- Gaya ini sangat terlihat dalam cara Anwar memperlakukan birokrasi sebagai mitra perubahan, bukan alat komando. Ia membangun suasana kerja yang mendorong partisipasi, kreativitas, dan rasa memiliki.
- Dalam pertemuan apa pun—baik rapat resmi maupun obrolan santai di balai desa—ia lebih senang bertanya, bukan mendominasi.
PELAKITA.ID – Kota Sorowako sedang mendung saat penulis larut dalam obrolan dengan Enda Amir Prayudha, fasilitator program PPM SDGs di Wasuponda merespon pertanyaan penulis, “siapa gerangan kepala daerah di Indonesia yang menarik perhatian karena kemampuan komunikasi dan orasinya di depan publik.”
Demikian pertanyaan penulis dan dijawab dengan sigap oleh Enda: Anwar Hafid! Balas dia.
“Kenapa bukan Kang Dedi? Itu berbeda, KDM terkesan penuh rekayasa proses. Pak Anwar yang keren menurutku,” ucapnya lagi.
Ok deh.
Pembaca sekalian, di tengah lanskap politik lokal yang kerap sesak oleh perebutan citra, formalitas birokrasi, dan gaya komunikasi yang terasa dingin, hadirnya sosok Anwar Hafid dengan sentuhan yang berbeda merupakan oase bagi kita semua. Setidaknya itu poin yang disampaikan Enda.
Penulis pun berselancar dari medsos ke medsos, dari konten ke konten Anwar Hafid.
Dia adalah politisi asal Sulawesi Tengah yang dikenal memiliki rekam jejak panjang dalam dunia pemerintahan daerah. Ia memulai kiprahnya sebagai Bupati Morowali selama dua periode, di mana kepemimpinannya banyak diapresiasi karena mampu membawa perubahan signifikan pada sektor pelayanan publik, pengelolaan sumber daya, dan pembangunan wilayah.
Setelah menyelesaikan masa jabatannya di daerah, ia melangkah ke panggung nasional sebagai anggota DPR RI, memperluas pemahamannya tentang dinamika kebijakan dan tata kelola pemerintahan di tingkat pusat.
Karier panjang tersebut menjadi fondasi penting ketika ia kemudian terpilih sebagai Gubernur Sulawesi Tengah. Dalam posisi ini, Anwar dikenal sebagai pemimpin yang merawat kedekatan dengan masyarakat dan menampilkan gaya komunikasi politik yang sederhana, langsung, dan membumi.
Sejumlah media sosial menyebutnya berpengalaman lintas level—dari daerah hingga pusat—membentuk sensitivitas politik dan sosialnya, membuatnya dianggap sebagai figur yang memahami praktik kebijakan secara utuh: bagaimana sebuah keputusan lahir, dijalankan, dan dirasakan oleh rakyat.
Sosoknya kini banyak dipandang sebagai representasi pemimpin daerah yang adaptif, komunikatif, dan berorientasi pada perubahan nyata.
Yang mengagumkan adalah kemampuan komunikasinya, orasinya dan gayanya. Keren memang.
Sejak ia memegang amanah sebagai Gubernur Sulawesi Tengah, publik seperti melihat babak baru bagaimana seorang pemimpin daerah berinteraksi dengan warganya.
Cara Anwar berbicara, mendengar, dan merespons terasa lebih hangat, lebih membumi, dan lebih berorientasi pada penyelesaian persoalan sehari-hari. Di antara deretan kepala daerah, ia muncul sebagai figur yang memancarkan warna yang lain—lebih manusiawi, lebih sederhana, dan lebih dekat.
1. Apa yang Membuat Anwar Hafid Tampak Berbeda?
Keunikan Anwar terlihat sejak cara ia menempatkan masyarakat. Di saat banyak pejabat membangun panggung untuk dirinya sendiri, Anwar justru memilih menjadikan warga sebagai pusat cerita.
Dalam pertemuan apa pun—baik rapat resmi maupun obrolan santai di balai desa—ia lebih senang bertanya, bukan mendominasi.
Ia memberi ruang agar suara warga tumbuh utuh, bukan sekadar menjadi pelengkap. Sikap ini mencerminkan laku deliberative leadership, yakni kepemimpinan yang meletakkan dialog sebagai dasar legitimasi kebijakan.
