Satgas PHKE-ESDM dan Unhas Gelar Dialog Hilirisasi dan Ketahanan Energi, Membangun Kedaulatan dari Timur

  • Whatsapp
Ilusyrasi kegiatan
  • Pada 23 Mei 2025 lalu, pemerintah melalui Satgas PHKE yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2025, telah mengumumkan pelaksanaan 18 proyek prioritas hilirisasi sumber daya alam tahap pertama.
  • Proyek-proyek tersebut meliputi delapan proyek hilirisasi minerba, dua proyek transisi energi, dua proyek ketahanan energi, tiga proyek hilirisasi pertanian, serta tiga proyek di sektor kelautan dan perikanan.
  • Nilai total investasinya mencapai USD 38,63 miliar atau setara Rp618,13 triliun, dengan potensi menciptakan hampir 275 ribu lapangan kerja langsung dan tidak langsung di seluruh Indonesia.

PELAKITA.ID – Hilirisasi bukan sekadar istilah ekonomi yang tengah populer di ruang kebijakan nasional. Ia adalah arah baru perjalanan bangsa — sebuah strategi besar untuk menegakkan kedaulatan, menyiapkan masa depan industri, dan membangun fondasi ketahanan energi yang berkeadilan.

Inilah gagasan besar yang kini diusung melalui sharing pengalaman dan Dialog Hilirisasi dan Ketahanan Energi yang diselenggarakan oleh Satuan Tugas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional (PHKE) bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin dan Unhas TV, dalam rangkaian Roadshow Hilirisasi SDA dan Energi untuk Masa Depan.

Pada 23 Mei 2025 lalu, pemerintah melalui Satgas PHKE yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2025, telah mengumumkan pelaksanaan 18 proyek prioritas hilirisasi sumber daya alam tahap pertama.

Proyek-proyek tersebut meliputi delapan proyek hilirisasi minerba, dua proyek transisi energi, dua proyek ketahanan energi, tiga proyek hilirisasi pertanian, serta tiga proyek di sektor kelautan dan perikanan.

Nilai total investasinya mencapai USD 38,63 miliar atau setara Rp618,13 triliun, dengan potensi menciptakan hampir 275 ribu lapangan kerja langsung dan tidak langsung di seluruh Indonesia.

Namun, sebagaimana ditegaskan oleh para pemangku kepentingan, hilirisasi bukan hanya tentang investasi dan industri.

Lebih jauh, ia merupakan gerakan peradaban — upaya membangun kesadaran bahwa kemajuan ekonomi tidak boleh lepas dari kesejahteraan sosial dan keberlanjutan lingkungan.

Karena itu, penting bagi generasi muda, terutama di kampus-kampus, untuk memahami hilirisasi bukan sebagai jargon pembangunan, melainkan sebagai pengetahuan kritis yang dapat diuji, diperdebatkan, dan dikembangkan.

Mengapa dialog publik ini penting

Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam memastikan bahwa arah hilirisasi benar-benar berpihak pada kepentingan bangsa. Di ruang kelas, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori tentang energi dan industri, tetapi juga menumbuhkan empati terhadap realitas sosial dan lingkungan di sekitarnya.

Melalui dialog publik yang akan digelar pada tanggal 7 November 2025 ini, Unhas diharapkan menjadi ruang dialog strategis antara pengetahuan akademik dan dinamika kebijakan publik.

Di sanalah gagasan-gagasan besar tentang kemandirian energi, transformasi industri, dan keadilan sosial dapat dipertemukan.

Dialog semacam ini penting agar mahasiswa dapat melihat bahwa hilirisasi adalah investasi masa depan bangsa, bukan proyek jangka pendek.

Tujuan: Membangun Generasi Kritis dan Berdaya Saing

Kegiatan ini dirancang bukan semata untuk memperkaya wawasan, tetapi juga untuk mempersiapkan generasi muda sebagai calon intelektual dan pengambil kebijakan masa depan.

Melalui pendekatan lintas disiplin, peserta diajak memahami hubungan erat antara hilirisasi, transisi energi, ekonomi nasional, dan keberlanjutan lingkungan.

Rilis yang diterima Pelakita menyebutkan, dialog publik ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman konseptual dan praktis tentang hilirisasi dan ketahanan energi. Menyebarkan narasi kritis berbasis data dan riset lintas sektor.

