IPM Tertatih, Gowa Perlu Terobosan Program

  • Whatsapp
Pasangan Hati Damai, Husniah Talenrang dan Darmawangsyah Muin (dok: Tribun Timur)

Tren IPM 2021–2025 naik terus, namun sangat lambat. IPM Gowa tahun 2025 berada di angka 74,22, dan dikategorikan “Tinggi”. Artinya, kualitas pembangunan manusia Gowa sudah berada pada level baik, namun belum masuk kategori “Sangat Tinggi”. Pertumbuhan 2025 hanya 0,69% — peningkatan kecil.

PELAKITA.ID – Dalam beberapa tahun terakhir,, berbagai indikator pembangunan manusia di Sulawesi Selatan menunjukkan tren peningkatan, namun dengan variasi yang cukup signifikan antar-daerah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) provinsi terus membaik, ditopang oleh tiga komponen utama: (1) umur harapan hidup, (2) rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah, serta (3) pengeluaran riil per kapita yang mencerminkan standar hidup.

Jika melihat tren nasional, daerah yang mampu melompat lebih cepat dalam IPM umumnya memiliki dua kesamaan: fokus kuat pada peningkatan kualitas pendidikan dasar–menengah, serta perluasan akses kesehatan berbasis layanan primer yang efektif.

Peningkatan IPM bukan semata soal program sektoral, melainkan hasil integrasi antara kualitas pelayanan publik, daya saing ekonomi lokal, dan keselarasan kebijakan lintas sektor.

IPM Gowa

IPM Gowa tahun 2025 berada di angka 74,22, dan dikategorikan “Tinggi”. Artinya, kualitas pembangunan manusia Gowa sudah berada pada level baik, namun belum masuk kategori “Sangat Tinggi”.

  • Umur Harapan Hidup (UHH): 74,43 tahun
    Ini menunjukkan layanan kesehatan Gowa relatif baik, usia hidup rata-rata meningkat stabil.

  • Rata-rata Lama Sekolah (RLS): 8,54 tahun
    Setara kelas 2 SMP — indikator terlemah Gowa.

  • Harapan Lama Sekolah (HLS): 13,72 tahun
    Setara tamat SMA — menunjukkan peluang pendidikan cukup tinggi, tapi realisasi lama sekolah masih rendah.

  • Pengeluaran Riil per Kapita: 11.103 ribu rupiah per tahun (± 11,1 juta)
    Ini menunjukkan kemampuan daya beli masyarakat meningkat tapi masih perlu penguatan.

Tren IPM 2021–2025 naik terus, namun sangat lambat

  • 2021: 71,74

  • 2022: 72,44

  • 2023: 73,01

  • 2024: 73,71

  • 2025: 74,22

Pertumbuhan 2025 hanya 0,69% — peningkatan kecil.

Sumber BPS Gowa

Kabupaten Gowa termasuk daerah dengan potensi pertumbuhan IPM yang besar. Data IPM Gowa menunjukkan tren meningkat setiap tahun, namun tetap berada pada kategori menengah-atas bila dibandingkan dengan kota/kabupaten terdekat seperti Makassar atau Maros. Dimensi pendidikan menjadi salah satu pendorong utama, terutama meningkatnya harapan lama sekolah generasi muda.

Sayangnya, rata-rata lama sekolah masih perlu didorong, terutama di wilayah-wilayah pedesaan dan dataran tinggi.

Dari sisi kesehatan, umur harapan hidup mencatat perkembangan yang konsisten seiring perbaikan fasilitas layanan dasar seperti puskesmas, posyandu, dan peningkatan cakupan jaminan kesehatan. Namun, beban ganda penyakit—penular dan tidak menular—masih menjadi tantangan, termasuk kasus stunting yang membutuhkan intervensi lintas sektor.

Sementara itu, dimensi standar hidup layak dipengaruhi oleh dinamika ekonomi masyarakat, terutama pekerja informal, petani, buruh, dan pelaku UMKM. Ketersediaan lapangan kerja produktif dan nilai tambah ekonomi lokal sangat menentukan kemampuan Gowa untuk meningkatkan pengeluaran riil per kapita warganya secara berkelanjutan.

Ada beberapa alasan utama mengapa IPM Gowa tak naik signifikan:

  • Rata-rata Lama Sekolah Masih Rendah (8,54 tahun). Ini menjadi penyebab terbesar IPM Gowa lambat naik. Beberapa faktornya: Tingginya angka putus sekolah (terutama di daerah pinggiran dan dataran tinggi seperti Tombolopao, Tinggimoncong, Bontolempangan). Faktor ekonomi keluarga, pemahaman bahwa SMA tidak wajib, sehingga banyak anak berhenti setelah SMP dan akses pendidikan di wilayah pegunungan masih terbatas.
  • Pengeluaran Riil per Kapita Masih Rendah. Dengan daya beli masyarakat sekitar Rp 11,1 juta/tahun, kemampuan keluarga untuk membiayai pendidikan, kesehatan, dan konsumsi berkualitas masih terbatas.
  • Distribusi Layanan Kesehatan dan Pendidikan Belum Merata. Di dataran rendah (Somba Opu, Pallangga), layanan memadai. Di dataran tinggi (Malino dan sekitarnya), akses masih sulit.
  • Kualitas Pendidikan dan Kesehatan Masih Perlu Ditingkatkan. Jumlah tenaga guru berkualitas masih kurang. Fasilitas kesehatan puskesmas di beberapa kecamatan belum optimal, gizi anak dan stunting masih menjadi masalah.