Bahasa yang ia gunakan pun tak berliku. Kebijakannya dijelaskan dengan kata-kata sederhana yang mudah dicerna, seolah menautkan antara dunia teknokratis dengan kehidupan harian rakyat.
Sementara banyak pemimpin menjaga jarak melalui formalitas bahasa, Anwar memilih jalan sebaliknya: ia mendekat, merapat, dan berbicara dengan bahasa yang hidup di tengah masyarakat.
Pengalamannya memimpin daerah sebagai bupati dua periode, kemudian hidup dalam dinamika politik nasional sebagai legislator, membentuk kepekaan yang jarang dimiliki pemimpin lain.
Ia tahu bagaimana kebijakan dirumuskan di pusat, dan ia tahu betul bagaimana kebijakan itu menyentuh—atau tidak menyentuh—akar rumput. Perpaduan perspektif inilah yang menjadikannya lebih peka terhadap denyut publik dibanding banyak rekan sejawatnya.
2. Daya Tarik Gaya Komunikasinya
Jika ditelisik lebih dalam, ada tiga simpul kuat yang menjadi ciri khas komunikasi politik Anwar Hafid.
a. Harmoni antara Ucapan dan Tindakan
Bagi para pengamat komunikasi politik, konsistensi adalah mata uang kepercayaan. Anwar memahami itu. Pesannya tentang pemerataan, pembangunan yang harus hadir hingga pelosok kampung, atau pelayanan publik yang berpihak pada yang lemah, bukan hanya menjadi jargon pidato.
Ia turun langsung, menyapa warga di desa-desa terpencil, duduk bersama petani dan nelayan, dan menampilkan gestur yang selaras dengan kata-katanya. Di sinilah pesan menjadi utuh—terkirim, terbaca, dan dipercaya.
b. Menghadirkan Harapan yang Mungkin, Bukan Impian yang Menggantung
Anwar tidak menjanjikan langit. Ia lebih memilih menggenggam harapan yang bisa diukur, dirasakan, dan dijalankan. Pendekatan realistic optimism yang ia gunakan membuat warga merasa aman: ada arah, ada langkah, ada peta jalan yang jelas.
Ia tidak menggedor publik dengan retorika besar dan menekan seperti kerap dipertontonkan di belahan bumi Indonesia lainnya – tetapi menguatkan batin mereka melalui penjelasan yang jernih tentang apa yang sedang dan dapat dicapai.
c. Kedekatan yang Tulus, Bukan Panggung Pencitraan
Dalam banyak kunjungan, ia bicara tanpa jarak. Ia mendengar tanpa tergesa. Ia merespons tanpa benteng birokrasi.
Inilah yang oleh Joseph Nye disebut sebagai soft power kepemimpinan: kemampuan memengaruhi bukan dengan instruksi atau kewenangan, melainkan dengan keteladanan dan hubungan emosional yang tulus.
Di dunia digital, ia tidak menjadikan media sosial sekadar etalase. Anwar menggunakannya sebagai ruang percakapan—tempat menerima kritik dan menjawab aspirasi. Akun resminya bukan poster, tetapi ruang dialog.
3. Mengapa Ia Layak Disebut Komunikator Politik yang Baik?
Dalam teori komunikasi politik, seorang komunikator dinilai dari empat dimensi: kompetensi, empati, kredibilitas, dan efektivitas. Pada keempatnya, Anwar tampak memiliki fondasi yang kuat.
-
Kompetensinya tercermin dari cara ia menguasai isu tanpa membuat pembahasan menjadi rumit.
-
Empatinya hadir dalam cara ia memberi waktu bagi warga untuk bersuara sebelum ia berbicara.
-
Kredibilitasnya dibangun dari jejak panjang yang konsisten—sejak di kabupaten hingga ke tingkat provinsi.
-
Efektivitas pesannya terlihat dari bagaimana publik merespons dan mendukung kebijakan awal yang ia jalankan.
Di antara banyak kepala daerah, tidak semua memiliki kombinasi empat dimensi ini secara seimbang. Ada yang pintar tetapi jauh dari empati, ada pula yang dekat dengan warga tetapi lemah dalam visi. Anwar mampu menjaga keseimbangan itu.