Ketiga, membangun forum kolaboratif antara akademisi, mahasiswa, pelaku industri, dan masyarakat sipil, menanamkan kesadaran bahwa hilirisasi adalah strategi jangka panjang untuk kemandirian bangsa, dan menjaring masukan dari komunitas akademik terhadap peta jalan kebijakan hilirisasi nasional.

Format dan Pelaksanaan

Kegiatan ini dikemas dalam format kuliah tamu atau dialog terbuka, dengan struktur yang menghubungkan isu nasional dan konteks lokal.

Rangkaian acaranya meliputi pembukaan oleh universitas tuan rumah. Paparan narasumber dari Tim Ahli Satgas PHKE, dosen Unhas, pelaku industri, dan masyarakat sipil lalu masuk ke diskusi panel dan sesi interaktif bersama mahasiswa dan akademisi.

Setiap sesi berdurasi 3–4 jam dan diikuti oleh sekitar 150 peserta dari berbagai fakultas: ekonomi, teknik, lingkungan, kebijakan publik, dan disiplin lainnya. Kegiatan ini juga melibatkan jurnalis, organisasi masyarakat, serta pelaku UMKM sebagai bagian dari ekosistem hilirisasi.

Seluruh kegiatan akan disiarkan langsung melalui Unhas TV, didokumentasikan secara profesional, dan disebarluaskan melalui kanal media sosial resmi universitas agar pesan dan semangat hilirisasi dapat menjangkau khalayak luas.

Rilis dari panitia juga menyebutkan kegiatan ini lebih dari sekadar seminar, kegiatan ini adalah gerakan pengetahuan — sebuah upaya untuk menyalakan lentera kesadaran dari kampus timur Indonesia.

Di sinilah ide hilirisasi menemukan maknanya: bahwa kekuatan bangsa tidak hanya terletak pada sumber daya alam yang melimpah, tetapi juga pada manusia yang berpikir, berinovasi, dan berani mengambil peran.

Narasumber dan Moderator

Kegiatan ini menghadirkan dua tokoh utama yaitu Prof. Ahmad Erani Yustika, S.E., M.Sc., Ph.D., Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, yang akan menyampaikan pandangan strategis mengenai arah hilirisasi sumber daya alam dan energi di Indonesia.

Kedua, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., Rektor Universitas Hasanuddin, yang akan memberikan perspektif akademik dan kebijakan pembangunan berkelanjutan dari kawasan timur Indonesia.

Diskusi akan dipandu oleh moderator Dr. Rizal Idrus, akademisi Unhas, bersama dua pembahas utama yaitu Prof. Didik Junaidi Rachbini, M.Sc., Ph.D. (Rektor Universitas Paramadina dan Tim Ahli Satgas PHKE) dan Prof. Dr. Eng. Adi Maulana, S.T., M. Phil. (Wakil Rektor IV Unhas)

Sementara itu, jajaran narasumber terdiri dari berbagai latar belakang untuk memperkaya perspektif hilirisasi dari sisi kebijakan, masyarakat, industri, dan UMKM, yaitu Kamaruddin Azis dari The COMMIT Foundation yang banyak berkecimpung di dunia CSR. Pengalaman teranyar adalah sebagai Tenaga Ahli pada PPM SDGs dan PKPM Terfokus PT Vale di Luwu Timur dan juga bekerja pada sejumlah proyek energi bersih seperti GIZ Eanting hingga GIZ Felicity.

Lalu ada Samsang Syamsir, S.S., M.M, Koordinator Forum Informasi dan Komunikasi Organisasi Nonpemerintah Sulawesi Selatan yang banyak mendorong partisipasi kelompok rentan, perempuan dan disabilitas (GEDSI) ke dalam kerangka pembangunan daerah.

Hadir pula Muhammad Nasruddin Nakir pelaku UMKM di Lingkar Tambang Luwu Timur yang telah eksis sejak lama, bermitra dengan perusahaan tambang dan perbankan pemerintah.

Diskusi ini diharapkan menjadi ruang kolaboratif untuk merumuskan strategi penguatan kedaulatan energi dan sumber daya alam melalui hilirisasi yang inklusif, berbasis pengetahuan, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat di kawasan timur Indonesia.

Acara akan disiarkan langsung melalui kanal Unhas TV, serta dapat diikuti secara daring melalui berbagai platform media sosial Unhas TV: YouTube, Facebook, Instagram, TikTok, dan X (@unhastvofficial).

Redaksi Pelakita