Tantangan Daerah

Gowa menghadapi sejumlah tantangan struktural yang jika tidak ditangani secara strategis akan memperlambat peningkatan IPM di masa depan:

a. Ketimpangan akses pendidikan
Sebagian desa di dataran tinggi dan wilayah terpencil masih memiliki akses terbatas pada layanan pendidikan bermutu. Ketersediaan guru, sarana, serta relevansi kurikulum dengan kebutuhan lokal masih perlu penguatan.

b. Kualitas layanan kesehatan dasar
Meskipun fasilitas semakin merata, kualitas layanan—terutama kompetensi tenaga kesehatan, sistem rujukan, dan edukasi masyarakat—masih menjadi pekerjaan besar. Kondisi geografis juga mempengaruhi kecepatan layanan di wilayah terpencil.

c. Struktur ekonomi berbasis pertanian tradisional
Sebagian besar penduduk masih bergantung pada sektor pertanian dengan produktivitas rendah. Transformasi ekonomi menuju agroindustri, UMKM kreatif, dan jasa modern belum merata.

d. Urbanisasi dan tekanan pembangunan
Sebagai daerah penyangga Makassar, Gowa menghadapi tekanan urbanisasi: pertumbuhan penduduk cepat, kebutuhan infrastruktur meningkat, dan tata ruang harus lebih adaptif terhadap risiko lingkungan, termasuk banjir dan degradasi DAS.

Review Program Unggulan Bupati

Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, program unggulan Bupati dirancang untuk mempercepat pembangunan manusia sekaligus memperkuat fondasi ekonomi dan sosial masyarakat. Beberapa intervensi strategis meliputi:

a. Reformasi pendidikan dan sekolah berkualitas
Peningkatan kualitas guru, pembangunan sekolah baru di wilayah terpencil, digitalisasi pembelajaran, dan program beasiswa daerah telah memperluas akses sekaligus meningkatkan mutu pendidikan.

b. Penguatan kesehatan primer dan penurunan stunting
Program yang menekankan pemantauan kesehatan keluarga, peningkatan layanan gizi ibu–anak, serta revitalisasi posyandu berbasis teknologi telah memperlihatkan hasil signifikan.

c. Transformasi ekonomi lokal dan UMKM
Melalui penguatan koperasi, fasilitasi permodalan, pelatihan kewirausahaan, serta pengembangan sentra produksi seperti pertanian organik, olahan pangan, dan ekonomi kreatif, pemerintah daerah berupaya meningkatkan pendapatan masyarakat.

d. Infrastruktur konektivitas dan desa maju
Pembangunan jalan desa, jaringan air bersih, sarana transportasi, dan digitalisasi pelayanan publik membantu menurunkan biaya sosial-ekonomi sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap layanan dasar.

e. Tata kelola dan layanan publik modern
Integrasi layanan digital, transparansi anggaran, dan peningkatan kapasitas ASN menjadi fondasi agar pembangunan berjalan lebih efisien, mudah diakses, dan terpercaya.

Menimbang Terobosan

Meskipun Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Gowa menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun, lajunya masih tergolong lambat dibandingkan daerah-daerah yang tumbuh pesat di Sulawesi Selatan.

Penyebabnya terlihat jelas pada beberapa indikator dasar: rata-rata lama sekolah yang masih rendah, daya beli masyarakat yang terbatas, serta distribusi layanan pendidikan dan kesehatan yang belum merata. Selain itu, persoalan kesehatan dasar seperti stunting turut memperlambat akselerasi kualitas hidup, terutama di wilayah-wilayah pedesaan dan dataran tinggi.

Pembaca sekalian, Gowa memiliki potensi yang besar untuk membuat lompatan pembangunan, terutama karena struktur demografisnya yang produktif dan kedekatannya dengan pusat pertumbuhan ekonomi Makassar.

Potensi tersebut baru akan menghasilkan dampak signifikan jika diikuti program percepatan yang lebih terarah—mulai dari pendidikan menengah wajib, peningkatan kualitas guru, intervensi kesehatan ibu dan anak, hingga penguatan ekonomi produktif yang menciptakan pendapatan stabil bagi rumah tangga.

Pembangunan infrastruktur yang menghubungkan desa dan kota juga menjadi kunci untuk memastikan akses layanan dasar lebih merata.

Program-program yang dijalankan Bupati Husniah Talenrang sejauh ini telah berada di jalur yang tepat, terutama dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan pemerataan pembangunan desa.

Meski demikian, beberapa fokus perlu diperkuat agar hasilnya lebih terasa: peningkatan rata-rata lama sekolah sebagai prioritas utama, pengembangan sektor ekonomi basis agar daya beli masyarakat meningkat, serta penetapan target pembangunan yang terukur di setiap kecamatan.

Di sisi lain, pelibatan pemerintah desa secara lebih sistematis dalam penanganan pendidikan dan gizi akan memastikan bahwa peningkatan IPM berjalan inklusif dan berkelanjutan hingga level keluarga.

Redaksi