Makassar Tuan Rumah ISEW 2025 Regional, ESDM: Kontribusi Sulawesi 2,14 GW dari EBT

  • Whatsapp
Direktur Aneka EBT kementerian ESDM (dok: Istimewa)

Ditambahkan, Sulawesi juga menjadi lokasi strategis bagi industri smelter yang membutuhkan energi bersih dalam jumlah besar. Dengan dukungan rencana Smart Grid PLN, Sulawesi menargetkan tambahan 7,7 GW kapasitas EBT hingga 2034.

PELAKITA.ID – Kegiatan ISEW Goes Regional ini merupakan bagian dari Indonesia Sustainable Energy Week yang dimulai sejak tahun 2022. Tahun ini, kegiatan serupa telah digelar di Samarinda dan kini di Sulawesi Selatan, sebagai bentuk pelokalan momentum dialog energi ke daerah.

Pelakita hadir dalam acara yang luar biasa ini.

Direktur Aneka Enerbi Baru Terbarukan, Andriah Feby Misna memulai acara dengan menjelaskan bahwa ISEW menjadi wadah bagi para pemangku kepentingan untuk membahas kebijakan, teknologi, investasi, inovasi, dan aspek sosial transisi energi.

Diungkapkan beberapa hasil penyelenggaraan sebelumnya menunjukkan bahwa transisi energi berkelanjutan membutuhkan dukungan kebijakan fiskal, pendanaan iklim, dan pertumbuhan industri EBT nasional.

”Kedua, kolaborasi pusat dan daerah sangat penting agar kebijakan energi selaras. Ketiga, efisiensi energi merupakan solusi awal dan murah untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Keempat, teknologi smart grid penting untuk mengakomodasi penetrasi energi terbarukan,” ucapnya.

”Kelima, pilot project di sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata membuktikan kontribusi besar EBT terhadap dekarbonisasi. Keenam, proses pensiun dini PLTU harus mempertimbangkan aspek sosial, termasuk kesehatan dan perlindungan kerja,” tambahnya.

Feby berharap melalui kegiatan ini, diharapkan muncul rekomendasi baru untuk ISEW berikutnya tahun 2026.

Pemerintah berkomitmen mempercepat transisi menuju ketahanan dan kemandirian energi sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Kedua, yakni mewujudkan kemandirian energi, pangan, dan air. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya energi terbarukan: surya, angin, air, laut, panas bumi, bioenergi, hingga nuklir,” jelas Feby.

Disebutkan, Sulawesi menjadi pionir energi angin dengan keberadaan PLTB Sidrap dan Jeneponto, dua wind farm pertama di Indonesia.

“ Namun ketergantungan terhadap energi fosil masih tinggi. Karena itu, Indonesia berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca dan menjaga suhu bumi agar tidak naik lebih dari 1,5°C pada tahun 2030,” sebutnya.

Dekarbonisasi menjadi kunci untuk beralih dari energi berbasis karbon ke energi rendah karbon. Indonesia menargetkan Net Zero Emission tahun 2060 atau lebih cepat, dengan kebijakan energi nasional yang sudah diarahkan ke sana.

Feby mengatakan, potensi energi terbarukan nasional mencapai 3,6 terawatt, namun baru sebagian kecil yang dimanfaatkan. Dua tantangan besar yang dihadapi adalah mengurangi emisi dari pembangkit listrik fosil melalui penghentian bertahap dan kedua, meningkatkan kapasitas energi terbarukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah telah menyiapkan peta jalan transisi energi yang komprehensif, dengan strategi utama seperti pengembangan EBT secara masif (surya, hidro, angin, panas bumi, hidrogen, dan nuklir).

Lalu penghentian PLTU berbasis batu bara, penggunaan teknologi CCS/CCUS dan pemanfaatan kendaraan listrik, biofuel, dan efisiensi energi.

”Hingga semester I tahun 2025, kapasitas terpasang energi terbarukan mencapai 15,2 GW, dengan tambahan 876 MW dari PLTA, PLTS, dan PLTP. Kontribusi Sulawesi mencapai 2,14 GW, didominasi hidro dan angin,” ungkap Feby.

Ditambahkan, Sulawesi juga menjadi lokasi strategis bagi industri smelter yang membutuhkan energi bersih dalam jumlah besar. Dengan dukungan rencana Smart Grid PLN, Sulawesi menargetkan tambahan 7,7 GW kapasitas EBT hingga 2034.

Melalui forum ini, diharapkan lahir kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat untuk mempercepat transisi energi yang adil dan berkelanjutan.

Pemerintah mengapresiasi peran aktif semua pihak — pemerintah daerah, GIZ, narasumber, moderator, dan peserta. Ke depan, peran daerah sangat penting dalam penyediaan lahan, kemudahan izin, dan penerimaan masyarakat terhadap proyek energi bersih.

Mari bersama memperkuat sinergi pusat–daerah dan kolaborasi pentahelix menuju kemandirian energi nasional dan Net Zero Emission 2060.

Sebagai penutup, Feby membacakan pantun:

“Angin Mamiri liriknya indah,
Iramanya sahdu lambang kerinduan.
Potensi EBT memberi berkah,
Kita wujudkan transisi energi jadi kenyataan.”

Penulis Denun