4. Menyimak Gaya Anwar Lewat Teori Komunikasi dan Kepemimpinan
Untuk memahami gaya kepemimpinannya secara akademik, kita dapat melihatnya dari beberapa teori penting.
Symbolic Interactionism (Blumer)
Teori ini menekankan bahwa makna sosial—termasuk makna politik—lahir dari interaksi sehari-hari. Dalam kerangka ini, kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan proses pembentukan makna bersama melalui percakapan, gestur, dan kehadiran. Anwar Hafid menerapkan prinsip ini dengan turun langsung ke kampung-kampung, berdialog dalam suasana yang cair, dan membiarkan makna kepemimpinan tumbuh dari percakapan-percakapan kecil yang ia bangun.
Di hadapan warga, ia tidak tampil sebagai simbol kekuasaan, tetapi sebagai mitra dialog. Dari titik itulah muncul kepercayaan dan kedekatan emosional yang sulit dibangun hanya dengan pidato formal.
Two-Step Flow Communication (Katz & Lazarsfeld)
Dalam model aliran dua langkah, pesan politik tidak berjalan lurus dari pemimpin ke masyarakat, tetapi melalui “opinion leader” yang dipercaya. Anwar memahami dinamika ini dan acap kali melibatkan tokoh adat, pemuda desa, kelompok perempuan, hingga komunitas lokal sebagai jembatan komunikasi.
Ia menyampaikan arah kebijakan dan visi pembangunan kepada mereka, kemudian membiarkan pesan itu mengalir secara alami melalui figur-figur yang memiliki pengaruh sosial. Strategi ini membuat pesan politiknya tidak terasa menggurui, melainkan bagian dari percakapan internal masyarakat yang berkembang dari mulut ke mulut secara lebih lentur dan meyakinkan.
Transformational Leadership
Kepemimpinan transformasional ditandai oleh kemampuan pemimpin menggerakkan perubahan bukan dengan kekuasaan, melainkan inspirasi, keteladanan, dan motivasi.
Gaya ini sangat terlihat dalam cara Anwar memperlakukan birokrasi sebagai mitra perubahan, bukan alat komando. Ia membangun suasana kerja yang mendorong partisipasi, kreativitas, dan rasa memiliki.
Ketiga pendekatan ini—interaksi simbolik, aliran dua langkah, dan kepemimpinan transformasional—bertemu dalam sosok Anwar Hafid dan membentuk fondasi komunikasi politik yang kuat, humanis, dan efektif. Ia bukan sekadar pemimpin yang berbicara dari podium, tetapi pemimpin yang hadir di tengah warga untuk mendengar, memahami, dan membangun makna bersama.
Pesan-pesannya tidak berhenti sebagai kata-kata, tetapi bergerak melalui jejaring sosial lokal dan diwujudkan dalam tindakan kolektif. Inilah yang membuat gaya kepemimpinannya terasa lebih autentik, lebih membumi, dan lebih mampu menggerakkan perubahan nyata di tingkat akar rumput.
Model Baru dari Timur Indonesia
Pembaca sekalian, dalam era politik lokal yang semakin riuh, hadirnya pemimpin yang mampu memadukan kedekatan emosional, ketegasan moral, dan narasi yang merangkul adalah anugerah tersendiri.
“Anwar Hafid memang keren, dia tampil sebagai salah satu contohnya: seorang pemimpin yang tidak hanya berbicara, tetapi juga mendengar;” kata Enda, sahabat saya itu.
“Bersama wagub Ibu Reny, mereka nampak kompak. Anwar dan Reny tidak hanya menjanjikan, tetapi juga hadir; yang tidak hanya menjadi pejabat, tetapi menjadi manusia di tengah manusia, Mereka saling melengkapi,” tambah Enda, alumini Antropologi Fisip Unhas ini.
Malam mengurung Sorowako, penulis tiba kesimpulan: inilah alasan mengapa ia tampak berbeda. Dan inilah mengapa banyak yang menilai dirinya sebagai salah satu komunikator politik daerah paling efektif hari ini.
___
Kamaruddin Azis, founder Pelakita.ID
Sorowako, 22 November 2025
