Kapus Kelistrikan Unhas Paparkan 3 Pilar Optimisasi Transisi Energi Terbarukan

  • Whatsapp
Kapus Kelistrikan Unhas, Prof Syafaruddin M.Eng (dok: Istimewa)

Paparan Prof. Syafaruddin M.Eng, Kepala Pusat Kelistrikan Unhas, dalam Dialog Energi Sulawesi 2025

PELAKITA.ID – Dalam suasana penuh semangat di forum Dialog Energi Sulawesi, Prof. Syafaruddin, M.Eng membuka paparannya dengan menyebut bahwa hari itu ia akan “menguliahkan” peserta — bukan sekadar berbagi pandangan, tetapi mengajak untuk memahami dasar teoretis dan praksis dari optimisasi energi, khususnya dalam konteks transisi menuju energi terbarukan.

“Optimisasi,” ujarnya, “adalah proses menemukan solusi terbaik dari suatu masalah secara sistematis dengan memilih nilai terbaik dari himpunan variabel yang terbatas.”

Dalam konteks keteknikan, ia menjelaskan, setiap sistem memiliki batas: suhu, kapasitas generator, hingga putaran mesin. Tugas optimisasi adalah menemukan titik terbaik di antara batas-batas tersebut — untuk memaksimalkan keluaran yang diinginkan dan meminimalkan yang tidak diinginkan.

Menurutnya, di setiap proses optimisasi selalu ada tiga komponen kunci: fungsi objektif, variabel, dan batasan (constraints). Fungsi objektif menggambarkan apa yang ingin dicapai — apakah memaksimalkan efisiensi, keuntungan, atau keandalan sistem — sementara variabel menjadi aspek yang diubah untuk mencapai hasil terbaik.

Namun semua itu harus tunduk pada batasan, baik yang bersifat teknis, ekonomi, maupun logistik.

“Dalam pengoperasian generator,” lanjutnya, “tujuan kita bisa jadi adalah meminimalkan biaya, tetapi pada saat yang sama kita harus memastikan keseimbangan antara daya pembangkit dan beban listrik tetap terjaga.”

Membawa Prinsip Optimisasi ke Dunia Energi Terbarukan

Dari tataran teoritis, Prof. Syafaruddin membawa peserta memasuki ranah praktis: bagaimana optimisasi diterapkan dalam sistem energi terbarukan.

Ia menegaskan bahwa Sulawesi memiliki sumber energi bersih yang melimpah — dari air, angin, surya, biomassa, hingga panas bumi. Namun, keberlimpahan itu tidak otomatis menjamin efisiensi dan kemandirian energi.

Dengan mencontohkan dua Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Sulawesi Selatan — Sidrap berkapasitas 75 MW dan Jeneponto 72 MW — ia menekankan pentingnya pendekatan optimisasi dalam mengatur kombinasi berbagai sumber energi.

Salah satu strategi yang ia sebut krusial adalah pengembangan sistem hibrida antara energi terbarukan dan penyimpanan energi (energy storage).

“Di Sulawesi Selatan,” katanya, “kita belum punya perusahaan yang berinvestasi khusus dalam fasilitas penyimpanan energi.

Padahal, potensi pemanfaatan energi buang dengan teknologi storage ini sangat besar.” Ia menambahkan, peluang investasi di bidang ini terbuka luas, baik untuk penyimpanan energi skala besar maupun untuk mendukung sistem kendaraan listrik.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya microgrid system — sistem kelistrikan berskala kecil yang dapat memasok energi ke wilayah-wilayah terpencil secara mandiri, namun tetap bisa terkoneksi dengan jaringan nasional (grid).

Sistem semacam ini, menurutnya, merupakan bentuk nyata dari optimisasi: menyesuaikan desain energi dengan potensi dan kebutuhan lokal.

Tiga Pilar Optimisasi Energi: Teknis, Ekonomi, dan Lingkungan

Prof. Syafaruddin menjelaskan bahwa dalam setiap perencanaan sistem energi, terdapat tiga dimensi optimisasi yang harus berjalan beriringan.

Pertama adalah optimisasi teknis, yang menuntut keandalan (continuity of supply) dan stabilitas sistem. Energi terbarukan seperti angin dan surya, katanya, sangat fluktuatif. Karena itu, dibutuhkan perencanaan cerdas agar sistem tetap stabil meskipun sumber energinya berubah-ubah.

Kedua adalah optimisasi ekonomi, yakni menyeimbangkan biaya investasi, operasi, dan pemeliharaan agar sistem tetap efisien dalam jangka panjang.

Dan ketiga, optimisasi lingkungan, memastikan bahwa pemanfaatan energi baru dan terbarukan juga mengurangi dampak negatif terhadap ekosistem dan sosial.

“Semua faktor ini,” tegasnya, “harus dipertimbangkan secara bersamaan. Tidak ada gunanya energi yang murah tapi tidak stabil, atau sistem yang efisien namun merusak lingkungan.”

Kontribusi Akademik Unhas dalam Transisi Energi

Sebagai lembaga pendidikan tinggi, Universitas Hasanuddin, kata Prof. Syafaruddin, berkomitmen untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam mempercepat transisi menuju energi bersih.

Ia menyebut sejumlah perangkat lunak dan metode yang digunakan di Unhas untuk mendukung riset dan perencanaan energi, seperti Balmorel, HOMER, dan LEAP — alat simulasi yang digunakan secara luas oleh Kementerian ESDM dan Bappenas untuk memodelkan skenario energi nasional, termasuk proyeksi menuju Net Zero Emission 2060.

Selain pemodelan, tim peneliti Unhas juga aktif mengembangkan algoritma komputasi dan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung proses optimisasi energi.

Di bidang riset, lembaga penelitian Unhas telah berkontribusi pada berbagai studi kelayakan pembangkit di kawasan Indonesia Timur serta melakukan kajian penyambungan jaringan listrik.

Kolaborasi internasional juga terus diperluas, termasuk kerja sama dengan City High College of Technology Dubai dalam pengembangan energi ramah lingkungan, kendaraan listrik, dan sistem smart city.

Menariknya, ia menutup paparan dengan berbagi pembelajaran dari luar negeri — khususnya dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, yang memiliki fasilitas pembangkit surya berkapasitas 61 MW DC dan 180.000 panel, dikelola sepenuhnya oleh universitas tanpa modal awal.

“Model ini bisa jadi inspirasi,” ujarnya. “Universitas diberi lahan oleh pemerintah, sementara investasi berasal dari mitra swasta, dan universitas mendapat keuntungan dari sistem pengukuran energi,” ujarnya.

Sebelum menutup, Prof. Syafaruddin menegaskan pentingnya kesiapan sistem kelistrikan nasional untuk membeli dan mengelola energi dari sumber terbarukan, terutama yang dihasilkan oleh inisiatif kampus dan komunitas.

“Kita perlu dukungan PLN,” katanya, “karena sistem energi terbarukan seperti ini tidak memiliki momen inersia. Maka diperlukan pembangkit yang mampu menyesuaikan dinamika sistemnya.”

Dengan gaya khas akademisi yang memadukan logika, data, dan inspirasi, Prof. Syafaruddin mengakhiri paparannya dengan pesan yang sederhana namun dalam: “Universitas tidak boleh tinggal diam. Kita harus menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar pengamat.”