalan Pulang dari Kekacauan

Bencana ini memanggil kita untuk menampilkan wajah terbaik sebagai bangsa. Kita tidak bisa membendung hujan atau menahan tanah yang lelah, tetapi kita bisa hadir:

  • membantu membuka akses jalan,

  • mengirim logistik dan obat-obatan,

  • menguatkan informasi yang benar,

  • menenangkan mereka yang hancur hatinya.

Dari Aceh hingga Jambi, relawan telah bergerak. Komunitas lokal, lembaga keagamaan, organisasi mahasiswa, para pengusaha kecil, hingga warga yang menyumbang sebungkus mi instan—semua adalah bagian dari jaring solidaritas itu.

Belajar dari Luka

Setiap bencana selalu membawa dua pesan: peringatan dan pelajaran.

Peringatan bahwa perubahan iklim tengah mempercepat ekstremitas cuaca yang tak lagi dapat kita abaikan; dan pelajaran bahwa kesiapsiagaan, tata kelola ruang, serta pemulihan ekologis bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan yang semakin mendesak. Sumatera, dalam pekan penuh duka ini, seperti mengirimkan bisikan keras kepada kita: tanah ini sedang meminta perhatian.

Air yang meluap bukan hanya karena hujan, melainkan karena ruang-ruang resapan yang hilang dan sungai yang kehilangan daya tampungnya. Longsor terjadi bukan semata karena curah hujan tinggi, tetapi juga karena lereng-lereng yang kelelahan oleh pembukaan lahan dan pembangunan tanpa kajian yang memadai.

Ketika kita melihat daftar panjang lokasi-lokasi terdampak, kita sadar bahwa bencana ini bukan hanya milik Sumatera—ini urusan kita semua.

Rubuhnya sebuah desa adalah retakan kecil pada bangunan kebangsaan; kehilangan seorang anak di Bener Meriah adalah luka bagi seluruh ibu di Nusantara; putusnya jalan di Batang Toru adalah panggilan keras untuk merawat kembali gunung dan lembah yang menjadi penyangga hidup.

Semoga dari ratapan ekologis ini tumbuh kesadaran baru. Semoga dari peta luka ini lahir peta harapan. Dan semoga tangan-tangan kita—sekecil apa pun kontribusinya—dapat menjadi bagian dari pemulihan saudara-saudara kita di Sumatera, karena hanya dengan saling menguatkanlah bangsa ini dapat bangkit dari duka yang berulang.

Redaksi